Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Loading

Kaidah dan Pemakaian Bahasa

Sinetron Punya Andil Rusak Bahasa

Tayangan Sinetron (sinema elektronik) di sejumlah televisi swasta, diperkirakan memiliki andil dalam merusak Bahasa Indonesia. Hal itu terjadi karena di dalam dialognya, banyak menggunakan istilah-istilah asing serta bahasa pasaran (bahasa gaul).

"Kondisi ini perlu dicermati, mengingat hal ini terjadi justru di tengah upaya pemerintah untuk membangun identitas diri sebagai suatu bangsa."

Padahal, salah satu identitas diri bangsa adalah bahasa nasional yang kita akui sebagai media pemersatu bangsa," kata Kepala Kantor Bahasa Kalimantan Timur, Pardi Suratno, di Samarinda, Rabu. selengkapnya... about Sinetron Punya Andil Rusak Bahasa

Efek Jera dengan Bahasa Gamblang

"Sebagian besar balita di dusun itu menderita gizi buruk." Demikian kalimat yang dikutip dari sebuah berita di sebuah surat kabar. Sepertinya, tak ada yang salah dengan kalimatnya. Juga tak ada yang salah dengan penulis beritanya. Hanya ada istilah yang saat ini jadi sering digunakan, yaitu "gizi buruk". Maksudnya, busung lapar atau balita yang menderita sakit karena kurang makan, kurang gizi, kurang vitamin, pokoknya serba kuranglah. Maunya sih memperhalus bahasa, mungkin penulisnya ingin agar terlihat lebih terpelajar. selengkapnya... about Efek Jera dengan Bahasa Gamblang

Kesalahan Berbahasa

Dalam pemakaian bahasa Indonesia, termasuk bahasa Indonesia ragam ilmiah, sering dijumpai penyimpangan dari kaidah yang berlaku sehingga memengaruhi kejelasan pesan yang disampaikan. Penyimpangan/kesalahan umum dalam berbahasa Indonesia dapat diklasifikasikan sebagai berikut. selengkapnya... about Kesalahan Berbahasa

EYD Dan Susahnya Berbahasa Indonesia

Penggunaan EYD serta berbahasa Indonesia yang baik dan benar, sampai kini memang masih terkesan carut marut. Lihat saja misalnya istilah "telop" yang kerap muncul di layar televisi kita, selain banyak contoh lain yang menunjukkan betapa kerapnya media massa menggunakan ejaan yang salah kaprah. Kesalahan yang paling banyak serta mencolok, adalah pemakaian awalan "di" dan "ke", serta menentukan kata mana yang harus digabung dan mana pula yang boleh dipisahkan. Sebab bagaimana pun, antara "dibalik" dan "membalik" memiliki makna yang berbeda. selengkapnya... about EYD Dan Susahnya Berbahasa Indonesia

Edisi Publikasi: 
Kolom Publikasi: 

Harapan Pada Bahasa

Jika pertanyaan Shakespeare mengenai kandungan suatu nama dijawab di Indonesia, dapat dipastikan bahwa jawabannya panjang lebar. Memang, baik nama orang maupun nama tempat (toko, sekolah, dan sebagainya), dipilih dengan sangat saksama di Nusantara. Keadaan ini disebabkan adanya harapan bahwa suatu nama akan membawa berkah jika dipilih dengan matang. Itu sebabnya, penyanyi dangdut yang lagi terkenal bernama "Nurjannah" dan bukan "Narjunub", misalnya, dan toko sembako terdekat dinamakan "Makmur" dan bukan "Malang". Ditambah lagi, tetangga kita bernama "Pak Slamet" dan bukan "Pak Sakit", sedangkan perusahaan bus antarkota dinamakan "Langsung Jaya" dan bukan "Langsung Bahaya". selengkapnya... about Harapan Pada Bahasa

Engdonesian

Bahasa Indonesia, seperti bangsa Indonesia, sejak dari sono-nya merupakan gado-gado alias campuran atawa indo bin blasteran, binti hibrid. Dalam bahasa kita, mengalir lancar istilah Melayu, Jawa, India, China, Arab, Portugis, Belanda, Inggris, dan seterusnya. Sama sekali ini bukan cela, noda, atau bencana. Tapi juga bukan barang unik, atau berkah istimewa. Itu ciri milik semua bahasa dan bangsa mutakhir.

Edisi Publikasi: 
Kolom Publikasi: 

Bahasa yang Baik dan Benar

Jika bahasa sudah baku atau standar, baik yang ditetapkan secara resmi lewat surat putusan pejabat pemerintah atau maklumat, maupun yang diterima berdasarkan kesepakatan umum dan yang wujudnya dapat kita saksikan pada praktik pengajaran bahasa kepada khalayak, maka dapat dengan lebih mudah dibuat pembedaan antara bahasa yang benar dengan yang tidak. Pemakaian bahasa yang mengikuti kaidah yang dibakukan atau yang dianggap baku itulah yang merupakan bahasa yang benar. selengkapnya... about Bahasa yang Baik dan Benar

Edisi Publikasi: 
Kolom Publikasi: 

Di Manakah Di?

Coba kita memasuki Jalan Diponegoro. Di depan Taman Surapati akan tampak sepetak tanah yang rapat dikelilingi pagar, dengan sekalimat pemberitahuan:

DI SINI AKAN DI BANGUN.

Si penulis pemberitahuan itu pasti tak tahu ada dua macam "di" dalam kalimatnya yang seharusnya berbeda. "Di" yang pertama menunjukkan tempat -- yang harus dituliskan terpisah dari kata yang menunjukkan tempat itu. "Di" yang kedua merupakan sebuah awalan untuk sebuah kata kerja pasif -- yang harus merapat pada kata yang diawalinya.

Bedanya? Kita tahu, "di langgar" (artinya: di surau) tidak sama dengan "dilanggar" (artinya: ditabrak). selengkapnya... about Di Manakah Di?

Edisi Publikasi: 
Kolom Publikasi: 

Genit

Memilih kata di dalam berbahasa pada praktiknya tidak mudah. Akan selalu ada kata yang terasa kurang persis mewakili suatu maksud. Namun juga, akan selalu ada godaan bergenit-genit, memamerkan berbagai model gaya. Hal ini dapat di lihat dalam penggunaan kata. Ada penulis yang tergoda untuk lebih mengutamakan efek -- entah kemerduan bunyi, kesan intelektual, atau cuma ingin beda sendiri -- daripada keperluan menyampaikan pengertian yang jelas. Hal ini biasanya diusahakan melalui pemakaian kata-kata yang pelik-mungkin bentuk arkais [berhubungan dengan masa dahulu atau berciri kuno, tua; tidak lazim dipakai lagi (tentang kata); ketinggalan zaman, Red], mungkin dicomot dari bahasa asing, atau mungkin pula yang terkesan dibuat-buat, seperti: "dicermatmaknai", "berjumpa-kenal". selengkapnya... about Genit

Kreatif Dalam Memakai Kata/Istilah Asing Dalam Bahasa Indonesia

Beberapa waktu belakangan ini, ada sebuah kata yang dapat dikatakan populer atau dikenal luas dalam komunikasi resmi maupun sehari-hari. Kata yang dimaksud adalah kata "event", yang kemungkinan besar marak sebagai akibat dari munculnya sejumlah 'event organizer' di Indonesia pada tahun 1990-an, hingga kini. Kenyataan ini sesungguhnya dapat dikatakan sebagai sesuatu yang wajar-wajar saja sekiranya kata event yang mempunyai makna (1) 'peristiwa, kejadian', (2) 'pertandingan, perlombaan', dan (3) itu diposisikan dan dipakai oleh banyak orang sebagaimana mereka memanfaatkan kata-kata asing semacam computer, cyber, internet, dan go public. selengkapnya... about Kreatif Dalam Memakai Kata/Istilah Asing Dalam Bahasa Indonesia

Pages


Subscribe to Kaidah dan Pemakaian Bahasa