Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Kaidah dan Pemakaian Bahasa

Penggunaan dan Tata Tulis Ejaan: Pelafalan, Pemakaian Huruf, dan Pemisahan Suku Kata

Dasar yang paling baik untuk melambangkan bunyi ujaran atau bahasa adalah satu bunyi ujaran yang membedakan arti dilambangkan dengan satu lambang tertentu. Lambang yang dipakai untuk mewujudkan bunyi ujaran itu biasa disebut huruf. Dengan huruf-huruf itulah manusia dapat menuliskan gagasan yang semula hanya disampaikan secara lisan. selengkapnya... about Penggunaan dan Tata Tulis Ejaan: Pelafalan, Pemakaian Huruf, dan Pemisahan Suku Kata

Betulkah Bentuk Mengkritisi?

Menggunakan bahasa secara tepat dan benar tidaklah mudah. Tentu saja diperlukan pengetahuan tentang bahasa itu melalui pelajaran khusus. Pengetahuan berbahasa secara alami saja tidak cukup. Di sekolah, guru mengajarkan kepada murid-muridnya bagaimana bahasa yang benar tentang makna kata, bentuk kata, dan susunan kata dalam kalimat. [block:views=similarterms-block_1] selengkapnya... about Betulkah Bentuk Mengkritisi?

Unsur-Unsur Tulisan yang Efektif (Tata Bahasa: Kaidah DM)

Sasaran kita adalah bagaimana membuat unsur-unsur tulisan itu menjadi efektif. Kalau unsur-unsur tulisan itu efektif, maka dengan sendirinya tulisan itu menjadi efektif. Hal-hal yang harus diperhatikan mencakup kata yang efektif, kalimat yang efektif, dan alinea yang efektif. Mari kita bahas satu per satu unsur tersebut. selengkapnya... about Unsur-Unsur Tulisan yang Efektif (Tata Bahasa: Kaidah DM)

Kritik Sastra

  1. Pengertian Kritik Sastra

  2. Istilah "kritik" (sastra) berasal dari Bahasa Yunani yaitu "krites" yang berarti "hakim". "Krites" sendiri berasal dari "krinein" yang berarti "menghakimi"; "kriterion" yang berarti "dasar penghakiman" dan "kritikos" berarti "hakim kesusastraan". Kritik sastra dapat diartikan sebagai salah satu objek studi sastra (cabang ilmu sastra) yang melakukan analisis, penafsiran, dan penilaian terhadap teks sastra sebagai karya seni. selengkapnya... about Kritik Sastra

Menyoal Etika Menulis Di Media Massa

Ketika rezim Orde Baru berkuasa, kebebasan pers dibungkam. Pemerintah bersikap antikritik. Segalanya harus berjalan sesuai keinginan pemerintah -- yang direpresentasikan oleh sosok Soeharto. Mereka yang membangkang pasti diberedel aparat. Nasib Tempo, misalnya. Diberedel karena terlalu nyaring "menyalak" pada pemerintah. selengkapnya... about Menyoal Etika Menulis Di Media Massa

Fungsi Bahasa Indonesia secara Politis

Secara politis, fungsi bahasa Indonesia dibagi menjadi dua, yaitu sebagai bahasa nasional dan bahasa negara. Kedua fungsi tersebut dilandasi oleh landasan filosofis dan yuridis. Landasan filosofis bahasa Indonesia terekam dalam baris ke tiga Sumpah Pemuda yang berbunyi "Kami Putra dan Putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia". selengkapnya... about Fungsi Bahasa Indonesia secara Politis

Unggah, Unggah Unggih? Sebuah Usulan Terobosan Baru

Ada kata baru dalam perbendaharaan bahasa Indonesia: unggah -- yang berarti upload. Kata ini untuk menimpali "unduh" -- yang berarti download yang muncul lebih dulu. Saya tidak tahu persis kapan sebenarnya "unggah" masuk ke dalam bahasa kita. Mungkin sebelumnya ada orang yang menggunakannya. Akan tetapi, yang jelas Kompas menggunakan kata tersebut. Kemunculan kata ini tampaknya dipicu oleh beredarnya sebuah video, yang tiba-tiba membuat orang berkepentingan untuk menemukan padanan upload dalam bahasa Indonesia. Ditemukanlah unggah -- yang secara etimologi, menurut saya, mendudukkan seseorang (biasanya anak kecil) pada tempat duduk yang tinggi. selengkapnya... about Unggah, Unggah Unggih? Sebuah Usulan Terobosan Baru

Ragam Tutur dan Kesantunan

Seorang mahasiswa di Semarang yang tidak mau disebut namanya, menanyakan bedanya rasa hormat dan rasa santun. Tingkat tutur atau "speech level" dalam masyarakat tutur Jawa, digunakan untuk menyampaikan rasa hormat ataukah rasa santun? Hadirnya bahasa ragam tutur yang sepertinya sekarang lebih banyak berkembang dan lebih banyak diminati daripada bahasa baku, harus dipahami sebagai fenomena bahasa yang bagaimana? Bagaimana gambaran perkembangan bahasa di masa mendatang, jika dikaitkan dengan fenomena bahasa itu? Mohon penjelasan!

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dijelaskan bahwa salah satu makna dari kata "hormat" adalah takzim, sopan. Demikian pula kata "sopan", salah satu maknanya adalah hormat, takzim. Kata santun, memiliki makna sopan dan halus budi bahasa atau tingkah lakunya. Sementara kata "takzim", memiliki makna amat hormat dan sopan. Dengan mencermati makna-makna tersebut, dapat disimpulkan bahwa di dalam sumber tersebut, tidak terlalu dibedakan pengertian hormat dan santun. selengkapnya... about Ragam Tutur dan Kesantunan

Ragam Bahasa Baku

Bahasa standar selamanya adalah bahasa tulisan.

Sutan Takdir Alisjahbana

Ragam bahasa baku itu merupakan ragam bahasa yang standar, bersifat formal. Tuntutan untuk menggunakan ragam bahasa seperti ini biasa ditemukan dalam pertemuan-pertemuan yang bersifat formal, dalam tulisan-tulisan ilmiah (makalah, skripsi, tesis, disertasi), percakapan dengan pihak yang berstatus akademis yang lebih tinggi, dan sebagainya. selengkapnya... about Ragam Bahasa Baku

Pages


Subscribe to Kaidah dan Pemakaian Bahasa