Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Loading

Kaidah dan Pemakaian Bahasa

"Berjualan" dan "Jualan"

Dari kata dasar "jual" dapat dibentuk kata "berjualan". Di samping itu, terdapat pula kata "jualan" yang sering diperlakukan sama dengan kata "berjualan". Benarkah penggunaan kata seperti itu?

Dalam praktik berbahasa sehari-hari, penggunaan kata "berjualan" dan "jualan" memang sering dipertukarkan. Contohnya, sebagai berikut.

1. Mereka sering berjualan pakaian di pinggir jalan.
2. Mereka sering jualan pakaian di pinggir jalan. selengkapnya... about "Berjualan" dan "Jualan"

Menyoal Etika Menulis Di Media Massa

Ketika rezim Orde Baru berkuasa, kebebasan pers dibungkam. Pemerintah bersikap antikritik. Segalanya harus berjalan sesuai keinginan pemerintah -- yang direpresentasikan oleh sosok Soeharto. Mereka yang membangkang pasti diberedel aparat. Nasib Tempo, misalnya. Diberedel karena terlalu nyaring "menyalak" pada pemerintah. selengkapnya... about Menyoal Etika Menulis Di Media Massa

Unggah, Unggah Unggih? Sebuah Usulan Terobosan Baru

Ada kata baru dalam perbendaharaan bahasa Indonesia: unggah -- yang berarti upload. Kata ini untuk menimpali "unduh" -- yang berarti download yang muncul lebih dulu. Saya tidak tahu persis kapan sebenarnya "unggah" masuk ke dalam bahasa kita. Mungkin sebelumnya ada orang yang menggunakannya. Akan tetapi, yang jelas Kompas menggunakan kata tersebut. Kemunculan kata ini tampaknya dipicu oleh beredarnya sebuah video, yang tiba-tiba membuat orang berkepentingan untuk menemukan padanan upload dalam bahasa Indonesia. Ditemukanlah unggah -- yang secara etimologi, menurut saya, mendudukkan seseorang (biasanya anak kecil) pada tempat duduk yang tinggi. selengkapnya... about Unggah, Unggah Unggih? Sebuah Usulan Terobosan Baru

Kritik Sastra

  1. Pengertian Kritik Sastra

  2. Istilah "kritik" (sastra) berasal dari Bahasa Yunani yaitu "krites" yang berarti "hakim". "Krites" sendiri berasal dari "krinein" yang berarti "menghakimi"; "kriterion" yang berarti "dasar penghakiman" dan "kritikos" berarti "hakim kesusastraan". Kritik sastra dapat diartikan sebagai salah satu objek studi sastra (cabang ilmu sastra) yang melakukan analisis, penafsiran, dan penilaian terhadap teks sastra sebagai karya seni. selengkapnya... about Kritik Sastra

Engdonesian

Bahasa Indonesia, seperti bangsa Indonesia, sejak dari sono-nya merupakan gado-gado alias campuran atawa indo bin blasteran, binti hibrid. Dalam bahasa kita, mengalir lancar istilah Melayu, Jawa, India, China, Arab, Portugis, Belanda, Inggris, dan seterusnya. Sama sekali ini bukan cela, noda, atau bencana. Tapi juga bukan barang unik, atau berkah istimewa. Itu ciri milik semua bahasa dan bangsa mutakhir.

Edisi Publikasi: 
Kolom Publikasi: 

Bahasa yang Baik dan Benar

Jika bahasa sudah baku atau standar, baik yang ditetapkan secara resmi lewat surat putusan pejabat pemerintah atau maklumat, maupun yang diterima berdasarkan kesepakatan umum dan yang wujudnya dapat kita saksikan pada praktik pengajaran bahasa kepada khalayak, maka dapat dengan lebih mudah dibuat pembedaan antara bahasa yang benar dengan yang tidak. Pemakaian bahasa yang mengikuti kaidah yang dibakukan atau yang dianggap baku itulah yang merupakan bahasa yang benar. selengkapnya... about Bahasa yang Baik dan Benar

Edisi Publikasi: 
Kolom Publikasi: 

Di Manakah Di?

Coba kita memasuki Jalan Diponegoro. Di depan Taman Surapati akan tampak sepetak tanah yang rapat dikelilingi pagar, dengan sekalimat pemberitahuan:

DI SINI AKAN DI BANGUN.

Si penulis pemberitahuan itu pasti tak tahu ada dua macam "di" dalam kalimatnya yang seharusnya berbeda. "Di" yang pertama menunjukkan tempat -- yang harus dituliskan terpisah dari kata yang menunjukkan tempat itu. "Di" yang kedua merupakan sebuah awalan untuk sebuah kata kerja pasif -- yang harus merapat pada kata yang diawalinya.

Bedanya? Kita tahu, "di langgar" (artinya: di surau) tidak sama dengan "dilanggar" (artinya: ditabrak). selengkapnya... about Di Manakah Di?

Edisi Publikasi: 
Kolom Publikasi: 

Genit

Memilih kata di dalam berbahasa pada praktiknya tidak mudah. Akan selalu ada kata yang terasa kurang persis mewakili suatu maksud. Namun juga, akan selalu ada godaan bergenit-genit, memamerkan berbagai model gaya. Hal ini dapat di lihat dalam penggunaan kata. Ada penulis yang tergoda untuk lebih mengutamakan efek -- entah kemerduan bunyi, kesan intelektual, atau cuma ingin beda sendiri -- daripada keperluan menyampaikan pengertian yang jelas. Hal ini biasanya diusahakan melalui pemakaian kata-kata yang pelik-mungkin bentuk arkais [berhubungan dengan masa dahulu atau berciri kuno, tua; tidak lazim dipakai lagi (tentang kata); ketinggalan zaman, Red], mungkin dicomot dari bahasa asing, atau mungkin pula yang terkesan dibuat-buat, seperti: "dicermatmaknai", "berjumpa-kenal". selengkapnya... about Genit

Kreatif Dalam Memakai Kata/Istilah Asing Dalam Bahasa Indonesia

Beberapa waktu belakangan ini, ada sebuah kata yang dapat dikatakan populer atau dikenal luas dalam komunikasi resmi maupun sehari-hari. Kata yang dimaksud adalah kata "event", yang kemungkinan besar marak sebagai akibat dari munculnya sejumlah 'event organizer' di Indonesia pada tahun 1990-an, hingga kini. Kenyataan ini sesungguhnya dapat dikatakan sebagai sesuatu yang wajar-wajar saja sekiranya kata event yang mempunyai makna (1) 'peristiwa, kejadian', (2) 'pertandingan, perlombaan', dan (3) itu diposisikan dan dipakai oleh banyak orang sebagaimana mereka memanfaatkan kata-kata asing semacam computer, cyber, internet, dan go public. selengkapnya... about Kreatif Dalam Memakai Kata/Istilah Asing Dalam Bahasa Indonesia

Bahasa Lokal Kita yang Direndahkan

Penulis : Lie Charlie

Dirjen Ditjen Bina Produksi Departemen pernah menembuskan sepucuk surat kepada Kepala Lembaga Bahasa Indonesia. Isinya berhubungan dengan penggunaan istilah "lokal" (yang dinilai bercitra kurang positif atau inferior) untuk memaknai produk buah-buahan hasil kebun Tanah Air sendiri. selengkapnya... about Bahasa Lokal Kita yang Direndahkan

Edisi Publikasi: 
Kolom Publikasi: 

Pages


Subscribe to Kaidah dan Pemakaian Bahasa