Ampersand (Tanda "&")

Kawan baik saya, Tony Rudyansjah, pada Juni lalu menerbitkan bukunya "Alam, Kebudayaan & Yang Ilahi". Buku itu menelusuri ihwal teori-teori sosial dan budaya dari masa klasik sampai modern. Sebagai perangkat ilmu, berbagai teori itu terus-menerus dikembangkan para ahli sehingga melahirkan turunan, pencabangan, dan pengingkaran terhadap teori induknya. Kata pengantar dan kutipan pendapat teman sejawat Tony di Program Pascasarjana Antropologi Universitas Indonesia, memperlihatkan arti penting buku itu sehingga tak perlu ditambah-tambah lagi di sini.

Kolom ini hanya ingin mempertanyakan soal kecil: Tepatkah penggunaan lambang ampersand (tanda "&") sebagai unsur judul? Faktanya, sejumlah buku memasang /&/ pada judulnya, semisal "Language, Culture & Society" tulisan Zdenek Salzmann. Buku-buku terbitan asing berpola sama dalam pemakaian /&/ sebagai unsur judul yakni hanya pada kulit depan; sedangkan pada halaman judul (bagian dalam), lambang /&/ diganti dengan kata "and". Pertimbangannya, mungkin, kulit depan biasanya dipandang sekilas oleh pembaca sehingga aspek artistik, termasuk pemanfaatan /&/ dirasa penting. Sementara itu, halaman judul haruslah terbaca utuh, karena itu dijauhkan dari lambang.

Pemasangan lambang /&/ pada judul buku terbitan Indonesia, asli ataupun terjemahan, termasuk milik Tony, umumnya konsisten di kulit depan dan halaman judul. Buku Taufik Abdullah, "Nasionalisme & Sejarah", memakai lambang ampersand itu pada judul luar-dalam. Kitab John Hartley, "Communication, Cultural and Media Studies: Key Concepts", cuma diterjemahkan anak judulnya, "Konsep Kunci"; sementara judul pokoknya tetap berbahasa Inggris, tetapi kata "and" dibelokkan jadi /&/ oleh penerjemah atau penerbit.

Jadi, penggunaan /&/ sebagai unsur judul tulisan memang tidak dilarang, namun juga tidak ditemukan anjuran untuk memakainya. Peneliti senior LIPI, Mien Rifai, dalam "Pegangan Gaya Penulisan, Penyuntingan dan Penerbitan Karya Ilmiah Indonesia" hanya menyarankan menghindari singkatan atau akronim dalam penulisan judul, kecuali yang telah dikenal benar oleh pembaca. Demikian pula, nama Latin makhluk yang umum dan tidak diragukan identitasnya (seperti kedelai, kopi, kelapa sawit, jagung) tak perlu dicantumkan dalam judul.

Tidak banyak ditemukan keterangan tentang penggunaan ampersand secara rinci. Dalam "Pedoman Umum Pembentukan Istilah" yang diterbitkan Pusat Bahasa, lambang /&/ itu didaftar sebagai tanda usaha "dagang" semata; bisa diperluas termasuk jasa. Banyak di antara kita paham bahwa lambang /&/ berarti "dan" atau "et" dalam bahasa Latin seperti terbaca pada nama perusahaan. Contoh: Geo Wehry & Co, pabrik bir dan makanan terkenal pada masa kolonial; atau Allen & Unwin, penerbit ternama dari Australia. Bisa juga digunakan nama diri kolektif seperti Franky & Jane, kakak-beradik penyanyi lagu balada Indonesia itu.

Demi kelancaran dan kejelasan pembacaan, judul karya humaniora, termasuk sastra, sebaiknya bersih dari lambang.

Bayangkan anehnya jika novel Ismail Marahimin, "Dan Perang pun Usai", diganti jadi "& Perang pun Usai". Untung pula, "The Old Man and the Sea" [karya] Ernest Hemingway tidak disulih jadi ... "Tua & Laut". [KOMPAS, 2 Sep 2011]

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Nama situs : Rubrik Bahasa
Alamat URL : http://rubrikbahasa.wordpress.com/
Penulis : Kasijanto Sastrodinomo
Tanggal akses : 15 Juni 2012