Murahnya Janji

Saya pernah menyimak iklan sebuah klinik transplantasi rambut yang terpasang di koran ini. Klinik itu menawarkan rambut kepada para orang botak dengan slogan: "Bukan janji, tapi pasti!" Di koran ini juga seorang pelanggan mengirim surat pembaca yang isinya mengeluhkan pelayanan salah satu bank nasional. Penawaran kartu kredit yang diterima penulis surat itu dianggap "hanya janji". Mari kita telusuri kata janji sesaat.

Kamus Besar Bahasa Indonesia memberi beberapa penjelasan atas kata itu, antara lain (1) perkataan yang menyatakan kesediaan dan kesanggupan untuk berbuat sesuatu, (2) persetujuan antara dua pihak (masing-masing menyatakan kesediaan dan kesanggupan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu), dan (3) syarat, ketentuan (yang harus dipenuhi). Dari penjelasan ini didapatkan pemahaman tentang kata "janji" sebagai suatu ikatan antara dua (atau lebih) pihak yang tidak dapat ditawar-tawar. Kita juga menyadari bahwa sebuah janji "harus dipenuhi" jika tetap mau disebut janji.

Kiranya waktu telah menggeser makna janji seperti dapat dilihat dari dua contoh di atas. Terlihat dengan cukup jelas pada iklan klinik transplantasi rambut bahwa sebuah janji dianggap berlawanan dengan sesuatu "yang pasti" karena jasa mereka memang "bukan janji, tapi pasti". Jika dibandingkan dengan pemahaman yang diberikan KBBI, maka makna janji sudah berubah 180 derajat.

Hal yang sama dapat ditangkap dari surat pembaca yang mengeluhkan pelayanan salah satu bank di atas. Harapan-harapan yang diberikan kepada calon nasabah dan pemegang kartu kredit tidak dipenuhi oleh bank yang bersangkutan, dan oleh karenanya dianggap "hanya janji". Jika kita memaknai kata janji menurut definisi KBBI yang ketiga, maka ucapan "hanya janji" itu dapat disamakan dengan ucapan "hanya ketentuan (yang harus dipenuhi)". Jelas sekali bahwa penulis surat pembaca itu tidak bermaksud begitu.

Dari dua contoh singkat ini dapat ditarik kesimpulan bahwa janji masa sekarang secara luas diartikan dan disamakan dengan janji kosong atau janji gombal. Janji gombal, menurut KBBI, adalah janji yang tidak ditepati.

Kira-kira mengapa kata janji sudah "turun pangkat" maknanya menjadi janji gombal? Dapat diduga bahwa masyarakat luas sudah kesal dan kecewa dengan semua "janji" yang dilontarkan kepadanya. Sejak Soeharto lengser, janji-janji reformasi dan (anak kandungnya) demokrasi diobral di sana-sini. Mulai dari segi keamanan dan perlindungan, sampai dengan masalah kesejahteraan dan perkembangan, kesemuanya dijanjikan para politikus dan tokoh masyarakat dalam proyek reformasi/demokrasi itu. Setelah delapan tahun reformasi, tidak aneh jika masyarakat menganggap sebagian besar janji-janji itu sebagai janji gombal belaka.

Dalam kampanye pemilihan presiden dua tahun lalu dicatat puluhan bahkan ratusan atau ribuan janji dari para calon presiden beserta wakil-wakil dan tim-tim sukses mereka. Kesejahteraan dan perkembangan dalam dunia pendidikan, pelayanan kesehatan, keuangan, keamanan, dan seterusnya dijanjikan calon-calon pemimpin itu secara terus-menerus. Sebagian besar pengamat politik menganggap janji-janji ini sering kelewatan, tidak berdasar, dan hanya trik politik agar menarik perhatian calon pencoblos. Sebagian pengamat pun menuntut agar janji-janji ini nanti ditagih jika presiden terpilih sudah menduduki kursi kepresidenan.

Orang-orang awam pada umumnya tidak menuntut demikian dan merasa tuntutan para pengamat keterlaluan. Kenapa? Karena mereka telah tahu bahwa janji itu sudah tidak berarti "syarat atau kententuan yang harus dipenuhi". Sebaliknya, mereka sadar bahwa sebuah janji sama nilainya dengan sebuah janji gombal, apalagi jika dilontarkan (poli)tikus berdasi. Berhubungan dengan ini, saya tidak berhenti memikirkan peraturan daerah dan undang-undang yang zaman kini muncul di mana-mana, yang konon bertujuan melindungi para perempuan dan menjunjung tinggi moralitas masyarakat. Apakah janji ini janji "beneran" ataukah janji gombal? Ataukah sama saja itu?

Diambil dari:

Judul buku : 111 Kolom Bahasa Kompas
Penulis : Andre Moller
Penerbit : Penerbit Buku Kompas, Jakarta 2006
Halaman : 304 -- 306