Kaidah dan Pemakaian Bahasa

Translasi Berdimensi Budaya

Oleh: Dr. R. Kunjana Rahardi, M.Hum.

Pernahkah Anda merasa sangat geli dan kemudian tertawa sendiri di dalam hati ketika mendengar seseorang menerjemahkan bentuk kebahasaan tertentu dalam bahasa Inggris ke bahasa Indonesia?

Demikian sebaliknya, terjemahan dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris. Kemudian, translasi frasa, translasi kata, translasi ungkapan, dan translasi idiom dalam bahasa-bahasa daerah yang ada di bumi Nusantara. selengkapnya... about Translasi Berdimensi Budaya

Setop Menulis Stop!

Oleh: Davida Dana

Seorang penulis memiliki beberapa sahabat yang harus ada ketika sedang menulis. Salah satu sahabat yang mutlak dimiliki penulis adalah kamus. Jika di Indonesia, maka yang mutlak ada yaitu Kamus Besar Bahasa Indonesia. Bersahabat dengan kamus dapat menambah perbendaharaan pemilihan kata agar kita dapat lebih variatif lagi ketika menulis. Dengan pemilihan kata yang tepat dan variatif, proses menulis pun bisa lebih menyenangkan. selengkapnya... about Setop Menulis Stop!

Luluhnya "P" Sehabis "Me-"

Oleh: Sally Pattinasarany

Akhir-akhir ini kita dibingungkan oleh kata mempunyai dan memunyai. Media massa pun dibuatnya begitu. Lihat artikel di Pikiran Rakyat, 18 Oktober 2002 (Pimpinan Harus Selalu Harmonis) dan terbitan 1 Juli 2002 (Memberantas Pencucian Uang). Pada artikel pertama, terdapat kalimat: "... meminta agar warga Bandung memunyai perhatian ...." Sedangkan pada artikel kedua, ada kalimat: "... sebaliknya, Singapura sendiri mempunyai semacam kebijakan ...." selengkapnya... about Luluhnya "P" Sehabis "Me-"

Masalah Peribahasa dan Pelesetan Bahasa

Saudari Thresnawati, siswi sebuah SMU di Jakarta, menyampaikan hal-hal berikut.

(1) Apa relevansi dan kegunaan mempelajari peribahasa yang sudah usang dan kuno itu?
(2) Mengapa peribahasa tidak berkembang, tetapi sepertinya juga tidak lenyap?
(3) Mengapa kata-kata dalam peribahasa tidak disesuaikan dengan perkembangan zamannya?
(4) Apa definisi idiom, jargon, dan slang? Mohon penjelasan!

Sdr. Murbandana, pemerhati bahasa, merasa jengkel dan kesal dengan pemakaian bahasa pelesetan. Alasannya, si lawan bicara harus sering kali terbengong-bengong sementara si pembicara merasa demikian bangga dengan pelesetannya yang menyulitkan lawan bicara. Artinya, dengan pelesetan bahasa, komunikasi tidak berjalan lancar. Mohon tanggapan? selengkapnya... about Masalah Peribahasa dan Pelesetan Bahasa

Kata Ulang

Diringkas oleh: Puji Arya Yanti

Kata ulang dapat dibahas dengan meninjaunya dari segi bentuk dan dari segi makna atau fungsi perulangan kata.

 

  1. Bentuk Kata Ulang
    Menurut bentuknya, kata ulang dapat dibagi sebagai berikut.

"Berjualan" dan "Jualan"

Dari kata dasar "jual" dapat dibentuk kata "berjualan". Di samping itu, terdapat pula kata "jualan" yang sering diperlakukan sama dengan kata "berjualan". Benarkah penggunaan kata seperti itu?

Dalam praktik berbahasa sehari-hari, penggunaan kata "berjualan" dan "jualan" memang sering dipertukarkan. Contohnya, sebagai berikut.

1. Mereka sering berjualan pakaian di pinggir jalan.
2. Mereka sering jualan pakaian di pinggir jalan. selengkapnya... about "Berjualan" dan "Jualan"

Mengapa "Utang" dan Bukan "Hutang"?

Kalau kita buka Kamus Besar Bahasa Indonesia, akan kita temukan kata "hutang" yang dirujuk pada kata "utang". Kata "hutang" tidak diberi makna. Yang diberi makna hanyalah "utang". Demikian juga, "himbau" dan "hisap" dirujuk pada "imbau" dan "isap". Itu berarti bahwa kata "utang", "isap", dan "imbau" lebih diutamakan pemakaiannya. selengkapnya... about Mengapa "Utang" dan Bukan "Hutang"?

Kasus Penulisan Tanda Baca: Dispasi atau Tidak?

Mungkin salah satu informasi yang paling banyak menghadirkan kesalahan ejaan adalah undangan. Kalau Anda melihat undangan-undangan rapat gereja, undangan pernikahan, undangan sunatan, dan lain-lain, kasus-kasus penulisan tanda baca menjadi sesuatu yang banyak dijumpai. Sebut saja, misalnya, penggunaan titik dua (:). Tak jarang ditemukan penulisan yang sebagai berikut. selengkapnya... about Kasus Penulisan Tanda Baca: Dispasi atau Tidak?

Peranan Bahasa yang Komunikatif dalam Literatur

Bahasa bukanlah kumpulan kata yang diambil secara sembarangan. Bahasa memiliki daya pukau bila disusun dan ditempatkan pada kedudukan yang komunikatif. Dia mampu "membakar", "menangis" dan "bergembira". Bahasa yang komunikatif adalah bahasa yang hidup.

"Pada mulanya adalah Firman. Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah." (Yohanes 1:1) Tuhan berbicara kepada manusia dengan "Kata" (Firman). Dengan Katalah Dia menjadikan segala sesuatu di dunia ini. Kata itu sendiri menjadi "daging" (Yohanes 1:14, terjemahan lama) dan berada di antara manusia. Tuhan menciptakan bahasa yang komunikatif untuk manusia, agar dengan demikian manusia dapat memahami dengan jelas tujuan Kata itu. Kata yang tidak bermakna menjadikan bahasa tidak bermakna dan membuat komunikasi tidak berlangsung dengan efektif. selengkapnya... about Peranan Bahasa yang Komunikatif dalam Literatur

Tanda Petik ("...") dan Tanda Petik Tunggal ("...")

Masih bingung dalam menggunakan tanda petik ("...") maupun tanda petik tunggal (`...`). Penjelasan di bawah ini semoga menjawab kebingungan Anda selama ini.

  1. Tanda petik ("...")

    1. Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lain. Misalnya:

      "Saya belum siap," kata Mira, "tunggu sebentar!"

Pages


Subscribe to Kaidah dan Pemakaian Bahasa