Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Kaidah dan Pemakaian Bahasa

Tanda Petik ("...") dan Tanda Petik Tunggal ("...")

Masih bingung dalam menggunakan tanda petik ("...") maupun tanda petik tunggal (`...`). Penjelasan di bawah ini semoga menjawab kebingungan Anda selama ini.

  1. Tanda petik ("...")

    1. Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lain. Misalnya:

      "Saya belum siap," kata Mira, "tunggu sebentar!"

Pesona Bahasa Komunikatif

Ingatkah Sahabat cerita Menara Babel dalam Perjanjian Lama? Kisah ini menggambarkan betapa kacau-balaunya manusia tanpa bahasa yang komunikatif. Barangkali, yang minta "batu" diberi "paku", yang minta "paku" justru diberi "batu". Maka patutlah kita syukuri dan manfaatkan pesona bahasa yang ada pada kita saat ini. Kita diberi alat komunikasi yang memungkinkan kita untuk berpikir, merangkai kata dan memahami sesama. Alangkah baiknya jika kita belajar untuk memakai anugerah ini secara komunikatif.

Dalamr edisi e-Penulis kali ini, kami mengajak Sahabat Penulis menggali lebih dalam tentang daya tarik bahasa yang komunikatif dalam artikel "Peranan Bahasa yang Komunikatif dalam Literatur". Selain itu, kami juga menyajikan tips "Memilih Kata" bagi Sahabat Penulis yang rindu bergelut dengan kata-kata. Jangan juga lewatkan tokoh penulis yang memunyai pengaruh luas dalam bidang penerjemahan, Eugene A. Nida. Semoga sajian edisi ini menambah wawasan Sahabat Penulis, selamat membaca!

Pimpinan Redaksi e-Penulis,
Truly Almendo Pasaribu selengkapnya... about Pesona Bahasa Komunikatif

Disapa "Anda" Malah Tersinggung

Suatu ketika di sebuah sekolah, seorang kepala sekolah dipusingkan oleh sebuah masalah. Satu orang tua siswa mengadu kepadanya tentang wali kelas anaknya. Dia merasa tersinggung oleh ucapan wali kelas itu. Kemudian kepala sekolah memanggil si wali kelas yang kebetulan guru bahasa Indonesia. Kepala sekolah merasa heran mengapa seorang guru bahasa Indonesia tidak terampil menggunakan bahasa yang baik sehingga membuat lawan bicaranya tersinggung. Dia berniat mempertemukan wali kelas dan orang tua murid itu. selengkapnya... about Disapa "Anda" Malah Tersinggung

Semen cibinong

Sabtu, 17 April 2010
Umbu Rey

Tuan dan puan yang terhormat, maafkan saya. Coret-coretan saya ini bukan untuk memperkenalkan iklan pabrik semen atau untuk menyoroti masalah yang tabu dibicarakan. “Semen cibinong” yang saya bicarakan ini hanyalah sebuah akronim yang muncul dari kreativitas orang awam yang mungkin sekali kekurangan perbendaharaan kata-kata dalam bahasa Indonesia.

Akronim lazimnya dibuat untuk menghemat ruang dan waktu terutama dalam bahasa tulisan. Yang paling banyak menggunakan akronim menurut amatan saya adalah lembaga pemerintah seperti Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian.

Pada awalnya akronim dibuat untuk kalangan sendiri dan biasanya untuk menyingkat nama instansi atau istilah kepangkatan yang dianggap terlalu panjang untuk ditulis atau diucapkan. Di TNI belakangan muncul “alutsista” yakni singkatan dari “alat utama sistem persenjataan”. selengkapnya... about Semen cibinong

Salah Kaprah

Celakanya, salah kaprah itu disebarkan setiap hari oleh para pejabat, koran, majalah/tabloid, radio, dan televisi.

Seorang editor penerbit menyatakan kebenarannya di sebuah milis bahasa perihal kata "bergeming". Pada mulanya, editor itu mengira "bergeming" bermakna "bergerak" dan "tak bergeming" bermakna "tak bergerak". Ketika si editor membuka kamus, kagetlah dia. Menurut kamus, bergeming berarti "tak bergerak; diam saja". Sementara itu, kata si editor, ada penulis yang bersikeras agar bentuk "tak bergeming" dibiarkan saja karena sudah lazim. Si editor kemudian bertanya, apakah salah kaprah semacam itu dibiarkan atau dikoreksi? selengkapnya... about Salah Kaprah

Oknum, Markus, dan Petrus

Rabu, 24 Maret 2010
Umbu Rey

Sudah banyak tulisan mengenai kata "oknum" tetapi tidak jelas benar asal muasalnya. Mendengar bunyinya, kata "oknum" itu tak pasti Arab. Inggris pun bukan. Susahnya, KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) sampai edisi yang keempat tak pula menjelaskan dari mana kata itu dipungut.

Kalau ditilik dari maknanya yang pertama, maka "oknum" itu pastilah datang dari bahasa Latin sebab dia masuk ke dalam kosa-kata Indonesia lewat Gereja Katolik. Dalam Gereja Protestan "oknum" itu tidak pernah disebut-sebut dan karena itu nyaris tak terdengar. selengkapnya... about Oknum, Markus, dan Petrus

Sabtu Malam dan Malam Minggu

Frasa dalam bahasa Indonesia dapat berupa inti-inti, inti-penjelas, dan penjelas-inti. Contohnya adalah kakek nenek, tiga hari, dan sedang belajar. Lalu, bagaimana dengan frasa Sabtu malam dan malam Minggu?

Kata Sabtu dan Minggu merupakan nomina nama diri, sedangkan malam merupakan nomina temporal. Kedua jenis nomina tersebut dapat menjadi inti frasa. selengkapnya... about Sabtu Malam dan Malam Minggu

Rusak Bahasa, Rusaklah Pemikiran

"Orang sering tidak paham tentang kesaktian yang terkandung dalam bahasa. Bahasa merupakan satu perkara dengan dunia pemikiran dan cita rasa. Kalau orang itu kacau pikirannya, bahasanya juga kacau. Bahasa dan hidup, dunia pemikiran dan dunia rasa itu satu. Nah, kita bisa saksikan karena pendidikan bahasa dalam sistem pendidikan sekarang ini kurang, maka cara mereka berpikir juga kacau. Caranya menghayati, merasakan juga ikut kacau." selengkapnya... about Rusak Bahasa, Rusaklah Pemikiran

Bahasa dalam Pemakaian Kontemporer

Sejumlah pertanyaan disampaikan mahasiswa:

  1. Bahasa yang baik dan benar apakah masih perlu diteruskan sosialisasinya?
  2. Kenapa bahasa baik dan benar tidak dapat mengungguli bahasa amburadul seperti yang sekarang ditemukan?
  3. Apakah perkembangan ke arah bahasa kontemporer atau bahasa amburadul ada upaya-upaya penangkalannya?
  4. Mungkinkah bahasa kontemporer justru nantinya menjadi sumber penambahan kosakata bahasa Indonesia?

Pertama perlu dipahami, bahasa dalam pemakaian kontemporer tidak serta-merta identik dengan bahasa amburadul. Bahasa kontemporer adalah bahasa dalam perkembangan pemakaian kekinian, baik yang berciri formal maupun informal. Bahasa dalam kekinian banyak ditandai kebaruan. Beberapa kata dan kataan yang sudah lama tidak digunakan namun potensial dikembangkan juga banyak dicuatkan dalam pemakaian kontemporer. Kaidah kebahasaan yang diacu sama, karena bahasa kontemporer tetap berkiblat pada ketentuan bahasa yang ada. selengkapnya... about Bahasa dalam Pemakaian Kontemporer

Lebay Alias Lewah

Sudah lama juga rupanya, bahasa kadang tanpa disadari dipakai secara berlebihan. Beberapa contoh sederhana: “naik ke atas”, “turun ke bawah”, “berbisik pelan”, “berteriak keras-keras”. Padahal jelas, sudah cukup naik, turun, berbisik, atau berteriak saja. selengkapnya... about Lebay Alias Lewah

Pages


Subscribe to Kaidah dan Pemakaian Bahasa