Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Loading

Pojok Bahasa

Etika dan Etiket

Beberapa waktu lalu, dalam rubrik "Klasika" Kompas edisi 5 Maret 2012 dimuat artikel singkat, "Etika Berbicara di Telepon". Di situ dijelaskan bagaimana operator telekomunikasi di perusahaan harus menjalankan tugasnya. Misalnya, ia tidak boleh bicara dengan nada tinggi. Nada bicara harus selalu dijaga dan tetap tenang. Sebagai pembuka percakapan, ia harus mengucapkan salam dan menyebutkan namanya kepada lawan bicara. Sebelum menutup pembicaraan, ia tidak boleh lupa mengucapkan terima kasih kepada lawan bicara, dan seterusnya. selengkapnya... about Etika dan Etiket

EYD Dan Susahnya Berbahasa Indonesia

Penggunaan EYD serta berbahasa Indonesia yang baik dan benar, sampai kini memang masih terkesan carut marut. Lihat saja misalnya istilah "telop" yang kerap muncul di layar televisi kita, selain banyak contoh lain yang menunjukkan betapa kerapnya media massa menggunakan ejaan yang salah kaprah. Kesalahan yang paling banyak serta mencolok, adalah pemakaian awalan "di" dan "ke", serta menentukan kata mana yang harus digabung dan mana pula yang boleh dipisahkan. Sebab bagaimana pun, antara "dibalik" dan "membalik" memiliki makna yang berbeda. selengkapnya... about EYD Dan Susahnya Berbahasa Indonesia

Edisi Publikasi: 
Kolom Publikasi: 

Memaksimalkan Kaidah Bahasa

Pada zaman Orde Baru, kita sebagai pengguna bahasa Indonesia begitu patuh dengan prinsip "gunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar". Benar dan baik di sini didasarkan pada ukuran kebahasaan para penguasa pada waktu itu, di mana mereka nyaris menjadi satu-satunya pihak yang menguasai ranah publik kebahasaan. selengkapnya... about Memaksimalkan Kaidah Bahasa

Keterjajahan Bahasa

Ketika saya mengikuti bakti sosial di salah satu kecamatan di Gunung Kidul, seorang staf kelurahan tidak dapat lagi mengatakan ruang atau tempat, bisanya mengucapkan "spis" (mungkin sering mendengar orang mengucapkan kata Bahasa Inggris "space"). Lantaran globalisasi dan internasionalisasi, menyatakan Sekolah Dasar saja sampai lupa, bisanya "elementary school". Apakah ini pertanda kemajuan atau keterjajahan bahasa kita? selengkapnya... about Keterjajahan Bahasa

Absensi atau Presensi?

Masalah dinamika penggunaan bahasa Indonesia selalu menarik untuk didiskusikan, selain merunut pembenaran dari aturan baku yang ada. Kata yang akan kita bahas kali ini adalah "Absen" dan atau "Absensi". Kata ini sudah sangat familiar bagi kita yang bergelut di dunia akademik ataupun profesional, khususnya terkait karyawan. Kita sudah akrab dengan "Daftar Hadir", "Daftar Absen", atau "Daftar Presensi". selengkapnya... about Absensi atau Presensi?

Di Manakah Di?

Coba kita memasuki Jalan Diponegoro. Di depan Taman Surapati akan tampak sepetak tanah yang rapat dikelilingi pagar, dengan sekalimat pemberitahuan:

DI SINI AKAN DI BANGUN.

Si penulis pemberitahuan itu pasti tak tahu ada dua macam "di" dalam kalimatnya yang seharusnya berbeda. "Di" yang pertama menunjukkan tempat -- yang harus dituliskan terpisah dari kata yang menunjukkan tempat itu. "Di" yang kedua merupakan sebuah awalan untuk sebuah kata kerja pasif -- yang harus merapat pada kata yang diawalinya.

Bedanya? Kita tahu, "di langgar" (artinya: di surau) tidak sama dengan "dilanggar" (artinya: ditabrak). selengkapnya... about Di Manakah Di?

Edisi Publikasi: 
Kolom Publikasi: 

Cara Berpikir Masyarakat Memengaruhi Perluasan Kosakata Bahasa Indonesia

Dalam upaya memperluas kosakata bahasa Indonesia, kita juga harus meningkatkan kemampuan masyarakat untuk terus mengembangkan cara berpikir. Karena setiap kali kita masuk ke dalam cara berpikir yang terlalu falsafah, kita mendapatkan kesulitan yang luar biasa dalam pengungkapan. selengkapnya... about Cara Berpikir Masyarakat Memengaruhi Perluasan Kosakata Bahasa Indonesia

Jangan Biarkan Bahasa Indonesia Baku Terbenam Oleh Waktu

Dari hasil persentase wawancara yang telah penulis lakukan di lingkungan kampus, penulis menemukan bahwa pengaplikasian bahasa baku masih sangatlah rendah. Rata-rata mahasiswa cenderung menggunakan bahasa nonbaku dan bahasa daerah. Dari beberapa pertanyaan, pengertian bahasa bakulah yang menempati urutan presentase tertinggi, kemungkinan disebabkan karena pengertian bahasa baku sudah sering didengar dari orang-orang di sekitar mereka, misalkan guru mereka saat di sekolah. selengkapnya... about Jangan Biarkan Bahasa Indonesia Baku Terbenam Oleh Waktu

Perbedaan Makna Kata "Semua", "Seluruh", "Segala", "Sekalian, dan "Segenap"

Apa perbedaan kata "semua", "seluruh", "segala", "sekalian", dan "segenap"?

Sebagai kata bilangan (numeralia), "semua", "seluruh", "segala", "sekalian", dan "segenap" memiliki persamaan dan perbedaan arti. Persamaan arti menyebabkan kata itu dapat saling dipertukarkan, sedangkan perbedaan arti menyebabkan kata itu tidak dapat saling dipertukarkan. selengkapnya... about Perbedaan Makna Kata "Semua", "Seluruh", "Segala", "Sekalian, dan "Segenap"

Pages


Subscribe to Pojok Bahasa