Pojok Bahasa

AC, VCD, DVD, TV, UII, UGM, HP

Tidak diragukan lagi bahwa singkatan-singkatan seperti AC, VCD, DVD, dan TV sudah menjadi bagian integral dari bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa nusantara lain. Setiap hari, singkatan tersebut kita temui di berbagai konteks atau malah kita gunakan sendiri. Tentu ini sah-sah saja. Orang yang kreatif sekaligus menolak pengaruh bahasa Inggris yang terlalu dahsyat dalam bahasa Indonesia, pasti dapat mengajukan alternatif lain yang lebih menusantara. selengkapnya... about AC, VCD, DVD, TV, UII, UGM, HP

Soak

Ketika membaca sebuah berita di lembaran "Kabar Jabar" koran Republika terbitan 26 Desember 2012 halaman 26, saya dihentikan oleh sepotong kata: rutilahu. Saya balik ke awal. Ternyata "rutilahu" itu akronim dari rumah tidak layak huni. selengkapnya... about Soak

Kesalahan Berbahasa

Dalam pemakaian bahasa Indonesia, termasuk bahasa Indonesia ragam ilmiah, sering dijumpai penyimpangan dari kaidah yang berlaku sehingga memengaruhi kejelasan pesan yang disampaikan. Penyimpangan/kesalahan umum dalam berbahasa Indonesia dapat diklasifikasikan sebagai berikut. selengkapnya... about Kesalahan Berbahasa

Adil Tidak Selalu Bijaksana

Penulis : Lie Charlie

Alkisah, Raja Salomo dihadapkan pada suatu perkara yang rumit. Seorang bayi sedang diperebutkan dua orang ibu. Mereka masing-masing mengaku sebagai ibu kandung bayi tersebut dan oleh karena itu berhak atasnya. Hakim-hakim seluruh negeri sudah angkat tangan dan kehilangan pegangan dalam memberikan keputusan. Maklum saja, saat itu belum ada teknologi uji DNA. selengkapnya... about Adil Tidak Selalu Bijaksana

Edisi Publikasi: 
Kolom Publikasi: 

Ragam Tutur dan Kesantunan

Seorang mahasiswa di Semarang yang tidak mau disebut namanya, menanyakan bedanya rasa hormat dan rasa santun. Tingkat tutur atau "speech level" dalam masyarakat tutur Jawa, digunakan untuk menyampaikan rasa hormat ataukah rasa santun? Hadirnya bahasa ragam tutur yang sepertinya sekarang lebih banyak berkembang dan lebih banyak diminati daripada bahasa baku, harus dipahami sebagai fenomena bahasa yang bagaimana? Bagaimana gambaran perkembangan bahasa di masa mendatang, jika dikaitkan dengan fenomena bahasa itu? Mohon penjelasan!

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dijelaskan bahwa salah satu makna dari kata "hormat" adalah takzim, sopan. Demikian pula kata "sopan", salah satu maknanya adalah hormat, takzim. Kata santun, memiliki makna sopan dan halus budi bahasa atau tingkah lakunya. Sementara kata "takzim", memiliki makna amat hormat dan sopan. Dengan mencermati makna-makna tersebut, dapat disimpulkan bahwa di dalam sumber tersebut, tidak terlalu dibedakan pengertian hormat dan santun. selengkapnya... about Ragam Tutur dan Kesantunan

Ragam Bahasa Baku

Bahasa standar selamanya adalah bahasa tulisan.

Sutan Takdir Alisjahbana

Ragam bahasa baku itu merupakan ragam bahasa yang standar, bersifat formal. Tuntutan untuk menggunakan ragam bahasa seperti ini biasa ditemukan dalam pertemuan-pertemuan yang bersifat formal, dalam tulisan-tulisan ilmiah (makalah, skripsi, tesis, disertasi), percakapan dengan pihak yang berstatus akademis yang lebih tinggi, dan sebagainya. selengkapnya... about Ragam Bahasa Baku

Bahasa dan Kaum Intelektual

Bahasa menentukan otoritas intelektualitas saat Indonesia menapaki abad ke-20. Kartini memilih bahasa Belanda untuk memasuki pengembaraan intelektual, mencari dan menemukan keajaiban-keajaiban modernitas. Bahasa Belanda menjadi berkah, membentuk identitas dan kehendak menjadi intelektual. Buku-buku berbahasa Belanda ibarat bacaan keramat. Kartini memang perempuan Jawa, hidup di Jawa, dan bersama orang-orang Jawa. Pesona tak muncul dari bahasa Jawa, bahasa lawas dan misterius. selengkapnya... about Bahasa dan Kaum Intelektual

"Atau" Bukan Sinonim dari "Ataupun"

Perhatikan judul artikel yang ditayangkan di situs daring sebuah grup media nasional. "Andiren: Kenal ataupun Nggak, Penilaian tentang Mike Sama Rata". Selintas tak ada yang aneh. Akan tetapi, kalau ditelusuri lebih lanjut, ternyata ada kesalahan di judul tersebut. selengkapnya... about "Atau" Bukan Sinonim dari "Ataupun"

Stop Pleonasme!

Penulis : J.S. Badudu
Pleonasme ialah sifat berlebih-lebihan. Konkretnya, kalau Anda menggunakan dua kata yang sama arti sekaligus, tetapi sebenarnya tidak perlu, baik untuk penegas arti maupun hanya sebagai gaya, itulah pleonasme. Misalnya, "Kedua anak itu saling berpukul- pukulan." Kata saling mengandung makna perbuatan yang dilakukan secara berbatasan antara dua orang. Sedangkan bentuk kata ulang dengan afiks ber-an seperti berpukul-pukulan juga menyatakan arti yang sama dengan kata saling itu. selengkapnya... about Stop Pleonasme!

Kolom Publikasi: 
Edisi Publikasi: 

Sastra Itu "Berat"

Sekretaris Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Cabang Yogyakarta, baru-baru ini menyatakan bahwa hanya 5 persen dari semua perusahaan penerbitan di Yogyakarta, yang menerbitkan buku-buku sastra, karena para penerbit menganggap buku sastra itu "berat" -- baik materi dan bahasanya, sehingga kurang laku di pasaran (Kompas, 6 Oktober 2010, Halaman 12). Karena anggapan tersebut, maka para penerbit kurang begitu berminat menerbitkan buku-buku sastra. Sekretaris IKAPI Yogyakarta juga mengatakan bahwa buku cerita dan novel populer sangat laku di pasaran. Pernyataan ini membuat sejumlah orang bertanya-tanya, apa yang sekretaris itu maksudkan dengan "sastra"? Bukankah sastra itu mengurung arti cerita, meskipun novel populer biasanya disisihkan dari sastra? selengkapnya... about Sastra Itu "Berat"

Pages


Subscribe to Pojok Bahasa