Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Loading

Fyodor Dostoyevsky (1821-1881)

Diterjemahkan oleh Ary dari situs: http://www.christianitytoday.com/

"Jika ada yang dapat membuktikan padaku bahwa Kristus berada di luar kebenaran dan bahwa pada kenyataannya kebenaran berada di luar Kristus, aku akan tetap memilih Kristus ketimbang kebenaran."

Demikian kalimat menjelang kematian itu ia katakan, Fyodor Dostoyevsky, 29 tahun ketika itu sedang bersama tahanan lainnya, berada di tengah arena, siap untuk ditembak.

Tiba-tiba seorang pembawa pesan menyeruak muncul, mengatakan bahwa Tsar telah memutuskan untuk membiarkan mereka hidup (saat hal ini terjadi, siksaan-siksaan awal telah menjadi bagian dari hukumannya). Saat pengampunan ini diumumkan, dua dari tahanan ini telah menjadi gila, sementara seorang lagi akan menuliskan novel "Crime and Punishment" dan "The Brothers Karamozov", dua dari beberapa novel terbesar di sejarah sastra Eropa.

Pengalaman di atas mungkin adalah yang paling dramatis walau bukan satu-satunya krisis yang pernah terjadi dalam warna-warni hidup Dostoyevsky. Meski seorang Kristen yang taat, dia tak pernah menjadi orang Kristen yang baik; walau seorang penulis yang jenius, karya- karyanya secara teknis masih terasa belum terpoles dengan baik. Selain itu, pemahamannya mengenai hati manusia mungkin disebabkan oleh hatinya sendiri yang begitu bermasalah, yang sangat nyata terlihat dalam karya sastranya.

Kejamnya Peluang

Ayah Dostoyevsky, seorang pria yang kejam dan mata keranjang (dia akhirnya dibunuh oleh pembantunya), mengarahkan anaknya untuk berkarir sebagai ahli mesin untuk militer. Namun, Dostoyevsky memilih bekerja dengan pena, dan setelah menjadi sarjana pada tahun 1843, ia keluar dari pekerjaannya untuk menekuni karier kepenulisan.

Novel pertamanya, "Poor Folk", banyak dipuji oleh para kritikus di Rusia, yang kemudian menobatkannya sebagai bakat besar dalam kesusastraan Rusia. Setelah eksekusi mati yang batal tadi Dostoyevsky dikirim ke kamp kerja paksa di Siberia selama empat tahun karena keterlibatannya dalam "kegiatan revolusioner". Setelah dibebaskan, ia menuliskan "The House of Dead" berdasarkan pengalamannya dalam kamp yang kejam itu. Novel itu menandai munculnya tradisi sastra penjara di Rusia.

Di penjara itu juga, Dostoyevsky sempat mengalami serangan epilepsi pertamanya, sebuah kondisi yang selanjutnya akan selalu ia bawa di sepanjang hidupnya, yang juga ia terangkan dalam tulisannya. Pada tahun 1860-an, Dostoyevsky (bersama saudara lelakinya Mikhail) mengedit dua jurnal penting. Dalam jurnal tersebut, selain dalam catatannya yang ditulis pada tahun 1864 berjudul "Notes from the Underground", dia menyatakan keberjarakannya pada para kaum utopis radikal (sosialis dan komunis) yang ingin mengakhiri perbudakan dan korupsi dalam pemerintahan Tsar - atau pada dasarnya dalam seluruh tatanan masyarakat - untuk mendirikan masyarakat yang lebih baik.

Di luar kesuksesannya dalam bidang sastra, Dostoyevsky malah memorak- porandakan hidupnya sendiri. Ia pun menjadi seorang pencandu judi dan kehilangan semua uangnya serta semua teman-teman yang memberinya utang. Ia sangat percaya pada keyakinannya untuk menang: "Dalam sebuah permainan peluang," tulisnya suatu kali, "jika seseorang mempunyai kendali yang sempurna atas keinginannya - orang tak akan gagal untuk mengatasi betapa kejam sebuah peluang itu." Peluang memang kejam pada Dostoyevsky. Untuk melunasi utang pada krediturnya, ia menandatangani sebuah kontrak tak adil dengan sebuah penerbit yang curang yang ingin memanfaatkan situasi dan sikapnya yang tidak disiplin. Dostoyevsky harus menyelesaikan sebuah novel dalam tenggat waktu tertentu. Jika ia gagal, penerbit itu berhak untuk mendapatkan semua hak atas karya Dostoyevsky yang telah diterbitkan.

Dapat ditebak bahwa Dostoyevsky banyak menunda sampai akhirnya tinggal sedikit waktu yang ia miliki. Tinggal kurang dari sebulan saja waktu yang ia miliki sebelum akhirnya ia mempekerjakan seorang juru tulis berusia 18 tahun, Anna Smitkina. Setelah siang malam selama tiga minggu ia mendiktekan novelnya, ia pun sanggup memberikan karyanya yang berjudul "The Gambler" itu kepada penerbit dan selamat dari konsekuensi. Kedisiplinan dan dorongan dari Anna lah yang membuat perbedaan itu, Dostoyevsky pun menyadarinya. Perkawinan pertamanya (yang berakhir dengan kematian istrinya) adalah sebuah pengalaman yang sangat menguras emosinya. "Kami tidak bahagia bersama - namun kami juga tak bisa untuk tidak mencintai satu sama lain," tulisnya. "Semakin besar ketidakbahagiaan kami, semakin dekat pula hubungan kami." Kelanjutan perkawinannya dengan Anna terbukti sebagai sebuah kekuatan penyelaras bagi hidupnya, dan hanya setelah pernikahannya, ia dapat menghasilkan karya-karya besar.

Orang Kristen bermasalah

Dalam novel-novel selanjutnya, tema-tema kekristenan muncul dengan lebih jelas, meski tidak menjadi satu-satunya tema. "Crime and Punishment" yang dikerjakan hampir bersamaan dengan novel "The Gambler" adalah mengenai perintah "jangan membunuh". Dengan unsur psikologis yang kaya, Dostoyevsky menceritakan kisah Raskolnikov, yang membunuh seorang nyonya tua yang serakah dan akhirnya jadi gila. Dalam "The Idiot" (1868-69) Dostoyevsky menampilkan seorang pria yang memiliki kemiripan dengan Yesus dalam dunia yang penuh dengan realita yang membingungkan. Dalam "The Possessed" (1872) dia mengkritik skeptisme kaum liberal, mengolok-olok nilai-nilai tradisional dan pengabaian keluarga.

"The Brothers Karamozov" (1879-80) adalah novel hebatnya yang terakhir dan yang paling banyak dibicarakan. Tema-tema teologis dan filosofis muncul saat dia menggambarkan kehidupan empat pria bersaudara. Dua yang paling menonjol adalah Alyosha, karakter yang menggambarkan Kristus yang sangat ingin menerapkan prinsip kasih Kristen serta Ivan, yang dengan emosional selalu membela agnostikisme. Dalam bab "Rebellion", Ivan menyalahkan Bapa Surgawi yang menciptakan dunia di mana banyak anak menderita. Dalam bab "The Grand Inquisitor", Ivan menceritakan kisah Kristus yang datang kembali ke bumi selama periode penjelajahan bangsa Spanyol. Para penjelajah itu menangkap Kristus atas tuduhan "bidat paling buruk" karena, jelas para penjelajah, gereja sendiri telah menolak Kristus, menjual kebebasan mereka dalam Kristus demi "mujizat, misteri dan kekuasaan".

Dostoyevsky, penganut Kristen ortodoks Rusia, mengemukakan banyak kritik paling keras terhadap kekristenan. Namun, di waktu yang sama ia menampilkan karakter Alyosha yang percaya sepenuh hati dalam kasih murni Kristus. Ketika menjawab "Apakah neraka itu?", salah satu karakter menjawab, "Itu adalah penderitaan karena tidak mampu mengasihi."

Peperangan batin antara si percaya dan si skeptik ini terus memenuhi jiwa Dostoyevsky seumur hidupnya, baik secara teologis maupun secara moral. Salah seorang teman Tolstoy mengatakan, "Saya tak bisa bilang apakah Dostoyevsky seorang pria yang baik atau bahagia. Ia orang yang keras, dengki, kasar dan menjalani hidupnya dalam emosi dan kemarahan. Di Swiss, di hadapan saya ia memperlakukan pelayannya begitu kasar hingga membuat pelayannya itu berteriak, "Saya juga manusia!"" Penulis Turgeniev pernah menjulukinya "orang Kristen terjahat yang pernah saya temui".

Pandangan politik dan sosial Dostoyevsky juga seringkali ekstrim. Ia percaya bahwa bangsa Eropa akan segera hancur, bahwa Rusia dan gereja ortodoks Rusia ("Tuhan hidup sendirian dalam gereja ortodoks," katanya suatu kali) akan menciptakan kerajaan Tuhan di dunia.

Walau begitu, iman yang ia miliki terlihat sangat dalam. Ini terlihat dalam ucapannya, "Jika ada yang dapat membuktikan padaku bahwa Kristus berada di luar kebenaran dan bahwa pada kenyataannya kebenaran berada di luar Kristus, aku akan tetap memilih Kristus ketimbang kebenaran."

Di luar paradoks hidupnya, kejeniusan nampak pada karyanya, dan tidak ada novelis lain yang dapat menampilkan karakter dengan begitu dalam dan gagasan yang sedemikian penting.

Bahan diterjemahkan oleh Ary dari:

Judul artikel: Fyodor Dostoyevsky: Russian Novelist of Spiritual Depth
Situs: http://www.christianitytoday.com/history/special/131christians/dostoyevs...