Philip Yancey: Ziarah Keraguan Seorang Penulis

Philip Yancey besar di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat, saat segregasi (pemisahan) rasial masih mewarnai wilayah itu. Keluarganya berjemaat di gereja yang kaku dan fundamentalistik. Di lingkungan ini, Allah tampil sebagai sosok orang tua yang suka menindas: keras, legalistik, pemarah, dan siap mengayunkan palu setiap kali kita melakukan kesalahan.

Gerejanya pun tak luput dari sikap rasis. Mereka mencemooh Martin Luther King. Pendetanya, dari atas mimbar, mengejek Martin Luther King sebagai "Martin Lucifer Coon". Dan, mereka bersorak-sorak di gereja saat menonton film yang memperlihatkan polisi memakai anjing dan selang air, untuk menghadapi para demonstran kulit hitam.

Para pemimpin di gerejanya juga mendesak ayah Yancey yang sedang sakit, untuk melepaskan alat bantu pernapasan. Mereka meyakinkan bahwa ayahnya akan disembuhkan. Satu minggu kemudian, ayah Yancey meninggal. Saat itu, Yancey baru berumur satu tahun.

Melalui buku-buku yang ia baca, Yancey menemukan jendela untuk memandang dunia yang sesungguhnya. Ia melahap berbagai buku, seperti "1984", "Animal Farm", dan "To Kill a Mockingbird". Buku-buku tersebut membuka pikirannya, menantang pola didikannya, dan mempertanyakan segala sesuatu yang telah diajarkan kepadanya. Semakin banyak ia membaca, ia merasa semakin frustrasi. Perasaan dikhianati melingkupinya, sehingga ia sempat melewati kurun waktu yang membuatnya menolak gereja sama sekali. "Kalau mereka berdusta tentang hal ini, mungkin mereka juga berdusta kepada saya tentang Alkitab; dan Yesus; dan Allah; dan segala sesuatu yang lain," katanya.

Ruang Bagi Keraguan

Ia memulai kembali perjalanannya menuju iman melalui perjumpaan dengan dunia yang sangat berbeda dari yang selama ini diajarkan kepadanya. Ia menemukan jejak Tuhan di dalam keindahan alam, musik klasik, dan cinta romantis. Saat mengalami hal itu, ia menyadari bahwa mungkin gambaran Allah yang dipahaminya selama ini keliru. Lingkungan gereja masa kecilnya tidak memberi tempat untuk keraguan. "Pokoknya percaya saja!" kata mereka. Siapa saja yang menyimpang dari kebenaran yang sudah digariskan, mengambil risiko dihukum sebagai pembangkang.

Dalam perjalanan imannya, ia menemukan gereja yang penuh kasih karunia dan komunitas orang kristiani yang memberi tempat aman bagi keraguannya. Ia melihat di dalam Injil, bahwa murid Yesus, Tomas, tetap bersama-sama murid yang lain, walaupun ia tidak bisa memercayai penuturan mereka tentang kebangkitan Yesus. Dan, di tengah komunitas itulah, Yesus menampakkan diri untuk memperkuat iman Tomas.

Dengan cara yang sama, teman dan rekan-rekannya di majalah "Campus Life", "Christianity Today", dan Gereja La Salle Street di Chicago menciptakan pelabuhan penerimaan yang menopang dirinya ketika imannya goyah. Ia bisa berkata di depan kelas yang ia pimpin di gereja, "Saya tahu, seharusnya saya memercayai ini, tetapi terus terang, saat ini saya mengalami masalah."

Ia merasa sedih bagi para peragu yang sendirian. "Kita semua memerlukan teman yang bisa dipercaya dalam keraguan," katanya.

Menurutnya, "hal terbaik yang bisa dilakukan gereja adalah menyediakan tempat yang aman dan terlindung; tempat di mana kepercayaan suatu hari bisa tumbuh. Kita tidak perlu membawa kepercayaan yang sudah jadi ke pintunya, sebagai tiket masuk. Ketika saya mulai menulis secara terbuka tentang keraguan dan mempertanyakan beberapa dogma dalam Injil, saya mengira akan menerima penolakan dan hukuman, seperti yang saya alami di masa remaja. Namun, ternyata surat-surat yang marah dan menuding jauh lebih sedikit daripada yang mendukung pertanyaan saya dan hak saya untuk bertanya. Lambat laun, keraguan-keraguan itu mulai kelihatan kurang penting atau menemukan jawaban, dan saya kira itu terjadi karena ketakutan mencair. Saya belajar bahwa lawan iman bukanlah keraguan, melainkan rasa takut."

Memanjat Gunung

Pergumulan seperti itulah yang mendorongnya meneliti, merenungkan, dan menjelajahi pertanyaan-pertanyaan seputar iman. Ia kemudian menuangkannya ke dalam buku-buku laris, seperti "Disappointment with God", "Where ia God When It Hurts?", dan "What's So Amazing About Grace?"

Setelah melewati pergumulan iman itu, bagaimana sekarang ia mendekat pada Allah yang dulu ia takuti? Ia meluangkan satu jam setiap pagi untuk membaca buku-buku yang memberinya makanan rohani, merenungkan firman Tuhan, berdoa, dan menikmati hadirat Allah. Saat teduh setiap pagi secara khusus dipakainya tak lain untuk "menyesuaikan" diri dengan Allah pada hari yang bersangkutan. Kemudian, sore harinya, ia membaca Alkitab -- sekitar satu pasal setiap hari. "Saya mencoba untuk tidak hanya berkonsentrasi pada pendalaman Alkitab, tetapi lebih fokus pada, 'Bagaimana saya bisa mengenali apa yang tengah Allah katakan kepada saya?'"

Philip Yancey lulus sarjana Komunikasi dan Bahasa Inggris dari Wheaton College Graduate School dan University of Chicago. Ia memulai karier menulisnya dengan menjadi staf redaksi "Campus Life Magazine" pada 1971 dan bekerja di situ selama sepuluh tahun. Kemudian, ia berkonsentrasi sebagai penulis lepas di berbagai media, selain menulis kolom bulanan dan menjadi Editor [kolom] "at Large" di majalah "Christianity Today".

Ia sudah menulis tak kurang dari enam belas buku yang terjual sampai tiga belas juta eksemplar. Delapan judul di antaranya memenangkan Gold Medallion Awards dari asosiasi penerbit kristiani Amerika Serikat. Para manajer toko buku kristiani memilih "The Jesus I Never Knew" sebagai Book of the Year 1996, dan "What's So Amazing About Grace?" pada 1998. Musim gugur 2006 buku terbarunya terbit, yaitu "Prayer: Does It Make Any Difference?"

Tentang harapannya ke depan, ia berkata, "Saya ingin memanjat semua gunung di Colorado yang tingginya lebih dari 14.000 kaki. Ada 54 gunung dan saya sudah memanjat 44 di antaranya. Saya ingin menulis memoar tentang kepedihan dan sekaligus kengerian bertumbuh sebagai seorang fundamentalis. Saya ingin tetap menikah dengan wanita yang sama ... dan saya ingin terus meningkatkan wawasan dan menemukan tantangan."

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : The Impact: Kisah Orang-orang Biasa yang Berdampak Luar Biasa
Penulis : Arie Saptaji
Penerbit : Gloria Graffa, Yogyakarta 2008
Halaman : 83 -- 89