Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Loading

Tuhan Para Penjaga Cincin (J.R.R. Tolkien)

Mungkin setelah difilmkan, tidak ada lagi orang yang tidak mengenal epik paling populer abad ini, "The Lord of the Rings". Kisah yang mengambil latar masa prasejarah dan menggambarkan dunia mungil orang-orang Hobbit dalam realitas manusia ini, bahkan kepopulerannya hampir mengalahkan novel anak-anak terlaris abad ini, Harry Potter. Kepopuleran "The Lord of the Rings" bukan saja karena kini epos itu dicetak ulang dan telah diterjemahkan penerbit Gramedia, tetapi karena bagi penikmat dan pemerhati sastra, khususnya sastra Inggris klasik, Tolkien bukanlah nama yang asing. Melalui epos tiga seri itu, ia meraih kepopuleran puncak selain kariernya yang melangit sebagai pakar bahasa dan sastra Inggris.

Ia memang penutur yang baik yang menemukan kedahsyatannya ketika mendongeng untuk anak-anak. Gaya bertuturnya sangat menggugah rasa ingin tahu anak-anak, terutama setelah bukunya, Mr. Bliss dan Reverandom, yang menawarkan rasa baru, terbit. Kehebatannya adalah membawa cerita ke dalam suasana klasik, mengalir dengan imajinasi yang sangat liar membentang ke sudut yang tak terbayangkan; indah, fantastis, dan menakjubkan. Semua itu mewujudkan dunia yang hadir hanya dalam mimpi kanak-kanak.

Pecinta Cita Rasa Klasik

John Ronald Reuel Tolkien lahir di Bloemfoentein, Afrika Selatan, 3 Januari 1892. Ia mengalami masa kecil yang tidak bahagia. Ayahnya, Arthur Reuel Tolkien, seorang pedagang, sosok yang mendampinginya hanya empat tahun. Belum lagi puas bersama ibu dan Hillary, adiknya, pada usia dua belas tahun, ia telah yatim piatu, sang ibu menyusul ayahnya. Ia kemudian menumpang pada dua pamannya dari pihak ibu. Ini keuntungan bagi Tolkien karena keluarga dari pihak ibu mengambil bahasa Inggris klasik sebagai bahasa ibu. Cuma satu kekurangan keluarga besar itu, selalu didera kemelaratan.

Sejak pindah ke Birmingham, Tolkien dan adiknya dikenalkan dengan kehidupan gereja Roma. Di sinilah keduanya menemukan makna hidup. Ia pun mengenal sosok Francis Morgan, orang tua yang selalu mendengarkannya dan berfungsi sebagai ayahnya.

Morgan sendiri amat menyukai Tolkien, terutama karena kemampuannya beradaptasi dengan bahasa Inggris klasik. Dalam usia yang masih sangat muda, ia telah menguasai bahasa Yunani dan Latin. Ketika remaja, ia bahkan sudah sangat piawai berbahasa Gothic dan Finlandia. Hebatnya, semua jenis bahasa itu ia kuasai, baik bahasa modern maupun klasik.

Kepiawaian ini yang membuat Tolkien mampu masuk dan beradaptasi dengan berbagai kalangan. Salah satu teman korespondennya adalah Edith Bradd, perempuan cantik tiga tahun lebih tua dari Tolkien, yang diperkenalkan William Faulkner. Korespondensi mereka berkisar tentang kritik sastra. Mereka terus bersuratan sampai tahun 1916. Lima tahun sebelumnya, ia telah masuk pendidikan tinggi di Exeter College, Oxford, dan meneruskan lagi di King Edwards College, khusus untuk memerdalam sastra klasik. Di kampus yang terakhir ini, ia makin giat memerdalam bahasa Jerman, Finlandia, dan Wales.

Sayangnya, ia tidak meneruskan minat itu dan mengubah haluan dengan lebih fokus pada bahasa dan sastra Inggris ketika memasuki tahun keempat di kampusnya. Penyebabnya adalah ia begitu terhipnotis dengan sebilah puisi, "The Crist of Cynewulf". Akan tetapi, Tolkien merasa dirinya bukanlah guru yang baik. Ia pun mengembara ke Staffordshire untuk memerdalam bahasa Inggris klasik. Perjalanan itu baru berakhir ketika ia dapat menikahi teman korespondensinya, Edith Bradd, pada 22 Maret 1916 di Warwick.

Setahun menikah, ia didera sakit panjang dan baru sembuh di akhir tahun 1918. Ia dipromosikan menjadi letnan atas jasanya melakukan pendampingan di kamp penampungan Perang Dunia I. Akan tetapi, ia tidak peduli dengan penghargaan itu. Ia lebih memilih menikmati kehidupan pribadinya dengan Edith di daerah bebukitan, dengan saling bercengkerama dan menari. Pada 16 November 1917, buah cinta mereka, John Francis Reuel, lahir.

Sewaktu gencatan senjata Perang Dunia I ditandatangani pada 11 November 1918, ia telah tercatat sebagai pengajar di Oxford. Ia masuk sebagai asisten leksiografi untuk proyek penerbitan kamus Oxford English Dictionary. Ketika terlibat dalam proyek kamus inilah ia menyadari bakat menulisnya yang amat besar.

Tolkien pun pindah haluan. Ia mengajar dan memersiapkan diri untuk mewujudkan ide-ide yang acapkali melintasi kepalanya. Ia menulis "The Father Christmas Letters" dan "The Monsters and the Critics and Others Essay" yang memamerkan komposisi Inggris Wales dengan sangat kental. Ia pun memetik sukses ketika mulai menduduki jabatan Merton Professorship of English and Literature di Oxford tahun 1945. Namun, sebelum itu trilogi "The Lord of the Rings: The Fellowship of the Rings, The Two Towers, The Return of the King" telah terbit dan meraih puncak penjualan dan popularitas. Keingintahuan pembaca tentang dunia dan orang-orang Hobbit dalam trilogi itu sebelumnya telah ia punahkan melalui novel "The Hobbit" yang terbit tahun 1937.

Kisah pengawalan pada sembilan cincin yang akan membuat dunia terselamatkan itu membuat namanya diabadikan melalui buku terbaik abad ini dalam sebuah jajak pendapat jaringan televisi Chanel 4 Inggris dan Waterstone, tahun 1997. Sayangnya, ketika keabadian namanya itu ditorehkan, jasad Tolkien mungkin telah membatu setelah ia meninggal dengan kemasyhuran pada 2 September 1973. Seperti novelnya yang klasik, nama Tolkien pun kini juga klasik. Kita pun tahu yang klasik pasti unik, sekaligus abadi.

Diambil dari:

Judul buku : Bayang Baur Sejarah
Judul artikel : Tuhan Para Penjaga Cincin
Penulis : Aulia A. Muhammad
Penerbit : Tiga Serangkai, Solo 2003
Halaman : 99 -- 101