Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Menulis Kolom, Siapa Takut?

Beberapa redaksi surat kabar atau majalah biasanya sangat selektif dalam menerima tulisan-tulisan kolom yang ditulis oleh para penulis pemula, karena tulisan-tulisan kolom memegang peranan penting dalam meningkatkan omset pemasaran surat kabar atau majalah mereka. Redaksi lebih baik membayar mahal untuk kolom yang ditulis oleh kolumnis yang sudah memunyai nama, daripada menggunakan kolom yang ditulis oleh penulis pemula, meski bisa dibayar murah.

Namun demikian, ada juga redaksi yang mengambil kebijakan untuk memberi kesempatan kepada para penulis -- bahkan penulis pemula, untuk menulis di kolom mereka. Bagi mereka nama penulis -- terkenal atau tidak, tidak terlalu dipermasalahkan sejauh kualitas, gaya, dan tema tulisan memenuhi standar mutu atau kriteria yang ditentukan. Berikut beberapa hal yang harus diperhatikan untuk mempertahankan mutu tulisan.

1. Isi

Pilih tema aktual yang menarik perhatian dan sedang menjadi buah pembicaraan maupun pemikiran banyak orang. Dalam memilih isi, Anda perlu mempertimbangkan kalangan dan target pembaca. Sempitkan tema agar pembahasan Anda lebih spesifik, lebih fokus, dan lebih tajam. Sebagai contoh, menulis dengan tema "korupsi" jelas terlalu luas. Lebih menarik jika Anda menyempitkan temanya, seperti: "korupsi "salam tempel" oleh polisi".

Awali penulisan kolom dengan pengantar ringan, antara lain dengan menampilkan tokoh masa silam, mengutip kalimat bijak, atau mengemukakan dalil/rumus yang sudah banyak diketahui masyarakat. Mengapa demikian? Karena bagian pertama bertujuan menggiring atau mempersiapkan pembaca ke masalah utama, agar pembaca bisa mengikuti gagasan penulis dengan mulus. Kemudian, bentangkan ide pokok atau isi tulisan Anda. Uraikan sejelas mungkin dengan bahasa yang lugas dengan cara menganalogikan, menyejajarkan, mempertentangkan, mendeskripsikan, dan sebagainya. Setelah itu, tutuplah kolom dengan kalimat yang mengundang pembaca untuk bersikap dan bertindak. Sebuah kesimpulan yang terbuka memberi ruang diskusi bagi para pembacanya.

2. Gaya Penulis

Tema dan isi tulisan kolom perlu dikemas dengan lebih "renyah", mudah dipahami, ringkas, serta menghibur, tanpa harus kehilangan makna dan tidak menjadi tulisan "murahan". Bagaimana hal tersebut dapat kita lakukan? Kreativitas! Dalam era kebebasan seperti sekarang, seorang penulis dituntut memiliki kreativitas lebih tinggi untuk memikat pembaca. Perkayalah tulisan Anda dengan anekdot, ironi, dan tragedi yang membuat tulisan Anda lebih "basah" serta berjiwa. Jangan terkesan menggurui walaupun Anda menguasai bahan. Sedapat mungkin, hindari penggunaan kata "seharusnya", "semestinya", dan sejenisnya. Gunakan kreativitas dan keterampilan mendongeng seraya menyampaikan pesan.

Ada berbagai cara kreatif untuk mengemas tulisan Anda. Beberapa tema tulisan bisa lebih kuat disajikan dalam bentuk dialog. Akan tetapi, tema yang lain mungkin lebih tepat disajikan dengan lebih banyak narasi serta deskripsi yang diperkaya dengan anekdot. Beberapa penulis memilih bentuk penuturan yang khas untuk setiap tema yang ditulisnya. Contohnya:

  • Dialog (Umar Kayam)
  • Reflektif (Goenawan Mohamad)
  • Narasi (Faisal Baraas, Bondan Winarno, Ahmad Tohari)
  • Humor/Satir (Mahbub Junaedi)

3. Bahasa

Agar pembaca bisa mencerna maksud penulis dengan baik, semaksimal mungkin hindari penggunaan kata-kata yang membosankan dan kata-kata pemanis basa-basi, yang biasa diucapkan orang dalam pidato yang menjemukan. Hindari juga jargon atau istilah teknis yang hanya dimengerti oleh kalangan tertentu. Kreatiflah menggunakan deskripsi, anekdot, atau analogi untuk menerangkan maksud Anda. Hindari pemakaian bahasa asing atau daerah, dan pakailah bahasa Indonesia yang komunikatif. Tulisan yang komunikatif adalah tulisan yang mampu menghubungkan alam pikiran penulis maupun pembaca secara lancar dan hemat kata. Pakailah kata kerja aktif yang melancarkan proses membaca, karena biasanya kata kerja pasif menghambat proses membaca. Gunakan kalimat pasif hanya jika tidak terhindarkan. Selebihnya, kita perlu menaati tata bahasa Indonesia yang baku dan benar. Apakah ejaan katanya benar, di mana meletakkan titik, koma, dan tanda hubung. Apakah koma ditulis sebelum atau sesudah penutup tanda kutip. Jika Anda ragu, bukalah kamus atau buku rujukan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).

Referensi

Setia, Putu. Mengenal Opini dan Kolom. Diakses dalam http://www.crayonpedia.org/mw/ pada tanggal 30 November 2010.

Gaban, Farid. Teknik Menulis Kolom/Opini. Diakses dalam http://khaledpunya.blogspot.com/ .html pada tanggal 30 November 2010.

Tartono, S. St. 2005. Menulis di Media Massa Gampang! Tips Untuk Menulis di Media Massa Cetak. Yayasan Pustaka Nusantara: Yogyakarta.