Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Loading

Penyajian Isi Sebuah Artikel

"Lalu TUHAN menjawab aku, demikian: "Tuliskanlah penglihatan itu dan ukirkanlah itu pada loh-loh, supaya orang sambil lalu dapat membacanya."" (Habakuk 2:2)

Ibarat sebuah khotbah, sebuah tulisan/artikel sebenarnya memiliki komponen yang hampir sama. Artinya, khotbah maupun artikel memunyai tiga komponen, yaitu pendahuluan, isi, dan penutup. Dalam mengomunikasikannya, khotbah maupun artikel tulisan menggunakan bahasa. Kedua-duanya menekankan komunikasi, komunikasi yang mudah dipahami.

Kedua-duanya memiliki tujuan yang sama: menyampaikan sesuatu kepada pendengar atau pembacanya. Lalu, mengapa sebuah khotbah yang dituliskan tidak otomatis dianggap sebagai sebuah artikel yang dapat dimuat begitu saja? Masalahnya adalah penampilan. Struktur. Khotbah perlu didengarkan dengan telinga, sedangkan artikel perlu dibaca dengan mata! Tetapi dari segi isi, tetap sama.

Kalau seseorang hendak menulis artikel, apa saja yang pantas dituliskannya? Cobalah jawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini, niscaya Anda dapat memahaminya.

  1. Apakah isi yang Anda kemukakan itu menarik dan bernilai bagi orang banyak?
    (Anda tidak perlu menyia-nyiakan waktu untuk yang tidak berguna.)

  2. Apakah bahan yang Anda kemukakan relevan dengan misi majalah yang hendak memuat tulisan Anda?
    (Kalau tidak relevan, mengapa Anda mengirimkannya?)

  3. Apakah tulisan yang hendak Anda kirimkan itu tepat waktunya?
    (Semua editor terikat pada waktu dan aktualitas. Mereka memiliki jadwal berupa kalender peristiwa. Yang paling mengerikan ialah "deadline", batas waktu!)

  4. Apakah pokok masalah ini cocok bagi saya?
    (Ingat, di dunia ini banyak hal yang menarik. Banyak hal yang tidak kita ketahui dan tidak akrab dengan kita. Kalau bukan bidang sendiri, janganlah menyentuhnya. Minat sangat menentukan keberhasilan. Pengetahuan dapat ditambahkan melalui riset, tetapi kemampuan kita terbatas. Tidak mungkin kita dapat menguasai segala hal dan menulis tentang segala hal.)

  5. Dengan pola bagaimanakah tulisan itu dibuat?
    (Ada banyak bentuk tulisan. Apakah tulisan itu lebih berhasil ditulis dalam bentuk puisi, cerita, atau artikel biasa saja?)

  6. Dari manakah ide itu diperoleh?
    (Tiap hari surat kabar terbit, majalah berpuluh-puluh, pertemuan dengan orang terjadi, warta gereja bermunculan, dan lain-lain. Apakah Anda dapat memerhatikannya dengan cermat?)

Kalau Anda dapat menjawab serta memahami pertanyaan-pertanyaan tersebut, mulailah menulis. Carilah judul yang menarik, "lead" yang memikat, dan isi yang mengesankan, serta penutup yang sukar dilupakan.

Gaya

Setiap orang memiliki cara berbicara sendiri, gaya sendiri yang berbeda dengan orang lain. Tidak seorang pun yang memiliki persamaan yang mutlak dengan orang lain dalam hal berbicara, menulis, dan menyusun buah pikiran. Masing-masing memiliki kepribadian sendiri. Gaya memang amat erat kaitannya dengan kepribadian. Gaya ini berisi enam komponen seperti yang berikut.

  1. Kejelasan

    Tulisan yang kaku menunjukkan jalan pikiran yang kurang lancar atau penguasaan masalah yang kurang memadai. Seorang penulis harus menuliskan idenya dalam struktur kalimat yang jelas dan mudah dipahami. Fakta yang terdapat di dalamnya otentik dan tepat. Bahasanya jernih dan pilihan katanya membangkitkan kesan yang kuat. Hanya kata yang dituliskan di tempat yang tepat yang dapat memberikan hasil yang baik.

  2. Selera

    Anda sebaiknya tahu tentang waktu hidup manusia. Pembaca zaman ini berbeda dengan pembaca 50 tahun yang lalu. Nah, Anda menyampaikan suatu kabar yang telah diseru-serukan ribuan tahun, maka cara penyampaian Anda harus kreatif. Isi bisa tetap sama, tetapi penyajian dapat berbeda, yang cocok untuk zaman ini.

    Penampilan itu diramu secara tajam, bernas, dan tegas.
    Ada bagian yang humoris, tetapi bersih dan murni, sopan dan sederhana.

    Kata yang menyakiti pembaca hendaknya dihindarkan, namun Anda juga harus menghindari pujian yang tidak pada tempatnya, atau kata-kata yang muluk-muluk, tetapi tidak memiliki makna.

  3. Seimbang

    Antara pendahuluan, isi, maupun penutup harus seimbang, saling mengisi. Pendahuluan yang terlalu panjang merebut porsi isi, begitu pula penutup yang bertele-tele, membuat pembaca jemu dan kehilangan konsentrasi. Di samping itu, kalimat jangan berpanjang-panjang. Struktur kalimat yang pendek, tetapi berisi lebih diharapkan.

    Peralihan buah pikiran terdapat dalam paragraf yang sudah selesai. Pengembangan paragraf ini harus dilakukan dengan cara yang baik. Buah pikiran yang kurang jelas harus diperjelas. Setiap paragraf pada umumnya mengandung sebuah ide atau pikiran yang utuh. Paragraf berikutnya mendukung yang sebelumnya.

    Judul tulisan harus berhubungan dengan anak judul dan kesimpulan tidak boleh berlainan dari pokok pikiran yang dikemukakan. Satu dengan yang lain harus seimbang.

  4. Warna

    Kata mengandung makna tersendiri. Penulis yang melatih diri untuk menggunakannya, akan mampu memberi pemahaman yang berwarna bagi pembacanya melalui penempatan kata itu.

    Sentuhlah pancaindra pembaca melalui bahasa Anda.
    Gerakkan hati pembaca melalui kata dan kalimat yang dramatis.
    Timbulkan bayangan warna, rasa, bau, dan nada dalam pikiran pembaca.

  5. Tindak Laku

    Bahasa yang hidup membuat orang bergerak dan membangkitkan emosi. Penulis yang baik akan menyusun tulisannya dari awal sampai akhir dengan cara yang memikat.

Itulah yang diungkapkan seseorang dalam tulisannya. Dapatkah Anda menjawabnya? Anda menjadi penulis yang berhasil dan sukses!

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Bagaimana Menjadi Penulis Artikel Kristiani yang Sukses
Penulis : Drs. Wilson Nadeak
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung
Halaman : 43 -- 47