Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Loading

Tujuan, Kebiasaan, dan Proses Menulis Seorang Penulis yang Melayani

Ketika saya menulis, ada tiga tujuan hasil inspirasi dari Injil yang menjadi fokus tulisan saya -- saya ingin memuliakan Tuhan (1 Korintus 10:31), menyokong hamba-hamba Tuhan (Galatia 6:10), dan memenangkan dunia (Markus 16:15). Apapun topiknya, tujuan-tujuan tersebut selalu memberikan arahan kepada saya ketika menulis.

Ketika diminta untuk berbicara mengenai kebiasaan saya dalam menulis, saya menyadari, meskipun tidak memiliki kemampuan khusus mengenai hal tersebut, saya terbiasa untuk tidak tergesa-gesa dalam menulis dan selalu menguji apakah tulisan saya memenuhi paling tidak dua tujuan menulis yang sudah ditetapkan di atas -- salah satunya harus selalu memuliakan Allah.

Lukas berbicara kepada kita bahwa Yesus bertumbuh menjadi pria dewasa, yang berkembang secara mental, fisik, rohani, dan sosial (Lukas 2:52). Jadi, kerinduan saya dalam menulis adalah untuk mengajar serta mendorong pertumbuhan dan perubahan para pembaca. Saya selalu memerhatikan pertumbuhan pembaca ketika saya menulis -- saya dapat membangkitkan semangat dengan menggunakan firman Tuhan dan mengizinkan Roh Kudus bekerja melalui ayat-ayat firman Tuhan. Saya dapat menambah wawasan dengan mengajarkan kebenaran lama dengan cara yang baru, untuk menangkap imajinasi seseorang terhadap Tuhan dan membangun pandangan yang alkitabiah. Saya dapat menyentuh hati seseorang dengan menceritakan kisah-kisah saya secara sederhana dan otentik, sehingga pembaca dapat mengerti dan memahami pesan saya. Saya dapat memengaruhi kehendak dengan memberikan pilihan-pilihan yang merefleksikan pandangan dan prioritas Tuhan.

"Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman." (Galatia 6:10)

Yang lain adalah proses menulis -- sarana yang menolong saya untuk mencapai tujuan dan untuk melayani pembaca-pembaca tulisan saya. Dalam proses membuat sebuah tulisan, saya memiliki empat kebiasaan: riset (research), mencatat (record), menulis ulang (rewrite), dan menghaluskan (refine).

Riset (Research)

Jika kita tidak melibatkan kedalaman dan akurasi riset, tulisan kita dapat menjadi dangkal dan lemah. Saya mencatat segala sesuatu (kartu-kartu dalam dompet, serbet restoran, kwitansi, buletin gereja, dan lain-lain) yang menarik perhatian saya. Ketika saya menyalin catatan-catatan tersebut di komputer saya, saya langsung menyertakan catatan kaki jika memungkinkan, karena jika saya menundanya, terkadang untuk mendapatkan bahan-bahan yang mendukung tulisan saya tersebut menjadi lebih sulit. Saya memiliki daftar bahan-bahan online yang kualitasnya baik. Riset yang baik juga melibatkan kegiatan mengenal pembaca dan mengetahui pesan apa yang paling dapat memotivasi mereka.

Mencatat (Record)

Saya cenderung memperbaiki tulisan saat itu juga ketika sedang mencatat sesuatu. Tapi ketika saya menemukan cara menulis yang "smart", saya menuliskan terlebih dahulu semua yang ada di pikiran saya di atas kertas, dan kemudian merencanakan waktu tertentu untuk mengoreksi masalah teknisnya. Terkadang, saya menggunakan daftar centang untuk memastikan saya tidak melupakan teknik-teknis penulisan yang baik, seperti menggunakan kata-kata yang menarik, yang menunjukkan dan bukannya menggurui, atau menyederhanakan gagasan.

Menulis Ulang (Rewrite)

Sebelum saya menulis ulang, saya sering kali berkonsultasi dengan orang lain. Masukan mereka membantu saya melihat apa yang terlewatkan, yang mungkin disalahmengerti, dan cara yang lebih baik untuk menyampaikan apa yang hendak saya sampaikan. Menulis ulang adalah proses pertimbangan dan pengambilan keputusan akan apa yang harus dihilangkan dan yang dipertahankan, memutuskan apakah saya sudah mencapai tujuan-tujuan saya, dan memutuskan apakah ada cara yang lebih baik untuk menyampaikan sebuah pesan, dll..

Menghaluskan (Refine)

Pada akhirnya, setelah banyak kali menulis ulang, saya menghaluskan tulisan saya. Saya menguji setiap kata sekali lagi untuk memastikan bawa kata-kata yang saya gunakan benar-benar mengomunikasikan pemikiran saya dengan jelas. Jika memungkinkan, saya meminta orang lain untuk menyunting tulisan saya.

Ketika saya menyadari bahwa Tuhan memanggil saya untuk melayani Dia melalui tulisan -- yang berarti saya tidak memiliki waktu dan agenda menulis untuk kepentingan diri sendiri -- tulisan saya pun berubah karena hati saya berubah. Sangat penting untuk berusaha menghasilkan yang terbaik ketika menulis, karena saya menulis untuk Sang Raja.

".... Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlan semuanya itu untuk kemuliaan Allah." (1 Korintus 10:31) (t/Davida)

Diterjemahkan dari:

Nama situs : WritingtoServe.net
Judul artikel asli : Goals, Habits, and Process of a Servant Writer
Penulis : Maria Keckler
Alamat URL : http://writingtoserve.net/?p=151#more-151