Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Memaknai Paskah dan Sengsara Yesus di Dunia yang Penuh Kekerasan

Secara jujur, bisa dikatakan saya tidak termasuk orang yang ikut terperangah ketika akhirnya saya benar-benar memperoleh kesempatan melihat rangkaian adegan-adegan penyiksaan Kristus dalam film Passion of Christ sekitar 2 tahun lalu. Mungkin ini karena gaung kontroversinya yang oleh beberapa kalangan dianggap mempromosikan kekerasan sekaligus propaganda yang menyudutkan golongan tertentu itu sudah lebih dahulu saya dengar. Artinya, bayangan tentang darah dan penyiksaan yang akan dimunculkan sudah terlebih dahulu ada di benak saya.

Di lain waktu, tiba-tiba perasaan saya demikian bergejolak ketika melihat sebuah tayangan berita televisi yang memperlihatkan tindakan aparat ketertiban kota yang meringkus paksa seorang nenek yang hanya ingin mengamankan surat-surat penting miliknya yang masih ada di rumah yang akan segera dihancurkan oleh pria-pria berseragam itu. Berbeda dengan Passion of Christ yang pro-kontranya demikian ingar-bingar itu, beberapa menit tayangan peringkusan paksa nenek tua di Bandung tersebut hanya merupakan berita lalu dan bisa jadi hanya akan ditayangkan sekali itu untuk kemudian segera dilupakan.

Nenek itu tentu tidak sendirian. Jutaan, bahkan miliaran, orang di dunia ini, baik secara langsung atau tidak langsung, fisik atau nonfisik serta dalam berbagai bentuk dan kuantitas juga mengalami kekerasan dalam hidupnya. Mulai dari peristiwa-peristiwa besar, seperti: serangan teroris terhadap gedung WTC, bom Bali, atau London, dan korban-korban kekejian lainnya di berbagai belahan dunia. Semua itu adalah bukti tidak terbantahkan. Jangan lupakan pula negeri kita sendiri, Indonesia, yang sejak berabad-abad telah menjadikan pembantaian dan kekerasan sebagai makanan sehari-hari. Beberapa dari kita pun mungkin pernah mengalaminya sendiri tanpa perlu berada di daerah-daerah, seperti: Aceh, Ambon, Poso, Papua, Sampit, Buru atau melihat penjarahan dan pemerkosaan pada Mei 1998, menjadi sasaran penculikan militer maupun menjadi korban pembantaian bersama jutaan orang lainnya demi melancarkan jalan kelahiran sebuah rezim militeristik yang korup.

Tindakan main hakim sendiri untuk penjahat (atau yang disangka sebagai penjahat) yang tertangkap, tawuran anak sekolah, kekerasan terhadap anak atau wanita, kekerasan majikan terhadap pekerja, sampai yang sekadar spanduk ancaman di perempatan jalan atau tayangan pendidikan tentang kehidupan hewan liar yang saling memangsa, maupun film-film kartun atau kisah para superhero yang saling membalas dendam dan ditonton anak-anak kita, semuanya adalah kekerasan, tetapi semua seakan sudah menjadi hal biasa. Kekerasan sepertinya telah menjadi satu hal tidak terpisahkan dari budaya dan peradaban manusia yang mengklaim diri telah maju ini.Di tengah semua ini, kita merayakan momen Paskah dengan persembahan teatrikal berisi penderitaan Yesus dalam menebus dosa kita di kayu salib.

Gambar Quote Cinta Kasih

Sementara banyak khotbah atau renungan yang dibawakan pada masa-masa tersebut yang sering kali diusahakan untuk bisa menggambarkan sedetail mungkin tentang bagaimana cambuk, paku, atau mahkota duri itu melukai, merusak, dan menyakiti-Nya. Semua dilakukan guna membangkitkan emosi jemaat yang tidak jarang sampai menangis tersedu-sedu. Dan, memang itulah kenyataannya, Yesus tidak mati lewat hukuman pancung, hukuman gantung, atau diumpankan ke binatang buas. Dia juga tidak mati "mudah" di tangan regu tembak, kursi listrik, atau suntikan mati. Pendek kata, penderitaan dan proses bayar harga yang dijalani Kristus tentu harus tetap kita refleksikan senantiasa, tetapi di satu sisi dengan momen Paskah yang tentu akan segera berlalu, apakah perasaan terhadap derita dan sengsara Kristus bisa selalu kita hayati di dunia yang penuh kekerasan ini?

Jawaban atas pertanyaan itu sebenarnya ada di peristiwa Paskah itu sendiri. Paskah bukanlah sebuah peringatan kematian seseorang yang dianggap sebagai Tuhan. Sebaliknya, Paskah adalah peristiwa puncak tempat Yesus menyatakan keilahian-Nya ketika Ia mengalahkan maut, yang secara otomatis juga menggenapi janji dan penebusan-Nya. Di sini, tentu akan lebih tepat jika kita mulai meletakkan penghayatan akan derita Kristus sebagai sebuah teladan untuk hidup dengan berani berkorban dan ditempa dalam proses yang tidak selalu nyaman. Saya rasa inilah yang lebih penting ketimbang hanya "menjual" gambaran penderitaan Tuhan kita atau sekadar untuk membangkitkan perasaan dan emosi. Paskah adalah simbol pengharapan yang sangat jelas dan menjadi ciri khas kekristenan. Jika sekarang kita menyadari betapa besar ancaman hancurnya kehidupan dan jalinan hubungan antarmanusia di sekitar kita akibat berbagai kekerasan di atas, betapa tepat jika optimisme Paskah ini dapat selalu kita bawa dan bagikan pada orang lain untuk bergandeng tangan dalam kasih-Nya mengubah kondisi yang ada.

Selamat Paskah!

"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku." (Matius 25:40)

Audio Memaknai Paskah

Sumber asli dari CWC (Christian Writers` Club):

Penulis : Marco
Alamat situs : http://www.ylsa.org/cwc/modules.php?op=modload&name=News&file=article&si...


Komentar