Menulis Untuk Pembaca Remaja/Pemuda

Diringkas oleh: Santi Titik Lestari

Banyak orang dewasa beranggapan, menulis untuk anak-anak dan pemuda itu mudah. Beberapa penulis yang belum mahir menulis untuk orang dewasa, mencoba menulis untuk anak-anak. Mereka pun menemukan bahwa anggapan di atas itu salah. Anak yang sedang bertumbuh (belum menjadi dewasa), bukanlah seorang dewasa yang lebih kecil fisik dan jiwanya. Ia merupakan manusia yang lengkap, punya keinginan-keinginan khusus yang sangat berbeda dengan keinginan orang dewasa. Agar dapat menulis dengan baik untuk para pembaca belia, berusahalah untuk mengamati aktivitas mereka, meluangkan waktu untuk ada dalam komunitasnya, dan bertemanlah dengan mereka. Hal ini akan membantu Anda mempelajari keinginan dan kepentingan-kepentingan khusus mereka. Anda pun dapat membaca secara intensif buku-buku terbaik yang pernah ditulis untuk para pembaca belia.

Buku dapat menolong pertumbuhan diri. Sebuah buku yang baik dapat memberi dorongan keberanian, perasaan aman, rasa memiliki, dan pengetahuan yang benar atau salah. Sementara anak tumbuh semakin besar, buku-buku membantu mereka memenuhi keinginan dan impian-impiannya. Oleh karena itu, diperlukan penulis yang dapat menulis bagi para pembaca belia.

Bagaimana kita bisa menulis untuk remaja/pemuda?

Anak-Anak yang Lebih Tua

Anak-anak yang lebih tua tidak suka dipanggil anak-anak. Mereka tumbuh cepat dan menunjukkan tanda-tanda kedewasaan. Mereka ingin bebas, tapi tetap menghargai wewenang orang yang lebih tua dan mau dibimbing serta diberi tahu. Anak laki-laki biasanya memberontak terhadap segala yang berhubungan dengan kebersihan, penampilan, pakaian, atau anak-anak perempuan. Sebaliknya, anak-anak perempuan semakin membanggakan penampilan mereka.

Walau lingkup perhatian mereka lebih luas daripada anak-anak yang lebih muda, mereka tetap saja mudah bosan. Kalau ada sesuatu yang tidak betul-betul menarik, mereka tidak akan memusatkan diri pada hal itu. Sebaliknya, mereka sering mau bekerja berjam-jam untuk sebuah proyek yang mereka pilih sendiri.

Segalanya menarik bagi kelompok anak ini. Seorang anak laki-laki lebih tertarik pada ilmu pengetahuan, alam semesta, dan sejarah, namun ia juga menyukai berbagai objek lainnya. Biasanya ia menjadi kolektor. Kantongnya selalu penuh benda-benda, batu-batuan, tutup botol, kelereng, dan sepotong kawat. Inilah masa ketika anak-anak laki-laki maupun perempuan ingin bisa melakukan sesuatu yang baru. Di beberapa bagian dunia, buku-buku mengenai "Bagaimana Caranya" merupakan buku yang paling populer untuk kelompok umur ini.

Anak-anak ini juga mulai tertarik pada negara-negara selain negara mereka, maka buku-buku tentang masyarakat di berbagai tempat di dunia selalu ingin mereka baca. Artikel dan cerita-cerita yang menarik dapat menyajikan begitu banyak informasi kepada mereka, sehingga tanpa sadar mereka sudah mempelajari sesuatu yang baru. Cerita-cerita petualangan, riwayat hidup, dan legenda membantu perkembangan mereka untuk menjadi pria-pria dan wanita-wanita terkemuka.

Walaupun bentuk cerita untuk kelompok umur ini masih agak sederhana, tapi pengarangnya lebih bebas untuk mengembangkan sebuah plot yang menarik. Cerita-cerita untuk majalah berkisar antara 1.500 sampai 2.000 kata; artikel mungkin agak lebih pendek.

Remaja

Tidak ada remaja yang menjadi dewasa dalam satu hari tertentu. Waktu untuk mencapai kedewasaan bergantung pada berbagai faktor budaya. Setiap remaja berbeda dalam perkembangan fisik, emosi, dan rasa sosialnya. Kematangan umur dicapai lebih dini di satu negara dibanding di negara lainnya. Banyak remaja memikul tanggung jawab orang dewasa di umur tiga belas atau empat belas tahun.

Di kebanyakan negara, masa remaja ditandai oleh perkembangan jasmani dan rohani yang amat cepat. Banyak di antara mereka yang sangat idealis dan tak kenal lelah. Tetapi sebagian besar dari anak-anak ini memerlukan dan merindukan dukungan orang lain.

Remaja putra menyukai fiksi dan nonfiksi tentang ilmu pengetahuan, fotografi, olahraga, dan masalah-masalah dunia. Remaja putri menyukai subjek yang sama, tetapi lebih tertarik lagi pada cerita-cerita yang menunjukkan bagaimana gadis-gadis lainnya mengatasi masalah yang sama dengan yang mereka hadapi. Bagaimana membuat diri populer dan mengatasi rasa rendah diri merupakan topik yang menarik bagi pembaca remaja.

Remaja putra maupun putri sama-sama menyukai cerita kejuruan dan misteri. Mereka juga menyukai humor. Seorang pria yang terjatuh atau seorang gadis yang selalu salah omong, pasti memperoleh simpati mereka. Ketika menertawakan kesalahan orang lain, mereka menyadari kekurangan diri mereka sendiri.

Jika Anda menulis untuk kelompok umur ini, Anda memperoleh kesempatan yang indah untuk menyajikan tantangan-tantangan. Remaja membutuhkan prinsip-prinsip dan tujuan-tujuan hidup yang berguna. Berilah bimbingan, jangan berkhotbah. Kemaslah pernyataan Anda dalam gerak-tindak dan percakapan tokoh-tokoh cerita. Jika Anda melakukannya dengan sempurna, para pembaca tak akan menyadari bahwa mereka sedang belajar.

Penulisan Nonfiksi

Dalam dunia yang terus berubah ini, anak-anak dan pemuda membutuhkan fakta dan informasi. Sebagian besar pengetahuan baru ini diperoleh lewat bacaan. Seorang penulis yang mahir menyadari bahwa cara terbaik untuk mendidik pemuda adalah dengan memberi mereka materi untuk dipikirkan. Ia mengambil satu masalah yang sulit ditangani oleh mereka, memikirkannya, menganalisis dari berbagai sudut pandang, menyederhanakan idenya, dan menuangkannya dalam beberapa kalimat pendek yang jelas. Dengan menggunakan banyak ilustrasi, ia berusaha membuat idenya menarik perhatian.

Penulis menempatkan fakta-fakta dalam urutan yang logis dan membentuk apa yang telah diketahui pembaca sebelumnya. Ia berusaha menantang dan memuaskan rasa ingin tahu mereka.

Menilai Cerita yang Anda Buat

  1. Sudahkah cerita ini mengandung sesuatu yang umum bagi pengalaman hidup pembacanya?

  2. Akankah pembaca memahami cerita ini?

  3. Akankah cerita ini membangkitkan keingintahuan dan mengusik simpati pembaca?

  4. Apakah tokoh-tokohnya terasa hidup?

  5. Akankah para pembaca menyukai tokoh-tokoh ini seolah-olah mereka manusia biasa? Mengapa?

  6. Apakah percakapannya terasa wajar?

  7. Apakah percakapan itu dapat mengungkapkan karakter tokoh-tokoh yang berbicara?

  8. Apakah percakapan itu membantu mendorong gerak-tindak dari cerita atau menghalanginya?

  9. Sudahkah kata-kata yang digunakan menjelaskan wajah, bunyi, rasa atau bau dengan baik?

  10. Bagaimana cerita ini membantu perkembangan jiwa pembaca?

  11. Apakah masalah yang dihadapi tokoh utama benar-benar perlu dipecahkan? Mengapa?

  12. Apa halangan yang merintangi usaha tokoh utama? Apakah halangan itu cukup serius?

  13. Bagaimana tokoh utama menyelesaikan masalahnya? Apakah caranya tepat? Mengapa?

  14. Apakah alinea pembukanya langsung memikat pembaca dan membuat pembaca ingin terus membaca?

  15. Di mana klimaksnya? Bagaimana tokoh utama menyelesaikan masalahnya?

  16. Sudahkah akhir cerita terkait dengan pembukaan? Apakah akhir cerita merupakan akibat dari sesuatu yang terjadi sebelumnya?

  17. Apakah ceritanya membuat penasaran?

  18. Apakah perpindahan antarkalimat, alinea, dan adegan, sudah lancar dan mengalir?

  19. Hal penting apa yang harus diketahui oleh pembaca?

Diringkas dari:

Judul asli buku : Write the Vission

Judul buku terjemahan : Menjadi Penulis: Membina Jemaat yang Menulis
Judul asli artikel : Menulis untuk Anak-Anak dan Pemuda
Penulis : Marion van Horne
Penerjemah : Putu Laxman S. Pendit
Penerbit : PT BPK Gunung Mulia, Jakarta 2007
Halaman : 49 -- 54