Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Loading

Fiksi atau Non-Fiksi, itulah Pertanyaannya

Penulis : Tadeus

Fiksi atau non-fiksi? Barangkali tak sedikit penulis pemula yang masih mengalami kebimbangan dalam menentukan jenis tulisan mana yang akan mereka tekuni. Seperti sebuah katalog belanja, tulisan ini diharapkan dapat membantu Anda untuk dapat memperoleh sedikit gambaran mengenai keduanya, namun tentu saja, hanya Anda sendirilah yang dapat menentukan pilihan untuk diri Anda sendiri.

Sebagaimana halnya dengan penikmatnya, baik tulisan fiksi maupun non- fiksi juga memiliki pendukungnya masing-masing. Disini, yang disebut sebagai "pendukung" tulisan fiksi meliputi: novelis, cerpenis, dramawan dan kadang penyair pun sering dimasukkan ke dalamnya. Sementara untuk "pendukung" tulisan non-fiksi disini meliputi para jurnalis, esais, penulis biografi, feature, tulisan ilmiah dsb. Tentu tidak begitu sulit bagi kita untuk mengenali mereka.

Lalu apakah yang disebut dengan tulisan fiksi dan non-fiksi? Untuk fiksi, satu ciri yang pasti ada dalam tulisan ini adalah isinya yang berupa kisah rekaan. Kisah rekaan itu dalam praktik penulisannya juga tidak boleh dibuat sembarangan, unsur-unsur seperti penokohan, plot, konflik, klimaks, setting dsb adalah hal-hal penting yang memerlukan perhatian tersendiri. Meski demikian, dengan kisah (bisa juga data) yang asalnya dari imajinasi pengarang tersebut, tulisan fiksi memungkinkan kebebasan bagi seorang pengarang untuk membangun sebuah "kebenaran" yang bisa digunakan untuk menyampaikan pesan yang ingin ia sampaikan kepada pembacanya. Sementara itu, kebebasan yang dimiliki pengarang fiksi tadi di lain pihak juga memungkinkan adanya kebebasan bagi pembaca untuk menginterpretasikan makna yang terkandung dalam tulisan tersebut. Artinya, fiksi sangat memungkinkan adanya multi interpretasi makna. Bagi satu orang, novel JD Salinger yang berjudul "Catcher in the Rye" bisa dinilai sebagai sebuah novel yang dapat memperkaya pengetahuan tentang lika-liku kejiwaan manusia dan lingkungannya, namun novel yang sama juga dapat menginspirasi seorang bernama Mark David Chapman untuk membunuh pujaannya yakni John Lennon.

Berkebalikan dengan fiksi, tulisan non-fiksi mengutamakan data dan fakta yang tidak boleh dibumbui oleh imajinasi atau rekaan penulis. Dalam tulisan non-fiksi berbentuk jurnalistik, penyampaian fakta ini bahkan harus memenuhi unsur-unsur yang terdapat dalam satu pakem yang disebut 5W1H (What, Who, When,
WHERE, Why, How). Walau tidak sama, pentingnya referensi data ini juga menjadi syarat dalam tulisan yang lebih "bebas" seperti esai, feature, memoar, atau kesaksian. Namun, ini tidak berarti bahwa tulisan non-fiksi sama sekali tidak memberikan kebebasan bagi penulisnya. Penulis non- fiksi tentu saja dapat menuliskan tema apa saja yang ia inginkan, bedanya ia hanya harus menyampaikannya dengan data yang dapat dipertanggung jawabkan, minimal oleh dirinya sendiri. Bahkan dalam praktiknya, bisa dibilang topik untuk tulisan non-fiksi yang berupa opini atau feature juga lebih mudah ditemukan. Cukup dengan mengamati, menilai, atau memiliki usul, sebuah topik akan cepat didapat. Satu hal lagi yang membedakan tulisan non-fiksi dengan fiksi adalah kejelasan makna yang ingin disampaikan penulis dalam karyanya. Dengan menulis sebuah tulisan non-fiksi yang baik dan sistematis, pembaca akan lebih mudah digiring ke sebuah opini atau pesan yang ingin disampaikan penulis. Tanpa harus perlu mengartikan simbolisasi atau metafora pesan yang ingin disampaikan seperti yang terjadi pada cerita fiksi.

Pada perkembangan selanjutnya, fiksi zaman sekarang juga sudah berbeda dengan kisah fiksi lama yang sering identik dengan dongeng, tulisan fiksi saat ini tidak melulu berisi hal-hal atau cerita imajinatif dan penuh khayalan. Kita bisa melihat contohnya pada fiksi-fiksi yang ditulis dengan gaya realis. Tak jarang sebuah fiksi yang ditulis dengan gaya realis yang baik mampu membuat banyak pembaca lantas mengidentifikasikan kisah tersebut dengan kondisi nyata di sekeliling mereka. Fiksi (biasanya cerpen) yang ditulis dengan cara bertutur seperti sebuah jurnal atau laporan juga ada, bisa disebut juga novel klasik Poor People karangan Fyodor Dostoyevsky yang ditulis dengan gaya surat menyurat. Selanjutnya ada juga genre fiksi-ilmiah yang memadukan dasar-dasar ilmu sains ilmiah dengan kisah-kisah khayalan. Fiksi-fiksi yang antara lain dipopulerkan oleh penulis seperti HG Wells dan Isaac Asimov tersebut pada perkembangannya juga sering mengilhami penemuan-penemuan yang kita kenal saat ini. Berkebalikan dengan fiksi ilmiah yang biasanya mengemukakan hal-hal yang belum terjadi, kitapun mengenal adanya novel-novel sejarah. Mulai dari novel-novel Pramoedya Ananta Toer yang menyajikan cerita-cerita yang dilengkapi referensi sejarah sampai novel Da Vinci Code yang sebegitu "meyakinkan" nya "data" yang ia paparkan, hingga membuat banyak pemimpin Kristen kalang kabut dan orang Kristen bimbang akan fakta sejarah kekristenannya.

Hal sebaliknya juga terjadi di penulisan non-fiksi. Tulisan non- fiksi pun saat ini tidak selalu bergaya laporan yang kaku, penuh kutipan data serta referensi yang membuatnya "kering". Ini bisa dilihat dari dikenalnya jurnalisme sastrawi. Jurnalisme yang memakai estetika layaknya sastra dengan isinya yang menguak satu topik secara lebih dalam dan kadang juga disajikan dengan gaya sebuah narasi karya sastra. Jadi jurnalisme macam ini bukan saja melaporkan seseorang melakukan apa, tapi ia masuk ke dalam psikologi yang bersangkutan dan menerangkan mengapa ia melakukan hal tersebut. Hal serupa juga bisa kita lihat dari tulisan-tulisan feature, biografi, otobiografi, memoar, yang kini semakin banyak yang bisa kita nikmati seperti halnya membaca karya fiksi atau sastra.

Seorang penulis memang bebas untuk menulis apapun, baik fiksi atau non-fiksi. Tak ada yang melarang seorang sastrawan menulis tulisan ilmiah dan tak ada yang melarang seorang wartawan menulis novel. Tidak jarang pula kita mengenal penulis-penulis terkenal yang bisa menulis keduanya dengan sama baik. Namun biasanya seorang penulis tetap akan memiliki kecenderungan untuk memilih salah satunya. Faktor-faktor yang mempengaruhi pilihan ini juga bisa bersumber dari beberapa hal. Yang paling berpengaruh adalah faktor bacaan. Mengingat bahwa proses pembelajaran manusia pada awalnya adalah selalu dengan meniru, seorang penulis pemula yang lebih banyak membaca tulisan-tulisan yang berbentuk jurnal atau pendapat (non- fiksi) biasanya juga cenderung akan membuat tulisan-tulisan bergaya serupa. Hal sebaliknya juga terjadi pada penulis non-fiksi.

Faktor-faktor selanjutnya bisa berasal dari lingkungan, budaya dan sistem pendidikan. Disadari atau tidak, ini adalah faktor yang cukup berpengaruh. Misalnya pada budaya yang menganggap mengungkapkan pendapat secara langsung dan terus terang sebagai sesuatu yang tidak sopan atau bahkan subversif, tulisan fiksi yang memungkinkan penyampaian pendapat atau kritik lewat simbol-simbol biasanya akan dipilih. Demikian juga dengan metode pendidikan. Apa yang terjadi pada metode pengajaran di Indonesia adalah contoh yang mudah dilihat. Ketika bahkan pengajaran bahasa dan sastra Indonesia lalu diubah menjadi pelajaran yang hanya mementingkan penghafalan nama dan data- data saja, ketika para pengajarnya sendiri ternyata gagal menunjukkan bagaimana membuat sastra sebagai sesuatu yang menarik dan penting bagi kehidupan, maka menulis fiksi (atau bahkan menulis saja) pun dipandang sebagai aktifitas yang tidak ada gunanya. Faktor lain tentu adalah aspek psikologis penulis itu sendiri. Sebagaimana masing-masing manusia selalu memiliki salah satu belahan otak yang lebih dominan dalam bekerja, demikian pula seorang penulis selalu memiliki kecenderungan pilihan antara menulis fiksi atau non-fiksi. Melihat beberapa hal ini (terutama faktor-faktor yang berasal dari luar), paling tidak kita dapat mengetahui, atau juga mengarahkan pilihan kita atau orang lain dalam belajar menulis.

Sebagai penutup, tulisan ini sekali lagi memang tidak dimaksudkan untuk mengunggulkan atau menjelek-jelekkan baik tulisan fiksi atau non-fiksi. Sebagaimana menulis pada akhirnya lebih banyak berurusan dengan panggilan hati, menentukan fiksi atau non-fiksi juga tidak dapat dipaksakan. Yang lebih penting tentu adalah suarakan kebenaran, menulis dan menulislah!

Beberapa referensi:

  • Esai Andreas Harsono., Mengapa Jurnalisme Baru Ompong di Indonesia?
    Dari blog: http://andreasharsono.blogspot.com

  • Esai Alex R., Ketika Sastra Dibungkam maka Jurnalisme Harus Bicara.
    Dimuat di situs http://www.cybersastra.net/

  • N. J. Lindquist., Discover Fiction!
    Dimuat di situs : http://www.christianity.ca/