Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Loading

Pembaca Kritis Membangun Penulis

Ditulis oleh: Santi T.

Penulis Kristen bukanlah penulis yang bermotivasi untuk kepentingan diri, melainkan untuk kepentingan Kristus. Mengapa? Karena seorang penulis Kristen adalah seorang yang menyandang nama Kristus, sehingga melalui profesinya, ia harus melakukan apa yang menjadi kehendak-Nya.

Dalam Matius 28:18-20 (AYT) dikatakan, "... 'Semua kuasa telah diberikan kepada-Ku, di surga maupun di bumi. Karena itu, pergilah dan muridkanlah semua bangsa, baptiskanlah mereka dalam nama Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus, ajarkanlah mereka untuk menaati semua yang Aku perintahkan kepadamu; dan lihatlah, Aku selalu bersamamu, bahkan sampai kepada akhir zaman.'" Inilah yang harus dilakukan setiap penulis Kristen melalui tulisan mereka, yaitu memberitakan kebenaran firman Tuhan supaya banyak orang boleh mengenal Kristus. Selain itu, menulis merupakan aplikasi dari mengikuti teladan Allah dengan menuliskan apa yang baik, bermanfaat, dan berguna bagi kehidupan umat Allah. Dalam Keluaran 31:18; 32:19; 34:1-28, setelah Allah selesai berbicara kepada Musa di Gunung Sinai, Ia memberikan dua loh batu yang berisi tentang hukum Allah kepada Musa. Jari Allah sendiri yang menuliskannya di loh tersebut. Meskipun Musa telah memecahkan loh tersebut, Allah menyuruh Musa untuk memahatnya kembali pada kedua loh batu yang baru. Bukan hanya untuk ditulis pada loh batu, Allah juga berpesan kepada Musa untuk mengajarkan hukum-hukum tersebut kepada seluruh bangsa Israel sehingga kehidupan bangsa Israel bisa berkenan bagi Allah. Kisah ini mengajarkan kepada kita betapa pentingnya sebuah tulisan, terlebih konten tulisan yang harus membangun dan berguna bagi kehidupan rohani setiap orang percaya.

Apakah cukup hanya dengan menulis maka kebenaran Allah bisa diterima oleh para pembaca? Ketika Tuhan menggerakkan hati mereka, tidak dimungkiri bahwa kesempatan ini pun mungkin terjadi. Namun, tidak menutup kemungkinan juga, para pembaca bisa menangkap kebenaran firman Allah melalui diskusi ataupun melalui tanggapan demi tanggapan yang dilakukan melalui tulisan tersebut. Saat ini, dengan perkembangan media internet, para pembaca dimungkinkan untuk bisa memberi tanggapan terhadap suatu tulisan dengan lebih mudah. Banyak yang melakukannya melalui situs, blog pribadi, media sosial, forum diskusi, bahkan dengan mengirim email kepada penulisnya secara langsung.

Apa pentingnya tanggapan pembaca bagi penulis ataupun karya yang dihasilkan?

Tidak semua tanggapan dari pembaca merupakan hal yang buruk. Pembaca yang cerdas akan memberi tanggapan yang spesifik dan tepat sasaran mengenai sebuah karya yang dibacanya. Selain memiliki wawasan Alkitab dan pengetahuan yang luas, penulis juga harus memiliki hati dan pemikiran yang terbuka sehingga bisa menerima setiap tanggapan atas karyanya dengan sikap yang bijaksana. Tanggapan dari pembaca sangat penting, salah satunya sebagai tolok ukur seberapa besar dampak tulisan kita bagi pembaca. Meski tidak semua tanggapan pembaca bersifat membangun, tetapi sebagai penulis Kristen kita bisa merespons dengan tepat untuk memilah tanggapan yang membangun dan tidak.

Selain itu, tanggapan pembaca juga bisa menjadi masukan berharga bagi tulisan kita. Pembaca yang kritis akan mampu menemukan poin-poin penting dalam tulisan, yang jika disajikan dengan tidak hati-hati atau kurang sesuai fakta, pasti akan menjadi sorotan utama bagi mereka. Donald Graves pernah menyatakan bahwa pembahasan tentang penulisan akan sangat membantu bila ada diskusi antarpenulis. Dalam hal ini, pembaca kritis pun kemungkinan besar juga berprofesi sebagai penulis. Jadi, jika penulis Kristen mendapat kesempatan untuk melakukan diskusi antarpenulis, hal ini akan sangat menolong setiap penulis untuk lebih berkembang, baik dalam wawasan, teologia, maupun kemampuan menulis.

Bagaimana menyikapi tanggapan pembaca kritis terhadap konten tulisan kita?

Perlu kita ingat bahwa tidak ada penulis Kristen yang sempurna, dan yang sempurna hanyalah firman Allah. Untuk itu, sebagai penulis Kristen, kita harus memiliki hati dan pemikiran yang terbuka dalam menerima tanggapan atau kritikan tajam dari pembaca terhadap konten tulisan kita. Jika memang ada kesalahan dalam menyampaikan prinsip-prinsip tertentu, salah dalam penulisan, ataupun contoh yang disajikan ternyata kurang relevan dengan topik terkait, kita harus berani bertanggung jawab atas tulisan tersebut. Kita harus dengan terbuka menerima tanggapan atau kritikan dari pembaca, tanggapan/kritikan demi kebaikan kita, supaya kita pun dapat terus bertumbuh -- "Orang bodoh menolak didikan ayahnya, tetapi siapa mengindahkan teguran adalah bijak" (Amsal 15:5, AYT). Kita bisa melakukan revisi atau perbaikan dan mengonfirmasikan. Dalam hal ini, secara tidak langsung kita dididik untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas kita untuk mendalami firman Allah dan membaca banyak buku sebagai latihan bagi kita untuk terus melebarkan kapasitas pengetahuan dan menulis kita.

Di mana kita bisa mendapatkan pembaca yang kritis?

Pada zaman ini, perkembangan teknologi sangat memungkinkan setiap penulis untuk berelasi dengan para penulis lainnya di dunia maya, baik melalui media sosial, situs, blog pribadi, email, maupun fasilitas chatting lainnya. Relasi ini bisa dibina secara bertahap dan diharapkan bisa menjadi kesempatan baik bagi kedua belah pihak dalam memajukan literatur kekristenan di Indonesia. Misalnya, dengan berkunjung ke sebuah situs kepenulisan Kristen atau situs renungan Kristen, penulis bisa menemukan nama-nama penulis Kristen yang bisa diajak berelasi dan bertukar pikiran/pendapat. Baik penulis Kristen pemula maupun yang sudah senior bisa saling mendukung dalam aktivitas menulis, meningkatkan potensi menulis, dan memberi tanggapan terhadap hasil karya yang lain.

Mari para penulis Kristen, teruslah bersemangat dalam memberitakan Kabar Baik melalui tulisan-tulisan Anda. Gunakanlah kesempatan terbaik yang disediakan Allah, baik melalui media internet maupun pertemuan nyata, untuk membagikan tulisan Anda, berelasi dengan para penulis lainnya, berdiskusi, saling berbagi beban untuk kemajuan literatur Kristen, dan bertumbuh sebagai para penulis Kristen yang takut akan Allah.

Sumber bacaan:

  1. Stone, Randi. 2013. "Cara-Cara Terbaik untuk Mengajar Writing". Jakarta: PT Indeks. Hlm. 44.
  2. Yanti, Puji S.. 2008. "Menulis untuk Pembaca".
    Dalam http://pelitaku.sabda.org/menulis_untuk_pembaca
  3. WS, Titik. 2008. "Kode Etik dan Tanggung Jawab Penulis untuk Hasil Tulisan yang baik".
    Dalam http://pelitaku.sabda.org/kode_etik_dan_tanggung_jawab_penulis_untuk_hasil_tulisan_yang_baik
  4. Pranata, Xavier Quentin. 2002. "Menulis Dengan Cinta". Yogyakarta: Yayasan ANDI. Hlm. 17-18.