Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Masalah Peribahasa dan Pelesetan Bahasa

Saudari Thresnawati, siswi sebuah SMU di Jakarta, menyampaikan hal-hal berikut.

(1) Apa relevansi dan kegunaan mempelajari peribahasa yang sudah usang dan kuno itu?
(2) Mengapa peribahasa tidak berkembang, tetapi sepertinya juga tidak lenyap?
(3) Mengapa kata-kata dalam peribahasa tidak disesuaikan dengan perkembangan zamannya?
(4) Apa definisi idiom, jargon, dan slang? Mohon penjelasan!

Sdr. Murbandana, pemerhati bahasa, merasa jengkel dan kesal dengan pemakaian bahasa pelesetan. Alasannya, si lawan bicara harus sering kali terbengong-bengong sementara si pembicara merasa demikian bangga dengan pelesetannya yang menyulitkan lawan bicara. Artinya, dengan pelesetan bahasa, komunikasi tidak berjalan lancar. Mohon tanggapan?

Kami sependapat bahwa peribahasa tidak berkembang secara signifikan, tetapi peribahasa juga tidak akan lekang dimakan zaman. Pasalnya, peribahasa memiliki makna yang jauh lebih mendalam daripada sekadar ungkapan kiasan biasa. Dalam peribahasa, kita menemukan makna atau maksud penuturan bahasa secara tajam dan mendasar.

Boleh dibilang, kandungan falsafi sebuah ikon bahasa, dapat ditemukan pada hampir setiap peribahasa. Selain itu, peribahasa juga indah bunyinya. Peribahasa seperti sosok yang cantik dan anggun jika diungkapkan secara tepat dan kontekstual. Itulah beberapa alasan mendasar, kenapa peribahasa tidak pernah akan lenyap dimakan zaman. Peribahasa juga tidak akan pernah lapuk dimakan hujan.

Lalu, menafsirkan makna peribahasa tidak dapat semata-mata dilakukan dengan memahami makna kata-kata yang membentuknya. Langkah tersebut memang harus dilakukan, tetapi masih harus diteruskan dengan menggali makna imajinatifnya. Ketika menggali makna imajinatif itulah kita harus sampai pada hal yang paling mendasar dan mendalam. Itulah kenapa, mempelajari peribahasa merupakan kegiatan yang menantang dan selalu relevan di sepanjang zaman. Jadi, kendatipun banyak menggunakan kata atau ungkapan kuno atau arkhais, peribahasa tetap akan selalu relevan.

Ambil saja contoh peribahasa besar pasak daripada tiang. Kata pasak sudah tidak dikenal lagi sekarang. Dulu, tukang kayu tidak menggunakan paku besi untuk menyambung kayu. Mereka menggunakan pasak, yakni paku terbuat dari kayu. Kendati "pasak" sekarang sudah tidak dikenal, kata tersebut tidak perlu dimodernisasikan. juga KaLa- t kata seperti "biduk, tuba, talas, lumbung, galah" tetap boleh dipakai dan tidak perlu dimodernisasikan. Justru dengan memelihara ke-arkhais-an itu, peribahasa akan menjadi tetap indah, anggun, bermartabat, dan berwibawa.

Idiom dapat didefinisikan sebagai bentuk bahasa, lazimnya berupa kelompok kata, yang maknanya tidak dapat ditarik semata-mata dari pemahaman unsur-unsur pembentuknya. Kita paham dengan makna "panjang" dan "tangan" . Tetapi, makna "panjang tangan" tidak serta- merta sama dengan pemahaman kata-kata yang menjadi unsur pembentuknya itu. Kita mengerti makna "makan" dan "angin", tetapi idiom "makan angin", tidak dapat dimaknai dengan cara memaknai unsur-unsur pembentuknya secara terpisah.

Jargon, semula diartikan sebagai tuturan tidak santun yang cenderung vulgar. Kemudian, jargon dimaknai sebagai bahasa yang timbul karena adanya pertemuan antarbahasa sehingga terbentuklah bahasa perhubungan. Jadi, jargon dapat juga dimaknai sebagai lingua franca. Sekarang ini, jargon dapat digunakan untuk menunjuk kata-kata teknis dalam bidang ilmu atau bidang profesi tertentu. Contohnya, seorang dokter tidak akan mengatakan pisau bedah atau gunting bedah di depan pasien yang sedang dirawatnya. Dia akan menggunakan kata atau istilah tertentu alih-alih pisau dan gunting bedah yang terkesan menakutkan itu.

Lalu, slang lazimnya menunjuk pada kata-kata khas yang cenderung aneh dan lucu. Slang umumnya digunakan secara informal dalam percakapan- percakapan. Karena kekhasan, keanehan, dan kejenakaannya itu, slang cenderung memiliki daya yang kuat dan cukup efektif digunakan dalam percakapan oleh kelompok-kelompok tertentu. Untuk membentuk slang, orang sering kali memelesetkan kata-kata baku supaya terkesan absurd dan lucu. Misalnya, kata "juta" menjadi "jeti", istilah "ya lah" menjadi "iya la yau", dll. Untuk Sdr. Murbandana perlu dijelaskan bahwa pelesetan bahasa dalam batas-batas tertentu justru dapat membantu mengefektifkan dan menyegarkan komunikasi. Juga, dalam batas-batas tertentu pelesetan bahasa dapat mengakrabkan pihak-pihak yang terlibat di dalam komunikasi itu. Sebagai salah satu wujud permainan bahasa, dapat juga pelesetan digunakan untuk mendeteksi kecerdasan dan kepiawaian seseorang dalam berbahasa.

Seperti halnya slang, bahasa yang dipelesetkan juga mengandung aspek-aspek absurd dan jenaka. Maka, apabila digunakan secara benar-benar tepat dan kontekstual, pelesetan bahasa dapat meningkatkan dan menyegarkan komunikasi. Tetapi apabila digunakan secara sembarangan dan berlebihan, pelesetan bahasa justru menjengkelkan dan membosankan. Jika demikian yang terjadi, komunikasi yang dijalankan dipastikan tidak mencapai sasaran.

Diambil dari:

Nama buku : Bulir-bulir Masalah Kebahasaindonesiaan Mutakhir
Penulis : Dr. R Kujana Rahardi, M.Hum.
Penerbit : Dioma, 2007
Halaman : 123 -- 126

Komentar