Menceraikan yang Dipersatukan

Oleh: indonesiasaram

Ayat Alkitab yang boleh dibilang mencegah kawin-cerai dalam kehidupan orang Kristen ialah Matius 19:6 (lihat juga Markus 10:9). Ayat tersebut berbunyi sebagai berikut.

"Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."

Ampuhkah ayat tersebut mengambil peran sebagai rem? Saya tidak bisa memastikan. Apalagi kawin-cerai sudah menjadi gaya hidup bagi masyarakat dunia. Mungkin saja ayat tersebut sudah tidak lagi dipakai dalam pemberkatan nikah. Mungkin juga masih dipakai sebagai bagian dari formalitas.

Menceraikan apa yang dipersatukan Allah boleh dianggap sebagai hal yang tidak patut. Namun, menceraikan apa yang dipersatukan manusia, bagi saya adalah hal yang wajar kalau berhubungan dengan bahasa. Apalagi bila ternyata mereka (bentuk bahasa tersebut) memang tidak sepantasnya dipersatukan.

Masyarakat bahasa memang sering kali bertindak semena-mena terhadap bahasanya sendiri. Alhasil, selain menimbulkan kesalahpahaman dengan sesamanya, mereka juga melabrak semua kaidah dan batasan yang telah diberikan. Persis seperti orang Israel yang melanggar perintah Allah, tepat setelah mereka berjanji akan mematuhi segala perintah Tuhan (Keluaran 19:8) dengan membuat patung lembu emas (Keluaran 32:1).

Beberapa bentuk yang sebenarnya tidak boleh dipersatukan, namun sering kali harus menjalani "kawin paksa" ialah sebagai berikut.

  • sering kali
  • acap kali
  • kerap kali
  • terima kasih
  • tanggung jawab
  • rumah sakit
  • Juru Selamat

Hampir serupa dengan hal ini, penggunaan partikel pun juga memiliki kondisi di mana penulisannya harus terpisah. Kondisi yang dimaksud ialah apabila pun bisa digantikan dengan kata juga dan saja.

  • apa pun
  • itu pun
  • siapa pun
  • mana pun

Sebaliknya, ada pula sejumlah kosakata yang sering diceraikan oleh para pengguna bahasa. Padahal seyogianya kosakata tersebut merupakan satu kesatuan. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut.

  • barangkali
  • kosakata
  • sukacita
  • dukacita
  • pascaperang
  • prasejarah

Daftar di atas masih berupa daftar yang pendek. Pada kenyataannya, Anda pasti akan menemukan kosakata yang lain yang lebih banyak lagi dari yang saya kemukakan.

"Kawin paksa" dan "perceraian" kata yang dilakukan masyarakat bahasa sebenarnya adalah hal yang wajar terjadi. Di satu sisi, perkembangan bahasa menyebabkan penulisan kata yang dahulu ditulis dua kata, kini menjadi satu kata. Sejumlah literatur bahasa bertahun-tahun yang lalu masih menuliskan "kosa kata", bukan "kosakata". Tidak heran apabila banyak pihak yang menjadi bingung untuk memilih bentuk mana yang hendak digunakan.

Kondisi ini memang memaksa masyarakat bahasa untuk bergiat mencermati penggunaan bahasa, khususnya kosakata, melalui berbagai media. Dan media yang saya kira paling cocok untuk hal ini ialah surat kabar.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Nama situs : Corat-Coret Bahasa
Penulis : indonesiasaram
Alamat URL : http://indonesiasaram.wordpress.com/2008/03/30/menceraikan-yang-dipersatukan/

Menceraikan Yang Dipersatukan