Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Loading

Kata Ulang

Diringkas oleh: Puji Arya Yanti

Kata ulang dapat dibahas dengan meninjaunya dari segi bentuk dan dari segi makna atau fungsi perulangan kata.

 

  1. Bentuk Kata Ulang
    Menurut bentuknya, kata ulang dapat dibagi sebagai berikut.

    1. Kata ulang penuh atau kata ulang murni, yaitu semua kata ulang yang dihasilkan oleh perulangan unsur-unsurnya secara penuh.
      Misalnya: rumah-rumah, sakit-sakit.
    2. Kata ulang berimbuhan atau kata ulang bersambungan, yaitu semua kata ulang yang salah satu unsurnya berimbuan: awalan, sisipan, atau akhiran.
      Misalnya: berjalan-jalan, turun-temurun, tanam-tanaman.
    3. Kata ulang berubah bunyi, yaitu kata ulang yang mengalami perubahan bunyi pada unsur pertama atau unsur kedua kata ulang.

      Misalnya: bolak-balik, serba-serbi.

    4. Kata ulang semu, yaitu kata yang hanya dijumpai dalam bentuk ulang itu. Jika tidak diulang, komponennya tidak memunyai makna atau bisa juga memunyai makna lain yang tidak ada hubungannya dengan kata ulang tersebut.
      Misalnya: hati-hati, tiba-tiba, kunang-kunang.
    5. Kata ulang dwipurwa, yang berarti "dahulu dua" atau kata ulang yang berasal dari komponen yang semula diulang kemudian berubah menjadi sepatah kata dengan bentuk seperti itu. Kata ulang ini disebut juga reduplikasi, yang berasal dari bahasa Inggris "reduplication" yang berarti perulangan. Sebenarnya semua kata ulang juga dapat disebut reduplikasi.
      Misalnya: lelaki, tetua.
  2. Makna dan Fungsi Kata Ulang
    1. Perulangan kata benda
      Makna yang terkandung dalam perulangan dengan bentuk dasar kata benda.

      1. Menyatakan benda itu bermacam-macam. Misalnya: buah-buahan, sayur-sayuran.
      2. Menyatakan benda yang menyerupai bentuk dasar itu. Misalnya: anak-anakan, orang-orangan.
    2. Perulangan kata kerja
      Makna yang terkandung dalam perulangan dengan bentuk dasar kata kerja.

      1. Menyatakan bahwa pekerjaan itu dilakukan berulang-ulang atau beberapa kali.
        Misalnya: meloncat-loncat, menyebut-nyebut.
      2. Menyatakan aspek duratif, yaitu proses pekerjaan, pembuatan, atau keadaan yang berlangsung lama.
        Misalnya: berenang-renang, duduk-duduk.
      3. Menyatakan bermacam-macam pekerjaan.
        Misalnya: cetak-mencetak, karang-mengarang.
      4. menyatakan pekerjaan yang dilakukan oleh dua belah pikak atau berbalasan.
        Misalnya: tembak-menembak, tuduh-menuduh
    3. Perulangan kata sifat
      Makna yang terkandung dalam perulangan dengan bentuk dasar kata sifat.

      1. Menyatakan makna lebih (intensitas).
        Misalnya: Berjalan cepat-cepat! Kerjakan baik-baik!
      2. Menyatakan makna sampai atau pernah.
        Misalnya: Tak sembuh-sembuh sakitnya walaupun ia sudah berobat ke luar negeri (tak pernah sembuh). Habis-habisan ia berbelanja (sampai habis).
      3. Digabungkan dengan awalan se- dan akhiran -nya mengandung makna superlatif (paling).
        Misalnya: Kerjakan sebaik-baiknya agar hasilnya memuaskan. Terbangkan layang-layangmu setinggi-tingginya.
      4. Berlawanan dengan makna nomor satu atau melemahkan arti kata sifat itu.
        Misalnya: Badanku sakit-sakit saja rasanya. (sakit di sana-sini, tapi tidak terlalu sakit) Kalau kepalamu pening-pening, bawalah tidur. (agak pening; pening sedikit)
      5. Bentuk yang seolah-olah sudah mejadi ungkapan dalam bahasa Indonesia, makna perulangannya kurang jelas.
        Misalnya: Jangan menakut-nakuti anak-anak karena akan memengaruhi jiwanya kelak.
    4. Perulangan kata bilangan
      1. Perulangan kata satu menjadi satu-satu memberi makna "satu demi satu".
        Misalnya: Peserta ujian masuk ruangan itu satu-satu.
      2. Perulangan kata satu dengan tambahan akhiran -nya memberi makna "hanya satu itu".
        Misalnya: Ini anak saya satu-satunya.
      3. Perulangan kata dua-dua, tiga-tiga, dst. memberi pengertian "sekaligus dua, tiga, dst.".
        Misalnya: Jangan masuk dua-dua karena pintu itu tidak lebar.
      4. Bentuk perulangan berpuluh-puluh, beratus-ratus, beribu-ribu, dst. menyatakan makna "kelipatan sepuluh, seratus, seribu, dst..
        Misalnya: Beribu-ribu orang yang mati dalam peperangan itu.
        Bentuk perulangan kata bilangan dengan awalan ber-, saat ini sering diganti dengan bentukan dengan akhiran -an. Misalnya: berpuluh-puluh menjadi puluhan.

 

Diringkas dari:

Judul buku : Membina Bahasa Indonesia Baku
Judul bab : Kata Ulang
Penulis : DR. J.S. Badudu
Penerbit : Pustaka Prima, Bandung 1985
Halaman : 21 -- 28