Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Loading

Literatur Kristen Lebih Penting daripada Bangunan Gedung Gereja

Akhir bulan Juni 1997 yang lalu, Pdt. Peter Wongso diundang oleh Sinode GKKK sebagai pembicara utama Retret Pimpinan Kalam Kudus di Kaliurang, Yogyakarta. Sebelum melanjutkan perjalanan pelayanannya ke manca negara, beliau sempat singgah di SAAT beberapa hari. Dalam persinggahan tersebut redaksi majalah HUT GKKK Semeru Malang ke-30 yang diwakili Pdt. Timotius Witarsa, mewawancarai beliau. Petikannya adalah sebagai berikut:

Red : Apakah makna literatur Kristen bagi Bapak?

PW : Pertama, Allah mengkomunikasikan melalui tulisan (Alkitab). Adapun tujuan dan pengkomunikasian tersebut adalah supaya manusia dari generasi ke generasi dapat mempelajari firman Tuhan dengan bahasa yang dimengerti. Pembelajaran firman Tuhan yang dimaksud, diharapkan membuahkan pengenalan akan kehendakNya dan menjadikannya prinsip dalam kehidupan.

Kedua, literatur Kristen dengan segala wacana dan penggolongannya, dalam perjalanan sejarah gereja dan kehidupan saya pribadi, telah banyak memberi sumbangsih dalam pembentukan dasar, konsep, pedoman iman dan kelakuan.

Ketiga, literatur memunyai pengaruh yang melampaui zaman. Pemikiran teolog-teolog besar dalam sejarah dapat kita pelajari dan terus dapat dikaji melalui karya mereka.

Berdasarkan hal di atas, saya mempunyai beban untuk terus belajar dan menulis berbagai buku, sebab bagi saya, Literatur Kristen lebih penting daripada bangunan gedung gereja.

Red Bagaimana kisah awal pelayanan Bapak dalam bidang literatur?

PW : Saya diselamatkan Tuhan pada bulan Juli 1951. Sejak saat itu saya memiliki beban penginjilan pribadi. Dari pengalaman menginjili orang- orang di kota Medan, saya mulai memikirkan metode yang tepat guna. Kemudian terpikir oleh saya untuk mengabarkan Injil lewat tulisan yang dicetak seperti koran dan didistribusikan seperti koran juga. Beban ini kemudian saya bagikan dalam persekutuan pemuda di gereja. Mereka menyambut ide ini dan meminta saya untuk mulai menulis. Tulisan- tulisan saya untuk pekabaran Injil mulai dan tahun 1951 beroplah 5.000 eksemplar hingga pada bulan Oktober 1958 menjadi 18.000 eksemplar, dalam bahasa Mandarin. Selanjutnya, semasa saya menjadi mahasiswa di SAAT, saya membaca dan mengadakan analisa Alkitab. Dan pembacaan dan analisa tersebut, saya kemudian menuangkannya dalam berbagai naskah khotbah. Selepas dari SAAT, saya mengajar di Sekolah Alkitab Medan. Untuk memperlancar proses belajar mengajar, saya menulis diktat dan menerjemahkan buku-buku dari bahasa Inggris ke bahasa Mandarin. Demikianlah kronologi pelayanan saya dalam bidang literatur yang masih terus saya kembangkan hingga saat ini.

Red : Dari manakah Bapak menggali sumber-sumber tulisan?

PW : Saya percaya Alkitab memiliki kewibawaan yang cukup untuk menjawab seluruh problematika yang muncul dalam kehidupan manusia. Oleh sebab itu, tulisan-tulisan saya selalu bersumber pada Alkitab. Boleh dikatakan Alkitab adalah sumber inspirasi yang tidak pernah kering. Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru memiliki cakupan dimensi yang sangat luas, apakah itu soal peperangan, kekerasan, seks, arti hidup, pekerjaan, uang, dan sebagainya.

Red : Hingga saat ini, berapa banyak karya tulis Bapak?

PW : Diktat yang kemudian banyak diterbitkan sebagai buku sebanyak 49 buah. Karya terjemahan 23 buku. Selain itu ada juga buku dalam bahasa Indonesia sebanyak 29 buku, bahasa Mandarin ada 43 buku. Artikel- artikel lain yang tersebar dalam berbagai bahasa, saya tidak ingat.

Red : Apa kiat Bapak dalam menulis?

PW : Menurut pengalaman saya dalam soal tulis-menulis diperlukan dua hal yang mendasar dan saling terkait, yakni kerajinan dan kedisiplinan. Rajin mengamati dan mengumpulkan bahan-bahan tulisan. Disiplin dalam menuliskannya sesuai dengan target waktu yang telah ditetapkan.

Red : Bagaimanakah pengaruh karya tulis Bapak selama ini?

PW : Pertama harus saya katakan bahwa orang Asia jarang memberikan komentar secara langsung, baik kritik maupun ucapan terima kasih. Namun demikian saya bersyukur di antara yang sedikit tersebut, cukup banyak yang menyaksikannya kepada saya bahwa mereka mendapat berkat setelah membaca buku karangan saya. Di antaranya ada satu orang Tionghoa di Jepang yang bertobat setelah membaca tulisan saya mengenai tujuh surat untuk gereja-gereja di Asia kecil, pada tahun 1961. Berikutnya Dr. Felix Liu, menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan, melalui membaca karya terjemahan saya dari buku karangan Oswald Smith. Ia mendapat dorongan untuk menetapkan panggilan Tuhan. Beberapa mahasiswa dari Cina yang belajar di Australia, menyaksikan pertobatannya setelah membaca dan mempelajari buku Dasar-dasar Iman Kristen. Terakhir, banyak Pendeta dan gereja memakai buku tafsiran saya sebagai bahan khotbah dan PA.

Red : Apakah suka duka Bapak dalam menulis?

PW : Selama menulis, saya hanya menikmati rasa suka, sedangkan duka belum pernah. Persinggungan dan perjumpaan saya dengan kebenaran dalam Alkitab selalu membuahkan satu hal: sukacita! Kemudian tatkala kebenaran tersebut saya tuangkan dalam bentuk tulisan, dibaca dan menjadi berkat, ada kepuasan yang tidak dapat dinilai dengan apapun.

Red : Apa yang Bapak nasihatkan, seandainya ada penulis pemula minta nasihat Bapak?

PW : Pertama, seorang penulis Kristen harus mengalami kelahiran baru. Kedua, memiliki sikap dan ketekunan dalam membaca Alkitab. Ketiga, terus mengembangkan wawasan dengan mengasah pikiran dan membaca berbagai buku dari pelbagai disiplin ilmu. Rajin menulis dan mempublikasikannya walau awalnya mungkin tidak lancar. Terakhir, mengenali tulisan seorang penulis melalui karya tulisannya secara utuh, baik pada usia muda, paruh baya, dan lansia. Melalui pembelajaran tersebut, diharapkan seorang penulis pemula dapat belajar dari penulis senior, untuk menemukan pola dan gaya bagi tulisannya sendiri.

Red : Apakah pesan khusus dari Bapak kepada GKKK Semeru, yang tahun ini merayakan hari ulang tahunnya yang ke30?

PW : Pertama, saya mengucapkan selamat. GKKK Semeru sejak berdiri tahun 1967 sampai sekarang adalah gereja yang diberkati.

Kedua, pesan saya adalah sebagai berikut

1. Budayakan pembinaan melalui kelompok kecil untuk mencapai masyarakat kota Malang dan sekitarnya melalui Pekabaran Injil

2. Pikirkan pembentukan Komisi Penyerahan Diri, yang secara khusus mengkonsentrasikan diri pada pelayanan pemuda-pemudi yang terpanggil untuk menjadi hamba Tuhan, khususnya misionaris. Sebuah gereja yang memiliki dan mengutus misionaris, wahana pelayanannya akan luas; tidak saja bersifat lokal tetapi internasional.

3. Pikirkan pembentukan Komisi Misi. Bagi saya, gereja yang tidak mengabarkan Injil adalah gereja yang sedang menuju dan menunggu hari kematiannya. Tanda gereja yang hidup adalah adanya saksi-saksi penginjilan yang berkesinambungan, oleh sebab itu pikirkan dan hidupkan jiwa misioner dalam bergereja.

4. Pikirkan pembinaan dan pelayanan melalui mass media. Sekarang zaman sudah berubah. Konteks pelayanan berkembang dengan cepat. Oleh sebab itu apabila gereja tidak mau menjadi "besi tua." Ini harus terus memikirkan "kemasan-kemasan" pelayanan yang relevan dan up to date, salah satunya, pelayan melalui internet.

Diambil dari:
Judul artikel: Literatur Kristen Lebih Penting daripada Bangunan Gereja
Judul buku: Hamba Tuhan dan Jemaat Kristus yang Melintasi Zaman
Penulis: Peter Wongso
Penerbit: SAAT (Malang, 2002)
Halaman: 167 -- 177