Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Loading

Mengapa Kesaksian?

Penulis: Ary Cahya Utomo

Breaking News di Metro TV:
"Tembak Menembak di Sebuah Villa di Batu, Malang; Seorang yang Diduga Dr. Azahari Dikabarkan Tewas."

Tak lama kemudian, stasiun televisi berita itu segera mengadakan hubungan telewicara dengan Dwi, salah seorang penduduk di lokasi kejadian yang dengan cukup detail menceritakan apa yang ia lihat dan rasakan pada waktu kejadian itu terjadi. Mengapa Metro TV lebih memilih menghubungi warga biasa seperti Dwi dan bukannya pengamat intelijen yang tentu lebih mengetahui banyak hal mengenai terorisme dan langkah-langkah detasemen 88 yang memburu Azahari? Banyak dari kita mungkin dengan cepat akan memberi alasan, karena Dwi berada di tempat kejadian dan menyaksikannya secara langsung. Atau bisa juga, karena orang lebih tertarik mendengarkan kisah Dwi yang sederhana dan apa adanya daripada penjelasan seorang pengamat intelijen yang tidak menyaksikan langsung kejadian itu. Pengamat intelegen akan cenderung memaparkan perkiraan kejadian dan teori-teori yang tidak semua orang dapat memahaminya. Kesaksian, dalam beberapa kasus memang dapat mempunyai bobot yang sama atau bahkan lebih daripada kajian-kajian ilmu dan teori ilmiah mengenai suatu hal. Semua orang pada dasarnya dapat memberikan kesaksian, namun satu syarat yang harus dipenuhi yaitu ia harus benar-benar mengalami sendiri kejadian tersebut.

Bagaimana dengan kesaksian dalam dunia penulisan? Untuk membawakan kesaksian lisan dan kesaksian tertulis yang baik, nampaknya memang ada beberapa perbedaan yang patut dicermati.

Secara teknis, yang utama adalah penekanan unsur-unsurnya. Kesaksian lisan bisa lebih efektif daripada kesaksian tertulis, karena dapat memberikan penekanan pada aspek penampilan dan performa orang yang membawakannya. Dalam hal ini meliputi intonasi suara, gerak tubuh, ekspresi wajah, tatapan mata dan mungkin juga alat bantu visual lainnya. Dalam penyampaian lisan, hal-hal tersebut seringkali sangat mempengaruhi bagaimana penonton/pendengar menangkap atau memaknai pesan yang diberikan. Tapi bagaimanapun, hal terkuat dalam kesaksian lisan adalah jika pembawa kesaksian tersebut adalah saksi mata yang melihat dan mengalami kejadian itu secara langsung.

Hal ini agak berbeda dengan kesaksian tertulis. Kesaksian tertulis tidak harus ditulis berdasarkan pengalaman si penulis, bisa jadi itu adalah pengalaman orang lain yang diceritakan pada penulis, yang berupa hasil tanya jawab. Secara teknis, unsur yang perlu ditekankan dalam menulis kesaksian adalah pada cara penggambaran kejadian yang dapat menjadi penguatan kesan yang ingin disampaikan. Penguatan kesan disini lebih berhubungan dengan bagaimana kelihaian penulis dalam mengemas dan menampilkan perasaan yang dirasakan narasumber ketika mengalami satu kejadian. Ingat, tulisan dapat memberi kesempatan pembaca untuk berhenti sewaktu- waktu dan membayangkan kejadian yang diceritakan. Pilihan kata-kata dan penggambaran yang tepat adalah dua aspek yang akan membantu mereka dapat membayangkannya dengan baik.

Mengapa orang memakai kesaksian? Alasan utama sudah dikemukakan lewat kasus Dwi di atas, bahwa kesaksian seringkali dipilih karena sifatnya yang lebih "manusiawi". Ini juga terungkap lewat salah satu motto surat kabar "People want to read about people" (orang ingin membaca mengenai orang lain). Dalam hal penginjilan pun (bahkan seperti yang telah Yesus lakukan) sudah umum diketahui bahwa kesaksian atau kisah-kisah mengenai manusia jauh lebih mudah diterima daripada penjelasan doktrin-doktrin yang abstrak.

Kapan orang memakai kesaksian? Kesaksian, yang juga banyak digunakan dalam bidang periklanan saat ini, pada dasarnya digunakan saat kita ingin mempromosikan sesuatu. Namun, berbeda dengan promosi lewat khotbah atau pidato, yang menjadi unsur utama dalam promosi lewat kesaksian adalah teknik untuk membuat kisah tersebut dapat dihubungkan dengan satu tujuan menyampaikan kesaksian (misalnya pengenalan akan Yesus). Sebuah kesaksian yang efektif seharusnya dapat menghubungkan pikiran obyek (pembaca/penonton) ke tujuan yang ingin disampaikan. Kesaksian diharapkan dapat menuntun pendengarnya kepada suatu keyakinan yang pada akhirnya kepada satu keputusan (misalnya bertobat dan percaya pada Yesus).

Seperti telah disinggung di atas, karena kesaksian bukanlah sekedar cerita yang tidak memiliki tujuan tertentu (dan bahkan tujuan itulah yang paling penting), kesaksian yang baik memiliki beberapa sifat dan persyaratan:

  1. Nyata dan subyektif.
    Kesaksian berisi cerita yang benar-benar terjadi, oleh karenanya harus jujur dan tidak ditambah-tambahi. Namun demikian, fakta yang disampaikan sendiri bersifat subyektif yang artinya disampaikan berdasar interpretasi dan perasaan pribadi narasumber terhadap suatu kejadian. Lewat subyektivitas inilah, kejelian seorang penulis kesaksian ditantang, yakni bagaimana membuat fakta yang dimiliki dapat menjadi kekuatan untuk meyakinkan pembaca.
  2. Umum dan manusiawi.
    Karena target pembaca kesaksian adalah mereka yang belum tahu, maka suatu kesaksian juga harus bersifat umum, membumi dan mudah diterima oleh pembaca. Penggunaan ekspresi serta kata-kata khusus yang tidak diketahui oleh target pembaca, apalagi jika tidak disertai penjelasan, sangat tidak dianjurkan. Unsur kemanusiawian (human interest) juga harus ditonjolkan karena hal inilah yang membuat kesaksian lebih digemari daripada bentuk publikasi lainnya. Sebuah kesaksian yang dimaksudkan sebagai sarana penginjilan namun hanya menceritakan tentang hal baik dalam hidup Anda kini, atau yang melebih-lebihkan seperti sebuah tabloid akan membuat pembaca non- Kristen bosan, tidak respek dan bahkan merasa direndahkan.
  3. Mengarahkan namun juga memberi kebebasan.
    Meski kesaksian dipakai untuk meyakinkan dan membawa pembaca ke suatu keputusan, kita harus ingat bahwa kesaksian disini hanyalah sebuah sarana. Kesaksian tentang Injil bukanlah Injil itu sendiri. Pembaca tidak akan merasa nyaman ketika membaca kesaksian yang menyudutkan atau menghakimi dirinya. Walaupun Anda sekarang sadar bahwa merokok memang sebuah kebiasaan buruk yang merugikan kesehatan, namun mengatakan "Akhirnya saya sadar bahwa merokok adalah kebiasaan yang bodoh dan sama sekali tidak ada manfaatnya, oleh karenanya saya menghimbau agar semua orang segera berhenti merokok" lagi-lagi hanya akan membuat pembaca merasa dianggap bodoh dan tidak memiliki pilihan. Berikan kebebasan dan ruang bagi pembaca untuk memikirkan cerita Anda. Subyektivitas yang Anda bagikan hendaknya juga memberi ruang bagi subyektivitas orang lain. Tak jarang, lewat kebebasan berinterpretasi ini pula, makna yang didapat seseorang bisa lebih dalam dari yang pernah Anda perkirakan.
  4. Menonjolkan satu peristiwa.
    Kesaksian mempunyai tanggung jawab terhadap tujuan yang diembannya. Karenanya, menjaga cerita untuk tetap di jalurnya adalah penting. Buku mengenai kesaksian seorang bekas tawanan perang mungkin akan memuat sedikit gambaran mengenai latar belakang masa sebelum perang itu berlangsung, tapi tetap saja sebagian besar isinya akan menonjolkan satu bagian dari masa hidupnya yang berkaitan dengan tujuan atau pesan yang ia ingin bagikan.
  5. Menampilkan perubahan.
    Karena kesaksian pada hakekatnya digunakan sebagai sarana tidak langsung untuk mempengaruhi seseorang supaya berubah, maka kesaksian itu sendiri harus menampilkan satu perubahan. Paling tidak, berikan gambaran mengenai apa yang terjadi sebelum dan sesudah mengalami satu kejadian yang membuat Anda menjadi seperti sekarang. Namun, jangan lupa pula untuk tetap berusaha menghubungkan perubahan itu dengan pesan yang sebenarnya ingin Anda sampaikan.