Dua Bahasa Saja Tidak Cukup

Banyak orang mengira menguasai dua bahasa adalah cukup untuk menjadi penerjemah. Padahal kenyataannya tidak demikian. Untuk menjadi penerjemah, ada beberapa modal yang perlu dimiliki -- penguasaan dua bahasa hanyalah beberapa di antaranya.

Penguasaan bahasa asing menjadi syarat utama menjadi penerjemah. Penguasaan ini bukan hanya berupa kemampuan untuk menggunakannya dalam komunikasi sehari-hari saja. Seorang penerjemah juga harus menguasai aturan tata bahasa dan konvensi yang ada. Ini penting karena untuk memahami arti sebuah teks, tidak cukup hanya dengan mengetahui arti kata dalam teks tersebut. Penerjemah yang tidak menguasai tata bahasa dan konvensi bahasa asing yang menjadi bahasa sumber, biasanya menghasilkan terjemahan yang keliru, karena tanpa sengaja menghilangkan makna tertentu pada teks sumber atau menambah makna baru pada teks terjemahannya.

Penguasaan bahasa sasaran, dalam hal ini biasanya bahasa Indonesia, merupakan hal yang penting. Penguasaan bahasa asing membuat penerjemah dapat memahami dan mengerti isi teks yang akan diterjemahkan. Namun, jika penerjemah tidak menguasai bahasa Indonesia dengan baik, hasil terjemahannya akan sulit dibaca. Penggunaan kata yang salah eja atau penggunaan kata yang tidak baku, membuat pembaca tidak mampu menangkap makna pada teks terjemahan kita.

Dengan hanya menguasai bahasa sumber dan bahasa sasaran seperti di atas, kita tidak serta-merta dapat menerjemahkan dengan baik. Penerjemahan tidak hanya sekadar menggantikan teks bahasa sumber menjadi teks bahasa sasaran. Proses penerjemahan seperti ini dapat kita lihat hasilnya pada penerjemahan mesin (machine translation) yang berbasis tata bahasa. Hasil penerjemahan mesin biasanya memiliki tingkat keterbacaan yang rendah dan sulit dipahami, karena hanya menukar kata dan kalimat dalam bahasa sumber dengan bahasa sasaran, tanpa memerhatikan konteks dan hanya mengandalkan makna kamus. Untuk menghasilkan terjemahan yang baik, seorang penerjemah setidaknya perlu memiliki dua modal lainnya, yaitu keterampilan membaca dan keterampilan menulis.

Modal pertama -- keterampilan membaca. Keterampilan membaca mencakup keterampilan untuk memahami teks secara keseluruhan, mengenali konteks, menangkap dengan baik makna yang tersurat maupun tersirat, mengenali gaya tulisan yang digunakan, dan sebagainya. Penerjemah yang tidak memiliki keterampilan membaca, meskipun sangat menguasai bahasa sumber, akan menghasilkan terjemahan yang maknanya secara kontekstual tidak tepat. Penerjemah seperti ini, biasanya terpaku pada setiap kata dan kalimat teks yang diterjemahkannya, sehingga tidak mampu memahami teks secara keseluruhan. Hasil terjemahan akan menjadi terbata-bata, sulit dipahami secara utuh.

Modal kedua -- keterampilan menulis. Terjemahan karena bentuknya yang berupa tulisan, menuntut penerjemahnya untuk menguasai keterampilan menulis. Orang yang menguasai dua bahasa dan memiliki keterampilan membaca tapi tidak memiliki keterampilan menulis, akan menghasilkan terjemahan yang kaku dan literal. Hasil terjemahan biasanya mudah dikenali sebagai teks terjemahan. Meskipun secara tata bahasa tidak ada yang salah, namun terjemahan yang dihasilkan biasanya memiliki unsur-unsur bahasa asing yang kental. Sebaliknya, penerjemah yang memiliki keterampilan menulis, biasanya mampu menghasilkan terjemahan yang luwes dan mudah dibaca. Keluwesan ini sebenarnya tercipta dari kemampuan penerjemah memanfaatkan berbagai teknik penulisan di dalam terjemahannya.

Kedua keterampilan di atas, ditambah dengan penguasaan dua bahasa, dapat menjadi modal seorang penerjemah untuk menghasilkan terjemahan yang baik -- penguasaan dua bahasa saja tidaklah cukup. Untuk menghasilkan terjemahan yang baik, seorang penerjemah hendaknya tidak hanya mempelajari bahasa sumber dan bahasa sasaran yang menjadi bahasa kerjanya, tapi juga mempelajari keterampilan membaca dan menulis. Pelatihan dan lokakarya kedua keterampilan tersebut, dapat menjadi upaya penerjemah untuk meningkatkan keterampilannya dalam menerjemahkan.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Nama situs : Bahtera
Alamat URL : http://blog.bahtera.org/
Penulis : Ade Indarta
Tanggal akses : 25 April 2011

Comments

2

Setuju dengan artikel di atas! Awalnya aku kira bisa bahasa Inggris aja udah cukup. Ternyata banyak yang perlu dipelajari ya untuk jadi penerjemah yang handal...

Ada tidak cara menilai terjemahan? supaya penilaiannya lebih objektif...