Menciptakan Gaya

Gaya menulis dapat dibagi-bagi berdasarkan beberapa acuan titik tolak.

SERIUS VS KOCAK

Serius atau kocak di sini bisa bermakna baik integral (keseluruhan atau menyeluruh) maupun parsial (sebagian-sebagian atau per bagian). Anda pernah membaca "Don Quixote" karangan Miguel de Cervantes? ini adalah cerita klasik tentang kisah kocak. Sepanjang cerita berbagai pengalaman dan petualangan tokohnya membuat pembaca geli. Don Quixote digambarkan membayangkan dirinya sebagai seorang ksatria, padahal kenyataannya ia tak lebih dari seorang kakek peot. Ia pun memilih seorang wanita desa berwajah buruk serta gembrot sebagai kekasih khayalan yang perlu dibelanya mati-matian.

Berbeda dengan "Don Quixote", banyak pengarang yang menyelipkan penggalan cerita lucu pada beberapa segmen tulisannya. Misalnya, bahwa suatu hari tokoh salah mengenali orang atau terpeleset masuk selokan.

Serius dan kocak di sini pun dapat berarti bahasa yang digunakan maupun situasi yang dibangun. Apabila diminta menulis pidato penerimaan tamu kehormatan, niscaya kita akan menulis dalam bahasa sopan dan serius, bukan? "Dalam rangka menyambut ... menyukseskan pembangunan seutuhnya ...." Ah, pokok yang bagus-bagus saja kata-katanya. Bahasa yang lucu itu bagaimana? Perhatikan saja syair lagu berjudul "Judul-Judulan" karya Johnny Iskandar ini sebagai contoh: "Neng ayo Neng kita main cium-ciuman .../Daripada cium beneran, pikiran pusing tidak karuan/belum nyium eh, kok Neng nyosor duluan ...?"

Masih dalam buku "Don Quixote", pembaca dibuat tersenyum saat membaca bahwa dalam salah satu petualangannya tiba-tiba Don Quixote menantang kincir angin yang dibayangkannya sebagai raksasa, walaupun fragmen ini dikisahkan dengan bahasa serius. Di sini, situasinya yang lucu, bukan bahasanya.

TOKOH SEBAGAI SUBJEK ATAU OBJEK

Ada penulis atau pencerita yang menulis atau menceritakan tokoh sebagai dirinya sendiri; ada pula yang menempatkan tokoh sebagai objek cerita.

Pada gaya pertama, si pencerita adalah sekaligus si aku yang menjadi tokoh cerita atau subjek yang bercerita. Pencerita atau penulis seolah-olah menuliskan pengalaman dirinya sendiri. "Aku melihatnya memandangku tanpa berkedip. Lalu aku menghampirinya. Kemudian kami saling merangkul dan berjalan beriringan menyusuri pantai yang malam itu terasa lebih sepi dari biasanya." Pencerita pun bisa menceritakan tokoh sebagai objek yang diceritakan atau orang lain. Dengan gaya ini, penggalan kisah di atas akan ditulis menjadi: "Aris melihat gadis itu memandangnya tanpa berkedip. Lalu dihampirinya gadis itu. Kemudian mereka saling merangkul dan berjalan beriringan menyusuri pantai yang malam itu terasa lebih sepi dari biasanya." (Andaikan tokoh dalam kisah ini bernama Aris.)

Anda sudah melihat dan memahami apa yang dimaksud dengan gaya penulisan yang menganggap "tokoh sebagai subjek" dan "tokoh sebagai objek", bukan? Gaya mana pun yang Anda pilih sama-sama bisa menjadikan suatu karya asyik dibaca, biarpun ada orang berpendapat bahwa gaya bercerita dengan menempatkan "tokoh sebagai subjek" terasa lebih emosional.

KALIMAT PENDEK VS PANJANG

Dalam pelatihan menulis, teristimewa kelas-kelas jurnalistik, peserta selalu diarahkan agar menulis dengan menggunakan kalimat-kalimat pendek. Kalimat pendek diyakini lebih mudah dipahami daripada kalimat panjang bagi sebagian terbesar pembaca surat kabar. Keyakinan ini ada benarnya, tetapi tidak perlu dianut dengan terlalu taat dan ketat.

Ada kalanya kita perlu memakai kalimat panjang untuk mengungkapkan sesuatu secara lebih komprehensif dan utuh. Bahkan ada penulis suka mengeksplorasi dan mengeksploitasi kalimat sehingga menjadi sangat panjang. Perhatikan perbandingan gaya penulisan berikut: "Pak Lurah memunyai seorang anak laki-laki. Anak itu bernama Adi. Suatu hari Adi memanjat pohon mangga. Pohon mangga itu ada di halaman rumahnya. Adi terjatuh. Ia jatuh karena tidak berhati-hati."

Paparan di atas terdiri atas enam kalimat pendek dan masing-masing kalimat terdiri atas dua sampai enam patah kata. Kata-kata yang terkandung dalam keenam kalimat tersebut berjumlah tiga puluh. Makna yang akan disampaikannya pun dapat ditulis menjadi cuma satu kalimat panjang (terangkai dari tujuh belas patah kata), tanpa kehilangan detail yang perlu disampaikan. Tidak percaya? Begini: "Suatu hari Adi anak Pak Lurah memanjat pohon mangga di halaman rumahnya dan terjatuh karena tidak berhati-hati!"

Silakan saja memilih gaya mana yang cocok dengan kepribadian Anda. Kedua gaya, baik dengan mengandalkan kalimat pendek maupun menggali kalimat panjang, sama-sama bisa indah; tergantung pada kemahiran kita mengolahnya. Bisa saja pula kedua gaya ini Anda pakai sekaligus bergantian.

MENCIPTAKAN TOKOH IDOLA

Berita atau cerita yang menghadirkan seorang tokoh idola berkarakter kuat biasanya lebih disenangi pembaca. Banyak pula novel bagus yang menokohkan seseorang. Tokoh biasanya digambarkan sebagai manusia istimewa atau luar biasa (dalam arti berbeda dengan orang kebanyakan, baik penampilan maupun sifatnya).

Lazimnya, tokoh utama protagonis diatur supaya berada di pihak yang benar, berjiwa satria, dan ganteng atau cantik. Pada sisi lain, demi menonjolkan tokoh protagonis, diciptakan pula seorang tokoh antagonis yang memiliki karakter bertolak belakang (jahat, licik, dan buruk rupa).

SENSASI MEMULAI DAN MENGAKHIRI

Pengarang harus pandai-pandai mencari sensasi memulai dan mengakhiri karyanya. Untuk buku, umpamanya, banyak calon pembaca meneliti sejenak halaman pertama atau terakhir sebuah buku sebelum memutuskan membacanya atau tidak. Maka apa yang Anda tulis pada halaman pertama dan terakhir, jika Anda seorang penulis buku, adalah sangat menentukan. Banyak cerpen (cerita pendek) pun memancing orang meneruskan membaca dengan menyuguhkan greget pada alinea pertama dan meledakkan sensasinya pada paragraf terakhir.

Tapi, kendatipun diminta memulai dengan kejutan dan menyimpan sensasi pada akhir tulisan, Anda tetap diingatkan supaya menjaga ritme sehingga cerita/artikel/buku yang ditulis senantiasa mengalir indah.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Jadi Penulis Ngetop Itu Mudah
Penulis : Lie Charlie
Penerbit : Nexx Media, Inc., Bandung 2006
Halaman : 96 -- 100