e-Penulis 164/April/2015

Mengambil Bagian Dalam Menggapai Cita-Cita Bangsa

"Mencerdaskan kehidupan bangsa" menjadi cita-cita luhur dari para pendiri bangsa ini, yang melintasi dimensi ruang, suku, agama, waktu, bahkan dinamika politik yang silih berganti. Namun, pada kenyataannya, masih banyak anak bangsa di negeri ini belum dapat mengecap manisnya arti kemerdekaan, khususnya dalam bidang pendidikan dan pengentasan kebodohan. selengkapnya... about Mengambil Bagian Dalam Menggapai Cita-Cita Bangsa

Topik: 

Menumbuhkan Dahaga Membaca

Kita ketinggalan lebih dari 64 tahun dari negara lain. Demikian ujar sastrawan Taufiq Ismail memaparkan keprihatinannya terhadap minat baca anak Indonesia yang rendah. Bahkan, kini, siswa SMA di Indonesia tak punya kewajiban membaca buku alias 0 buku. Di negara lain, siswa SMA wajib membaca buku sastra minimal 5 judul. selengkapnya... about Menumbuhkan Dahaga Membaca

Romo Mangun

Dirangkum oleh: N. Risanti

Romo Mangun lahir pada tanggal 6 Mei 1929 di Ambarawa, Jawa Tengah, sebagai anak tertua dari pasangan Yulianus Sumadi dan Serafin Kamdaniyah. Setelah ditahbiskan menjadi imam bagi umat Katolik, Romo Mangun kemudian mendapat amanat dari gereja untuk melanjutkan pendidikan pada bidang arsitektur di Rheinisch Westfaelische Technische Hochschule, Aachen, Jerman pada tahun 1960. Ketika lulus pada tahun 1966, Romo yang memiliki nama lengkap Yusuf Bilyarta Mangunwijaya ini lalu melanjutkan pendidikannya dalam bidang Humanistic Studies di Colorado. Minatnya yang mendalam pada bidang humanistik itulah yang kemudian mendorongnya untuk berkarya di bidang kemanusiaan, sastra, dan pendidikan. selengkapnya... about Romo Mangun

Bebas Dalam Kasih

Bagi umat kristiani di seluruh dunia, hari Paskah, pada hari Minggu pertama sesudah bulan purnama musim semi pertama, merupakan hari gembira. Pada hari itu, mereka memperingati momen Yesus dibangkitkan Allah dari kematian-Nya di salib. selengkapnya... about Bebas Dalam Kasih

Topik: 

Subscribe to e-Penulis 164/April/2015