Romo Mangun

Dirangkum oleh: N. Risanti

Romo Mangun lahir pada tanggal 6 Mei 1929 di Ambarawa, Jawa Tengah, sebagai anak tertua dari pasangan Yulianus Sumadi dan Serafin Kamdaniyah. Setelah ditahbiskan menjadi imam bagi umat Katolik, Romo Mangun kemudian mendapat amanat dari gereja untuk melanjutkan pendidikan pada bidang arsitektur di Rheinisch Westfaelische Technische Hochschule, Aachen, Jerman pada tahun 1960. Ketika lulus pada tahun 1966, Romo yang memiliki nama lengkap Yusuf Bilyarta Mangunwijaya ini lalu melanjutkan pendidikannya dalam bidang Humanistic Studies di Colorado. Minatnya yang mendalam pada bidang humanistik itulah yang kemudian mendorongnya untuk berkarya di bidang kemanusiaan, sastra, dan pendidikan.

Karya-karya beliau di bidang arsitektur dan sastra sungguh kental dengan visinya untuk memanusiakan manusia. Tengoklah pemukiman penduduk di Kali Code yang menurutnya, "Penataan lebih pada segi sosio-politis dan pengelolaan kemasyarakatan", bukannya pada sekadar pembangunan fisik dan materi semata. Gaya bahasanya yang sarat dengan realitas dan kesederhanaan selalu menjadi ciri khas dalam setiap karya sastra yang dihasilkannya. Tidak berhenti sampai di situ, konsepnya dalam pendidikan pun menjadi konsep pendidikan yang sangat orisinal, yang lahir dari kegelisahan jiwanya ketika melihat sistem pendidikan di tanah air pada zaman Orde Baru tidak bersifat memerdekakan peserta didiknya.

Romo Mangun melihat bahwa model pendidikan pada zaman orde baru, khususnya pada tingkat sekolah dasar, adalah pendidikan yang bersifat sentralistis, yang berorientasi untuk taat pada perintah. Murid atau peserta didik tidak dilihat sebagai subjek, melainkan sebagai objek yang harus menurut pada otoritas guru. Dengan demikian, peserta didik tidak terbebaskan daya imajinasinya, tidak mampu untuk bereksplorasi, dan pada akhirnya tidak dapat mencapai tahap pembebasan dalam berpikir dan bersikap. Di pihak lain, manusia sesungguhnya adalah makhluk yang berakal budi, yang mampu berpikir, menentukan pilihan, dan mengambil tindakan berdasarkan pilihan bebasnya. Dengan demikian, manusia juga mempunyai tanggung jawab atas apa yang dipilih dan diperbuatnya. Bertolak dari landasan berpikir itulah, Romo Mangun kemudian mengenalkan konsep pendidikan sebagai proses untuk pemerdekaan manusia.

Bagi Romo Mangun, pendidikan pemerdekaan merupakan langkah pertama dalam proses pendidikan anak. Hati yang tulus menjadi ruang pembuka untuk membuka wawasan anak terhadap dunia anak yang lebih luas. Sebab, hati merupakan pangkal dari seluruh pembelajaran, bukan otak. Hati mampu menangkap yang sensasi dan esensi, bukan sekadar interpretasi.

Untuk tujuan tersebut, pada tahun 1987, Romo Mangun mendirikan Laboratorium Dinamika Edukasi Dasar (DED) di Yogyakarta, yang eksperimennya kemudian diterapkan pada tahun 1994 di SD Kanisius Mangunan (SDKM) di Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Tujuan Romo Mangun mendirikan DED dan SDKM adalah untuk memberikan pelayanan pendidikan dasar bagi anak-anak miskin, yang menurutnya, tidak diberikan kesempatan untuk berkembang melalui kurikulum pendidikan nasional. SD Mangunan memiliki prinsip dasar bahwa sekolah bukanlah lembaga diskriminasi yang berfungsi sebagai pasak pemecah-belah sosial, akan tetapi suatu convivium, lembaga untuk hidup bersama. Selain itu, SD Mangunan juga menawarkan model pendekatan yang berbeda dari sekolah pada umumnya, yaitu bahwa guru dan murid berperan sebagai sesama subjek yang setara untuk saling mengembangkan kemanusiaan.

Menarik bahwa Romo Mangun memandang pendidikan dasar jauh lebih penting daripada pendidikan tinggi. Hal itu tampak dari ujarannya, "Biarlah pendidikan tinggi berengsek dan awut-awutan. Namun, kita tidak boleh menelantarkan pendidikan dasar." Pemikiran itu mungkin berasal dari keyakinannya bahwa pada dasarnya, dalam diri manusia sudah tertanam bakat-bakat atau potensi-potensi yang diberikan oleh Tuhan padanya. Dalam diri anak sudah ada sifat "Mahaguru", yaitu potensi ingin selalu tahu, ingin bertanya, ingin mengeksplorasi, ingin maju, ingin mekar, dan ingin mencapai kepenuhan diri. Pendidikan dasar kemudian menjadi amat penting karena dalam usia anak-anaklah potensi-potensi itu mulai ditumbuhkan dan dikembangkan, agar semakin matang dan kuat seiring dengan pertumbuhan mereka menjadi manusia dewasa. Tidak heran jika kemudian dalam tesisnya, Catherine Mills mengutip ucapan Romo Mangun, "When I die, let me die as a primary school teacher (kalau saya meninggal, biarkan saya meninggal sebagai guru sekolah dasar)."

Dirangkum dari:

  1. Dani, Alfons. 2013. "Mengusung Pendidikan Pemerdekaan di Tengah Bangsa yang Semakin Terpuruk".
    Dalam http://edukasi.kompasiana.com/2013/02/12/mengusung-pendidikan-pemerdekaan-di-tengah-bangsa-yang-semakin-terpuruk-533590.html
  2. Dani, Alfons. 2013. "Pendidikan Pemerdekaan YB Mangunwijaya".
    Dalam http://edukasi.kompasiana.com/2013/02/13/pendidikan-pemerdekaan-yb-mangunwijaya-533874.html
  3. Kurnia, R.S. 2007. "Y. B. Mangunwijaya".
    Dalam http://biokristi.sabda.org/selayang_pandang_y_b_mangunwijaya.
  4. Mustaqim, M. Fatah. 2012. "Romo Mangun dan Humanisasi Pendidikan".
    Dalam https://ekolemindonesia.wordpress.com/2013/10/11/romo-mangun-dan-humanisasi-pendidikan/