Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Loading

Menyampaikan Gagasan Lewat Tulisan

Oleh: Puji Arya Yanti

Agar menjadi seorang penulis, seseorang haruslah menulis. Tidak bisa hanya mengkristalkan sesuatu dalam pikiran, berpikir layaknya seorang penulis, dan percaya pada kekuatan kata saja, seorang penulis harus mampu menyampaikan gagasannya melalui tulisan. Dengan bahasa tulisan yang dipakainya, orang dapat mengerti apa yang menjadi ide pikirannya. Pembaca dapat pula dibawa mengembara ke alam pikiran sang penulis dengan kata-kata yang dirangkainya. Namun, apakah Anda masih menemui kesulitan manakala harus menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan? [block:views=similarterms-block_1]

Kesulitan menyampaikan gagasan melalui tulisan mungkin tidak lagi menjadi masalah utama bagi seorang penulis handal, meskipun mungkin mereka juga masih mengalami kebuntuan dalam menemukan ide. Namun bagi penulis pemula, menyampaikan gagasan lewat tulisan bisa jadi merupakan pelajaran sulit yang harus mereka pecahkan. Termasuk dalam hal memilih kata-kata dan merangkainya dalam kalimat agar gagasannya sampai kepada para pembaca.

Gagasan adalah hasil pemikiran. Jadi sebuah tulisan bukanlah hasil angan-angan, meskipun seorang penulis juga tidak terlepas dari angan, daya khayal, atau imajinasi. Imajinasi di sini merupakan imajinasi yang ditempa dalam pikiran, dicerna dalam otak, dan diteruskan dalam bentuk tulisan. Tulisan yang dimaksud adalah tulisan yang ditulis dengan rancangan, dengan pemikiran, dan dengan aturan yang berlaku, tidak sebatas angan saja (Nadeak, 1989:10).

MENEMUKAN GAGASAN

Sebelum seorang penulis menyampaikan gagasannya, terlebih dahulu mereka harus menemukan ide atau gagasan yang hendak mereka sampaikan. Suatu hal yang mustahil bagi seorang penulis untuk dapat menyampaikan gagasan tanpa memiliki sesuatu pun untuk dituangkan.

Lalu dari manakah gagasan tersebut didapatkan seorang penulis? Berikut ini hal-hal yang dapat dilakukan seorang penulis agar menemukan gagasan untuk ditulis.

  1. Memperkaya diri dengan membaca.
    Membaca dan menulis diibaratkan seperti dua sisi mata uang. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Menulis membutuhkan membaca dan begitu pula sebaliknya, membaca membutuhkan menulis. Kegemaran membaca akan membekali seorang penulis dengan wawasan dan pengetahuan yang luas. Dengan membaca, hal-hal baru diperoleh dan munculnya ide baru pun sangat memungkinkan. Dan jangan lupa untuk mencatat poin-poin penting dari apa yang sudah dibaca. Catatan-catatan tersebut akan menjadi referensi dalam menemukan gagasan baru yang akan ditulis.
  2. Menyadari semua hal di sekitar.
    Jangan pernah abaikan apa yang terjadi dan yang ada di sekitar kita. Hal-hal tersebut merupakan sumber gagasan untuk menulis. Coba perhatikan dan rasakan sejuknya udara pagi hari, indahnya kicauan burung, perhatikan pula aktivitas pagi yang mulai menggeliat. Catatlah apa yang dilihat dan rasakan, kelak bisa saja hal-hal tersebut menjadi benih ide tulisan. Orang-orang, binatang, alam bisa menjadi sumber inspirasi untuk karya fiksi dengan latihan dan sedikit imajinasi.
  3. Melihat ke dalam hidup pribadi.
    Sumber gagasan lainnya adalah hidup kita. Penulis dapat memulai menulis dengan menceritakan dirinya sendiri. Misalnya dengan menceritakan mengenai kelahiran, arti nama, mengapa orang tua memberikan nama tersebut, dan lain sebagainya. Bisa juga Anda menulis mengenai pengalaman pribadi yang menyedihkan, menyenangkan, bahkan memalukan. Semuanya merupakan sumber gagasan yang tidak akan ada habisnya.

Setelah menangkap gagasan-gagasan, mulailah menulis. Tuangkan gagasan dengan kata-kata dalam sebuah kalimat. Jangan pedulikan tata bahasanya ataupun kesalahan dalam melafalkannya. Akan ada waktunya nanti untuk membereskannya.

MENUANGKAN GAGASAN DAN PENGGUNAAN BAHASA TULISAN

Menuangkan gagasan melalui tulisan memang tidak mudah karena menulis bukan hanya menuangkan apa yang diucapkan atau membahasatuliskan bahasa lisan saja. Menulis merupakan kemampuan menggunakan pola-pola bahasa secara tertulis untuk mengungkapkan suatu gagasan atau pesan (Rusyana, 1988:191). Artinya, gagasan yang ada pada penulis disampaikan dengan menggunakan lambang-lambang bahasa yang terpola dan melaluinya pembaca dapat memahami apa yang dikomunikasikan penulis. Bila apa yang dimaksudkan oleh penulis sama dengan yang dimaksudkan oleh pembaca, seseorang dapat dikatakan telah terampil menulis.

Tidak mudah tentunya berteriak, mengungkapkan kesedihan, atau menjelaskan cara kerja suatu alat melalui tulisan. Karena itu, menulis menuntut kemampuan berpikir yang memadai. Sebab tulisan adalah wadah yang sekaligus merupakan hasil pemikiran. Melalui tulisanlah penulis mengomunikasikan pikirannya. Dan melalui kegiatan berpikir, penulis dapat meningkatkan kemampuannya dalam menulis.

Langkah awal yang perlu dilakukan dalam menuangkan gagasan adalah menulis itu sendiri. Hal tersebut merupakan usaha untuk mewujudkan apa yang ada di kepala. Jangan biarkan kertas atau layar monitor komputer tetap kosong. Teruslah menulis meski hasil awal tulisan tidak begitu baik. Itu hal yang wajar dan jauh lebih baik daripada Anda tidak mencoba menuliskannya. Karena gagasan tulisan tidak akan ada artinya jika tidak mulai ditulis. Ketika sedang menulis, menulislah saja, jangan membarenginya dengan mengedit. Hal itu akan memperlambat hasil tulisan, bisa jadi tulisan tidak akan selesai karena disibukkan dengan penyuntingan yang dilakukan. Alasan lainnya, sebuah tulisan yang baik dihasilkan melalui dua tahap, menuangkan isi pikiran dan penyuntingan.

Setelah draf awal tulisan selesai, lakukan tahap kedua, yaitu penyuntingan. Hal ini perlu dilakukan agar gagasan yang disampaikan melalui tulisan berhasil mencapai sasaran. Mungkin saja draf awal tulisan masih dipenuhi dengan pilihan kata yang kurang tepat atau gagasan belum dipaparkan dengan baik. Perhatikan dan perbaiki penggunaan bahasa dalam tulisan. Dalam hal ini, tulisan adalah dalam bahasa Indonesia. Karena itu, untuk menjadi seorang penulis tentu saja diperlukan penguasaan bahasa Indonesia yang memadai.

Sejumlah bidang masalah yang lazim diperhatikan dalam penyuntingan adalah kesalahan tata bahasa. Kesalahan tata bahasa ini meliputi kesalahan pemakaian tanda baca, kesalahan ejaan, penyusunan kalimat dalam paragraf, dan sebagainya. Hal ini perlu diperhatikan untuk mendapatkan tulisan yang baik dan benar. Penggunaan kata yang betul dan yang salah juga perlu dipertimbangkan dalam kaitan dengan penafsirannya oleh pembaca.

Perhatikan pula tentang perpindahan yang menyentak. Karena dalam rangkaian tulisan diperlukan jembatan untuk memuluskan perpindahan dari satu topik, paragraf, atau kalimat kepada berikutnya agar pembaca tidak tersentak dan tidak bingung ketika membaca tulisan. Ambiguitas juga menjadi masalah tersendiri yang perlu dicermati. Masalah ini memerlukan kewaspadaan istimewa karena merupakan masalah yang tidak mudah dilacak oleh penulis. Ambiguitas atau kekaburan makna biasanya bersumber pada perumusan yang kurang tepat dalam penulisan. Diperlukan kepekaan terhadap hal ini.

Keempat hal di atas perlu diperhatikan agar gagasan yang disampaikan dengan bahasa tulisan dapat sampai dengan tepat dan benar kepada para pembaca.

Sumber Bacaan

  • Holtz, Herman. 2000. "How to Start and Run a Writing and Editing". Jakarta: Grasindo.
  • Levy, Mark. 2005. "Menjadi Genius dengan Menulis". Bandung: Kaifa.
  • Mirriam-Goldberg, Caryn. 2003. "Daripada Bete, Nulis Aja!". Bandung: Kaifa.
  • Nadeak, Wilson. 1989. "Bagaimana Menjadi Penulis Artikel Kristiani". Bandung: Yayasan Kalam Hidup.
  • Rusyana, Yus. 1988. "Bahasa dan Sastra dalam Gamitan Pendidikan". Bandung: Diponegoro.