Kiat Memperindah Tulisan Renungan

Isi renungan memang merupakan faktor terpenting dalam sebuah tulisan renungan. Tetapi, kita tidak bisa mengabaikan kemasannya juga. Untuk memperindah tulisan renungan Anda, perhatikanlah beberapa hal berikut:

1. Membuat Bagian Awal yang Menarik

Bagian awal tulisan adalah wilayah yang sangat penting. Bagian ini sangat menentukan apakah pembaca tertarik untuk membaca keseluruhan tulisan itu atau tidak.

Pilihlah kata-kata yang Anda pakai dengan cermat. Sebuah kata, bisa menjadi seperti setetes tinta yang jatuh di seember air putih. Dia dapat mengubah isi seluruh tulisan Anda.

Gantilah kata sifat dan kata keterangan dengan kata kerja. Baca kalimat ini: "Seorang perempuan tua yang kelelahan bekerja di sawahnya!"

Bandingkan dengan: "Seorang perempuan tua membajak, kepalanya merunduk, napasnya tersengal-sengal."

Ternyata kalimat kedua lebih menarik. Kalimat pertama menggunakan kata sifat. Kalimat kedua menggunakan kata kerja. Kata sifat memberi tahu (to tell), sedangkan kata kerja menggambarkan tindakan (to show).

2. Aktif Bukannya Pasif

Hindari kata kerja pasif. Gunakan kata kerja aktif. Tulisan Anda harus memiliki nyawa dan tenaga. Pada kalimat yang menggunakan akal kerja aktif, pembaca merasakan adanya suatu gerakan ketika ia membaca.

3. Kalimat Sederhana

Pakailah kalimat sederhana. Kalimat sederhana itu terdiri dari satu pokok pikiran dan satu sebutan. Hindari memulai kalimat dengan kata keterangan atau anak kalimat. Segera tampilkan pokok kalimat yang terpenting. Jangan tunda! Kecuali Anda memakai teras suspense.

4. Kata-kata yang Mudah

Gantilah kata-kata yang sulit atau asing dengan kata-kata yang mudah. Bila perlu, ubahlah susunan kalimat dan alinea agar Anda mendapatkan tulisan yang "mengalir". Jangan mengobral kata yang tidak perlu, sebab bisa mengurangi keefektifan kalimat. Kaldu yang kental bisa menjadi sup yang hambar bila terlalu banyak air, demikian juga kegurihan tulisan bisa hilang gara-gara kata-kata yang berlebihan. Tulislah alinea secara ringkas. Alinea yang ringkas akan lebih mudah untuk dibaca dan dipahami.

5. Gaya Bahasa Bertutur

Gaya bahasa yang cocok untuk penulisan renungan adalah gaya bertutur. Itu artinya, jika membaca tulisan itu pembaca seolah-olah sedang mendengar orang bercerita. Para penulis naskah untuk siaran radio mahir sekali membuat naskah seperti ini. Nah, untuk mengetahui apakah tulisan Anda sudah memakai bahasa tutur atau belum, bacalah tulisan Anda dengan suara keras (maksudnya tidak hanya dibaca dalam hati). Jika sudah terdengar enak di telinga, berarti sudah pas. Cara seperti ini juga bisa dipakai untuk mengetahui apakah ada kalimat yang terlalu panjang. Bacalah suatu kalimat dalam sekali tarikan napas. Jika Anda kehabisan napas sebelum kalimat itu usai, berarti kalimat itu terlalu panjang.

6. Hindarilah Klise

Gaetlah pembaca pada beberapa kata pertama untuk setiap alinea. Banyak ahli komunikasi yang mengatakan bahwa bila Anda gagal menggaet pembaca pada kata-kata pertama, Anda akan kehilangan pembaca itu. Berikut kata-kata yang tidak tepat: "Seperti yang sudah diketahui...." [buat apa ditulis lagi kalau sudah diketahui], "Dalam rangka,....". Kata-kata tersebut sudah klise.

Diambil dari:

Nama situs : Purnawan Kristanto
Alamat URL : http://www.purnawankristanto.com/
Penulis artikel : Purnawan Kristanto
Tanggal akses : 2 Agustus 2011