Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Kiat Menulis Dan Menerbitkan Buku

Belakangan ini, dunia perbukuan mengalami perkembangan yang menggairahkan. Pengarang dan penulis buku lebih leluasa mengungkapkan gagasan dan pikirannya. Penerbit-penerbit baru bermunculan, ratusan judul buku baru terbit setiap bulannya, dan minat baca masyarakat pun ditengarai meningkat. Kondisi ini merupakan peluang yang patut dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh mereka yang berminat untuk terjun ke dalam dunia kepenulisan.

Tulisan ini secara khusus akan menyoroti persoalan menggali dan mengembangkan ide menulis buku, serta bagaimana menawarkan naskah buku tersebut kepada penerbit untuk dipublikasikan.

Menggali dan Mengembangkan Ide

"Sukses itu terdiri atas 1 persen bakat dan 99 persen keringat." -- Thomas A. Edison

"Bagi penulis cerpen langkah pertama ialah menulis, langkah kedua ialah menulis, langkah ketiga ialah menulis." -- Kuntowijoyo

Ide berserakan di sekitar kita. Kita masing-masing sebenarnya juga memiliki bahan berupa gagasan, pengalaman, kisah, imajinasi, atau keahlian yang layak dituangkan dalam bentuk buku. Yang menjadi tantangan adalah bagaimana "menjinakkan" dan mengelola ide itu, serta mewujudkannya menjadi sebuah karya tulis.

Ada orang yang begitu duduk di depan meja tulis, langsung lancar menulis sampai karyanya selesai. Sebaliknya, ada yang malah seperti "blank", tidak tahu mesti menulis apa. Yang lain lagi kaya dengan ide, namun hanya sebatas wacana, ia tidak kunjung meluangkan waktu atau ragu-ragu untuk mulai menulis.

Kalau kita berharap menjadi orang jenis pertama -- mendapatkan ilham cemerlang dari langit, lalu dengan mulus menuliskannya menjadi karya yang gemilang -- barangkali sampai Lebaran kucing pun kita tak akan menghasilkan apa-apa. Orang seperti itu amat langka. Selebihnya, sebagian besar orang menekuni dunia kepenulisan dengan melewati kerja keras, ketekunan, dan semangat pantang menyerah. Dengan kata lain, keterampilan menulis adalah kemampuan yang harus terus-menerus diasah dan dikembangkan.

Adapun untuk mengembangkan ide kita menjadi buku, kita perlu memahami tahap-tahap penulisan. Berikut ini tahap penulisan yang lazim ditempuh seorang penulis untuk menyusun buku:

  1. Perencanaan

    Perencanaan adalah seperti peta yang kita bentangkan untuk menunjukkan arah perjalanan kita. Kita membayangkan hasil akhir buku yang kita rencanakan. Dengan demikian, kita tidak akan tersesat dalam perjalanan dan memotivasi semangat kita untuk mencapai tujuan.

    Perencanaan mencakup pemilihan tema, penetapan tujuan penulisan, dan perancangan strategi yang akan digunakan untuk mewujudkan tujuan tersebut. Yang perlu diingat, perencanaan ini bukan sekadar aktivitas berpikir. Sebaliknya, kita sudah mulai menuangkan ide yang hendak kita garap itu ke atas kertas atau ke dalam program pengolah kata. Menurut John M. Lannon, banyak penulis berpengalaman melakukan perencanaan paling produktif setelah mereka mulai menulis. Perencanaan, bagi mereka tidak melulu berpikir dan kemudian menulis, melainkan berpikir dalam menulis. Kita bisa mencorat-coret secara kasar gagasan kita -- menulis bebas, entah sudah berbentuk paragraf atau baru berupa "peta ide".

  2. Penyusunan

    Penyusunan dapat dimulai dengan membuat kerangka karangan untuk memperjelas arah penulisan kita. Kerangka karangan menunjukkan garis besar alur pemikiran dan batasan topik yang hendak kita bahas, serta menolong kita agar tidak melantur sewaktu menulis. Dengan adanya kerangka karangan, kita juga jadi lebih mudah untuk mencari bahan acuan yang relevan. Ibaratnya seperti koki, setelah ia memilih resep tertentu, kini ia menyiapkan bahan-bahan dan perlengkapan untuk mengolahnya.

    Berikutnya, tugas kita adalah "menempelkan daging" pada tulang kerangka yang telah kita siapkan, dengan menguraikan pokok-pokok pikiran yang terdapat dalam kerangka karangan tersebut secara terperinci dan selengkap mungkin. Dalam hal ini, kita perlu menjaga konsistensi agar penulisan kita tidak melantur.

    Dalam tahap ini, Anda dapat "mengalir" dan menuangkan gagasan secara spontan dan leluasa. Anda tidak perlu menulis secara urut, tapi bisa menulis dari bagian-bagian yang dianggap menarik atau bahannya lebih lengkap.

  3. Perbaikan

    Perbaikan atau penulisan ulang adalah tugas penulis, bukan editor. Setelah tulisan Anda selesai, cobalah mengendapkannya selama beberapa waktu. Hal ini dimaksudkan agar penulis dapat bersikap lebih objektif terhadap hasil karyanya, memeriksa kekurangan yang ada dalam tulisannya, dan melakukan perbaikan yang diperlukan. Poin-poin yang perlu diperhatikan dalam perbaikan adalah kejelasan, konsistensi, kebenaran, kerapian bahasa, koherensi, ketelitian fakta, dan data. Kita bisa memeriksa, misalnya, apakah gaya bahasa kita sudah sesuai dengan sasaran pembaca yang kita tuju.

    Penulisan ulang mematangkan tulisan kita, sehingga kita mendapatkan kepuasan yang optimal -- jangan sampai sesudah tulisan terbit, kita kecewa menemukan adanya kesalahan yang belum sempat diperbaiki. Penulisan ulang juga memastikan bahwa tulisan kita layak dibaca dan dapat memperkaya publik. Dan akhirnya, penulisan ulang yang dilakukan secara profesional juga memperbesar peluang untuk membuat editor jatuh hati pada tulisan kita.

Menghubungi dan Menembus Penerbit

Setelah buku kita rampung, ada beberapa alternatif untuk menerbitkannya. Kita bisa menghubungi penerbit, yang secara kasar bisa dibedakan menjadi penerbit besar dan penerbit kecil. Atau, kita bisa melakukan "self-publishing" (penerbitan swadaya). Masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahan. Kita hanya akan membahas hubungan dengan penerbit ini, bukan self-publishing.

Di penerbit besar, proses seleksi dan penerbitan cenderung berlangsung lama karena penerbit tersebut menerima banyak naskah setiap bulannya. Keuntungannya, penerbit besar lebih dikenal publik, jaringan distribusi dan sistem administrasinya juga relatif lebih mantap. Sebaliknya, penerbit kecil menawarkan proses seleksi dan penerbitan yang relatif lebih cepat. Tak jarang mereka juga menawarkan royalti yang lebih tinggi.

Setiap penerbit memiliki kriteria yang berbeda dalam penerimaan naskah. Kita bisa mempelajari "selera" penerbit melalui buku-buku yang mereka terbitkan, dan kemudian memilih penerbit yang sesuai dengan naskah kita.

Namun, ada sejumlah kriteria umum yang berlaku bagi semua penerbit, antara lain:

  1. Dari sisi pemasaran, naskah memunyai segmen pembaca yang jelas dan luas.

  2. Naskah buku berpotensi laku keras di pasaran.

  3. Buku berisi hal-hal baru yang menarik perhatian publik.

  4. Memiliki keunikan dan kelebihan dibandingkan dengan buku sejenis yang sudah terbit.

  5. Kualitas penulisan dan bahasanya bagus, sistematis, aktual, disertai data-data yang lengkap (foto, ilustrasi, tabel, diagram, dsb.).

  6. Naskah memiliki segi kemanfaatan yang tinggi bagi pembaca.

  7. Memiliki judul yang menarik, memancing, dan sugestif.

  8. Dari sisi produksi, naskah mudah diproduksi dan tidak memberatkan dari segi biaya cetak.

Nah, selamat menulis! Selamat menerbitkan buku!

Daftar Bacaan:

Agustina Wijayani, Rewriting (Penulisan Ulang), makalah, disampaikan dalam Sekolah Penulisan "Gloria", Yogyakarta, Juli-Agustus 2008.

Anwar Holid, "Menjaga Api Semangat Menulis," Republika, Minggu, 27 Juli 2008.

Bayu Probo, Berpikir dalam Menulis, makalah, disampaikan dalam Sekolah Penulisan "Gloria", Yogyakarta, Juli-Agustus 2008.

Edy Zaqeus, Resep Cespleng Menulis Buku Best Seller, Yogyakarta: Gradiens Books, 2005.

Purnawan Kristanto, Menggali dan Menemukan Ide Penulisan, makalah, disampaikan dalam Sekolah Penulisan "Gloria", Yogyakarta, Juli-Agustus 2008.

Diambil dan disunting dari:

Nama situs : Catatan Arie Saptaji
Alamat URL : http://ariesaptaji.blogspot.com
Penulis : Arie Saptaji
Tanggal akses : 15 Oktober 2012