Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Tantangan Menjadi Komunikator Kristen yang Cakap

Mengubah kehidupan moral masyarakat yang tidak tulus bukanlah hal yang mudah. Oleh karena itu, komunikator atau penulis Kristen yang ingin berperan dalam pekerjaan yang mulia ini, perlu memiliki kecakapan dan profesionalisme yang tinggi.

1. Dia harus tahu firman Tuhan.

Kita meyakini bahwa dalam Alkitab, Allah memberi petunjuk tertulis yang terbaik dan tepat untuk setiap masalah yang dihadapi manusia. Komunikator Kristen tidak harus lulusan sekolah teologi, tapi harus memiliki dasar yang kuat akan cerita dan arti Kitab Suci secara keseluruhan. Telinganya harus akrab dengan ajaran Perjanjian Lama, Tuhan Yesus, dan para rasul. Lebih dari itu, dia harus menghayati prinsip-prinsip yang digambarkannya, karena Alkitab tidak secara spesifik menyinggung semua masalah modern (misalnya, aborsi atau kloning manusia). Kalau dia belum tahu firman Tuhan yang relevan untuk permasalahan tersebut, dia harus rajin mencari tahu. Semuanya ini penting dalam berkomunikasi dengan masyarakat umum. Menyampaikan kebenaran Allah dalam bentuk yang bisa diterima oleh khalayak yang sekuler atau penganut agama lain, justru menuntut keterampilan yang lebih tinggi.

2. Dia harus tahu bidang yang dibahasnya.

Lebih gampang mengkritik daripada membangun. Panggilan orang Kristen adalah membangun. Untuk memberi solusi yang konstruktif itu, kita harus memahami prinsip-prinsip yang berlaku secara spesifik untuk bidang itu, dan praktiknya di lapangan. Hal ini juga menyangkut pengetahuan akan pemahaman moral yang berlaku dalam bidang tersebut, baik di dalam maupun luar negeri. Melihat hal ini, alangkah baiknya kaum profesional Kristen memanfaatkan media yang ada, untuk membicarakan masalah moral yang dihadapinya, untuk kepentingan sesama profesional dan masyarakat luas. Jadi, dokter membicarakan etika medis, pengacara atau hakim membicarakan etika hukum, pengusaha seperti Max De Pree membicarakan etika dunia bisnis. Mengenai nilai-nilai di Barat, Dr. Cooray berkata, "Nilai-nilai dan institusi dari keadaban serta agama dan moralitas yang menopangnya, merupakan peralatan yang kuat apabila dianjurkan dengan penalaran yang baik dan toleransi". Untuk "penalaran yang baik", diperlukan pengertian yang baik pula.

3. Dia harus tahu permasalahan yang dibahasnya.

Saya pernah membuat suatu karangan tentang aborsi. Penuh semangat sebagai Kristen yang baru dan penulis pemula, saya memaparkan alasan bahwa janin merupakan makhluk yang hidup, dan saya memberi dasar hukum untuk menyatakan itu -- yang berarti dia harus dilindungi oleh hukum juga. Kemudian saya mengirim tulisan saya kepada suatu organisasi di Kanada yang memperjuangkan hak hidup bayi dalam kandungan. Tulisan saya ditanggapi seseorang yang mengucapkan apresiasinya untuk kepedulian saya. Lalu, dia menjelaskan bahwa status hidup dari janin sebenarnya sudah terbukti secara hukum. Yang menjadi masalah bukan itu. Masalah yang sebenarnya pengadilan tidak mengakui janin itu sebagai seorang pribadi, yaitu manusia sesungguhnya, sehingga hak hidupnya tidak dilindungi secara hukum. Mungkin aneh kedengarannya, tetapi itulah kenyataannya. Saya mengambil pelajaran dari pengalaman itu, bahwa semangat dan niat baik saja tidak cukup untuk memberi sumbangan demi mengatasi masalah serumit dan sekompleks itu. Apalagi kalau jumlah orang yang berlawanan pendapat banyak dan berkuasa.

Memperjuangkan kehidupan moral bangsa kita yang lebih baik, menuntut niat baik dan pengetahuan serta dedikasi tinggi. Diperlukan juga sikap tidak mengenal kompromi serta semangat pantang menyerah. Melihat ini baiklah kita mendengar perkataan John Wesley kepada William Wilberforce, sesaat sebelum Wesley meninggal. Wilberforce sudah lama memperjuangkan pembebasan budak, tapi impiannya belum terwujud. Kata Wesley kepadanya, "Janganlah lelah berbuat baik".

Diambil dari:

Judul buku : Mengomunikasikan Pesan Kristiani yang Kreatif
Berbobot Enak Dibaca
Penulis : Dr. Miriam Adeney
Penerbit : Yayasan Komunikasi Bina Kasih
Halaman : 6 -- 7