Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Swasunting, Sampai Sejauh Mana?

Penulis : Herman Holtz

Swasunting itu sulit, karena menuntut kita agar obyektif dan kritis terhadap hasil kerja sendiri. Untuk mampu berbuat begitu, dibutuhkan disiplin, sedangkan imbalannya adalah produk yang meningkat mutunya. Pertanyaannya ialah, berapa kali swasunting yang harus dilakukan oleh seorang penulis?

Tidak ada jawaban yang gampang untuk pertanyaan itu. Sejauh menyangkut tulisan saya sendiri, banyaknya swasunting yang saya butuhkan ialah sebanyak yang saya lakukan sampai saya sendiri puas, tetapi bahkan itu pun tidak sepenuhnya akurat. Meskipun demikian, seperti kebanyakan penulis, saya tidak sepenuhnya merasa puas dengan apa yang telah saya tulis. Saya tahu bahwa draft pertama saya tidak pernah sudah cukup baik, dan draft kedua saya jarang sudah cukup baik. Saya biasanya membuat beberapa draft, dan saya mungkin menulis-ulang, merevisi, menata-ulang, dan memoles lagi beberapa bagian tertentu dari naskah saya, terutama bagian pendahuluannya, nyaris tanpa henti. Padahal, saya mungkin akhirnya jengkel dan membuang semua itu dan menggantinya dengan tulisan baru yang segar. Saya percaya bahwa kerelaan untuk melakukan ini merupakan bukti integritas seseorang selaku penulis.

SASARAN SWASUNTING
Kekeliruan umum yang dilakukan oleh banyak penulis adalah salah memahami sasaran-sasaran khusus yang seyogyanya dikejar dalam menyunting karya tulisnya sendiri. Banyak penulis sudah puas dengan penilaian subjektif semata-mata mengenai keelokan bahasa mereka. Padahal, ada sejumlah sasaran dalam swa-penyuntingan yang menuntut jauh lebih banyak analisis logis daripada apresiasi artistik. Berikut ini sejumlah bidang masalah yang lazim:

1. Kesalahan Ketatabahasaan
Kesalahan-kesalahan yang paling lazim sudah dikenal dengan baik. Sayang bahwa banyak di antaranya mencerminkan ungkapan yang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Demikianlah maka secara kurang sadar kita jadinya menerima bentuk-bentuk infinitif terpisah, kalimat yang berawal dengan konjungsi dan berakhir dengan kata preposisi, dan participle yang menggantung. Hal yang sama terjadi pula pada aturan mengenai tanda baca lainnya.

Semua itu bukan kesalahan besar. Sekarang ini, umumnya dipandang lebih baik untuk memisah suatu kata kerja infinitif daripada membuat konstruksi yang kaku. Dalam beberapa hal tertentu seorang penulis melakukan kesalahan ketatabahasaan yang disengaja, misalnya ketika membuat tiruan percakapan. Meskipun demikian, penting bagi kita mewaspadai masalah yang muncul dan membetulkannya jika memang perlu.

2. Perpindahan yang Menyentak
Jembatan haruslah disediakan untuk memuluskan perpindahan dari satu topik, paragraf atau kalimat kepada yang berikutnya. Jika jembatan itu tidak ada maka pembaca akan tersentak atau bahkan menjadi bingung. Ini secara khusus berlaku ketika kita telah selesai membahas suatu pokok masalah dan mulai beralih ke pokok masalah yang baru. Di sini, kita perlu memberikan isyarat kepada pembaca agar siap mengikuti perpindahan pokok bahasan kita itu. Kadang-kadang peralihan itu segera kelihatan dengan sendirinya dari sifat-hakikat bahan bahasan.

Kadang-kadang kata atau rangkaian kata sederhana seperti "akan tetapi", "meskipun demikian", "pada sisi yang lain", "sebaliknya", atau "di samping itu", sudah cukup untuk memperkenalkan unsur baru. Dalam kasus lain, khususnya jika perpindahan atau peralihan itu sangat tiba-tiba, dan pokok persoalan yang akan dikemukakan sama sekali tidak berkaitan dengan pokok soal sebelumnya, kita mungkin perlu menyatakannya dengan jelas dan menulis kalimat atau paragraf pengantar agar pembaca tetap dapat mengikuti.

3. Ambiguitas
Inilah daerah atau bidang yang menuntut kewaspadaan istimewa karena merupakan masalah umum dalam penulisan dan sering kali tidak mudah dilacak atau dideteksi oleh penulis. Ambiguitas atau ketaksaan, kekaburan makna, biasanya bersumber pada perumusan yang kurang jitu dalam penulisan. Ketika Anda menghadapi suatu kalimat atau paragraf yang mencurigakan, tanyakan pada diri sendiri: "Mungkinkah ini cukup masuk akal untuk memancing lebih dari satu tafsir?" Jika kita melatih diri sendiri untuk melakukan hal ini, kita akan terkejut karena sangat sering kita perlu menulis-ulang bagian-bagian yang mudah disalahpahami oleh pembaca umumnya.

4. Kata yang Betul dan yang Salah
Kita semua mempunyai lebih dari satu kosakata. Kita sekurangnya mempunyai tiga: kosakata untuk membaca, berbicara, dan menulis. Gagasan populer bahwa luasnya kosakata merupakan hal penting untuk penulisan adalah gagasan yang keliru. Memang kosakata yang luas akan membantu kita karena hal itu menolong dalam menyusun dan mencerna gagasan, sementara keterbatasan kosakata membatasi lingkup jangkauan kita. Akan tetapi, jika kita menginginkan agar pembaca mudah memahami kita, kosakata itu perlu kita jaga agar tetap sederhana.

Satu di antara persoalannya adalah menemukan dan menggunakan kata yang betul dengan tepat untuk menyampaikan maksud Anda. Misalnya, kata "keras kepala" pada masa sekarang dapat digunakan untuk memuji atau untuk mengecam. Akan tetapi, ada kata-kata tertentu yang memiliki siratan makna tersendiri, semuanya tergantung bagaimana cara kita menggunakannya.

Kamus tidak membantu dalam hal tersebut. Kamus memang menyebutkan definisi lengkap, tetapi tidak menjelaskan segala-galanya mengenai konotasinya. Yang lebih dibutuhkan hanya kepekaan kita terhadap penggunaan dan nuansa makna yang membedakan kata yang satu dengan padanannya.

Kita harus pula mempertimbangkan kata-kata yang "betul" dan yang "salah" dalam kaitan dengan penerimaannya atau penafsirannya oleh pembaca terutama yang berkaitan dengan budaya dan sejarah yang dialami oleh pembaca berkenaan dengan kata tersebut.

TUJUAN MENYELURUH SWASUNTING
Ada yang mengatakan bahwa suatu tujuan pokok dalam penyuntingan adalah mengurangi banyaknya kata. Gagasan ini didasarkan pada pemikiran bahwa para penulis umumnya suka berpanjang-panjang, sering mengulang-ulang, dan berlebihan kata. Selaku penulis yang telah menerbitkan jutaan kata, saya akui kesalahan saya atas tuduhan itu. Bahkan setelah saya menanggung jerih payah dan kesedihan karena membuang jutaan kata tulisan saya sendiri, penyunting saya pun masih membuang lebih banyak lagi, dan saya pun hanya bisa mengakui bahwa saya memang terlalu banyak mengobral kata.

Tujuan keseluruhan swa-penyuntingan ialah menekan pengobralan kata itu dan hasilnya adalah teks yang lebih ketat, dengan gaya yang jauh lebih hidup dan gesit, serta lebih enak dibaca.

Bahan disunting dari sumber
Buku : Memulai dan Mengelola Bisnis Penulisan dan Penyuntingan
Penulis : Herman Holtz
Penerbit : Grasindo, Jakarta, 2000
Halaman : 226 - 231