Kesesatan Bahasa

Sebetulnya, kata-kata dalam bahasa dapat memiliki arti yang berbeda-beda, dan setiap kata dalam sebuah kalimat memunyai arti yang sesuai dengan arti kalimat yang bersangkutan. Maka, meskipun kata yang dipakai sama dalam kalimat yang berbeda, kata dapat bervariasi artinya.

Sebuah kalimat dengan struktur tertentu, dapat memunyai arti lebih dari satu dan arti kalimat juga tergantung dari konteksnya, sehingga arti kalimat yang sama dapat bervariasi dalam kalimat yang berbeda.

Ketidakcermatan dalam menentukan arti kata atau arti kalimat dapat menimbulkan "kesesatan penalaran" (Soekadijo (1994:12)). Kesesatan karena bahasa menurut Soekadijo, biasanya hilang atau berubah kalau penalaran dari satu bahasa disalin ke dalam bahasa yang lain. Kalau penalaran itu diberi bentuk lambang, kesesatan itu akan hilang sama sekali. Justru, lambang-lambang dalam logika diciptakan untuk menghindari adanya ketidakpastian arti dalam bahasa.

Berikut ini beberapa kesesatan karena bahasa (Soekadijo 1994:12-13):

1. Kesesatan karena aksen atau tekanan.

Dalam ucapan, tiap-tiap kata ada suku kata yang diberi tekanan. Perubahan tekanan dapat membawa perubahan arti. Maka kurang perhatian terhadap tekanan ucapan dapat mengakibatkan perbedaan arti dan kesesatan penalaran. Contoh:

Tiap pagi pasukan mengadakan apel.
Apel itu buah.
Jadi: Tiap pagi pasukan mengadakan buah.

2. Kesesatan karena term ekuivok.

Term ekuivok itu term yang memunyai lebih dari satu arti. Kalau dalam satu penalaran terjadi pergantian arti dari sebuah term yang sama, terjadilah kesesatan penalaran. Contoh:

Sifat abadi adalah sifat Ilahi.
Adam adalah mahasiswa abadi.
Jadi: Adam adalah mahasiswa yang bersifat Ilahi.

3. Kesesatan karena anti kiasan (metafora).

Ada analogi antara arti kiasan dan arti sebenarnya, artinya ada persamaan dan ada perbedaannya. Kalau dalam suatu penalaran sebuah arti kiasan disamakan dengan arti sebenarnya atau sebaliknya, terjadilah kesesatan karena arti kiasan.

Rupanya agak luar biasa apabila orang mencampuradukkan arti sebenarnya dan arti kiasan dari suatu kata atau ungkapan. Kesesatan itu sering disengaja dalam lawak.

4. Kesesatan karena amfiboli (amphibolia).

Amfiboli terjadi kalau konstruksi sebuah kalimat itu demikian rupa, sehingga artinya menjadi bercabang. Misalnya, "Mahasiswa yang duduk di atas meja yang paling depan..."

Apa yang paling depan, mahasiswanya atau mejanya? Kalau dalam sebuah penalaran kalimat amfibol itu di dalam premis digunakan dalam arti yang satu, sedang di dalam konklusi artinya berbeda, maka terjadilah kesesatan karena amfiboli itu.

Berkenaan dengan soal kesesatan karena term ekuivok, kesalahpahaman sering terjadi karena orang berasumsi bahwa kata, ungkapan, atau bahkan kalimat, tidak ekuivokal (unequivocal), artinya hanya memiliki sebuah makna. Hayakawa (1978, dalam Tubbs & Moss, 1994:85), menyebut hal ini sebagai "the 'one word, one meaning' fallacy" (kesalahan satu kata, satu makna). Sesungguhnya, kata Tubbs & Moss, kebanyakan bahasa yang kita pergunakan adalah ekuivokal, yaitu memiliki dua atau lebih interpretasi (two or more possible interpretations).

William Safire, seorang kolumnis surat kabar, seperti dikisahkan Tubbs & Moss, pernah menerima undangan untuk menghadiri opera. "Jam, tanggal, dan tempatnya dicantumkan dengan baik. Lalu di sudutnya tertulis instruksi misterius tentang baju: 'Bukan Dasi Hitam'. Apakah arti instruksi ini?"

Apakah "bukan dasi hitam" berarti pakaian resmi, seperti yang ditulis dalam undangan resepsi dasi Kedutaan Besar Turki? Lebih jauh lagi, apakah ini berarti bahwa Seragam Bangsa Amerika saat ini (blaser biru, celana cokelat susu) sudah usang? Apakah bukan dasi hitam berarti "tidak boleh mengenakan dasi yang sudah lusuh" atau "sama sekali tidak pakai dasi" (Tubbs & Moss, 1994:85).

Tampaknya ada dua sumber kekacauan mengenai kata dan ungkapan. Pertama, orang berasumsi bahwa karena mereka menggunakan kata yang sama, maka berarti mereka sepakat, padahal kenyataannya setiap orang menafsirkan kata itu secara berbeda. Kedua, terjadi bila orang mengira berbeda pendapat karena menggunakan kata-kata yang berlainan. Padahal sebenarnya, mereka sepakat pada konsep atau maksud yang dikandung oleh kata-kata tersebut. Mereka menggunakan istilah yang berbeda yang memiliki referen yang sama.

Contoh kalimat: Pinjaman $ 200 juta Diberikan Indonesia

Apa sebetulnya yang salah di dalam kepala berita itu?

Orang yang dapat memahami susunan bahasa Indonesia yang baik sudah pasti akan segera mengambil kesimpulan bahwa yang dinyatakan oleh kepala berita di atas ialah "pinjaman sebesar dua ratus juta dolar telah diberikan oleh Pemerintah Indonesia". Kepada siapa diberikan atau siapa yang menerima pinjaman itu belum diketahui karena tidak tercakup dalam kepala berita yang singkat itu. Tetapi setelah kita membaca berita sebenarnya yang tertulis di bawah kepala berita itu, kita mungkin akan kecewa karena ternyata yang tertulis itu justru sebaliknya dari yang dinyatakan di dalam kepala berita itu. Bukan Indonesia yang memberikan pinjaman, melainkan Indonesialah yang beroleh pinjaman dari luar negeri.

Rupanya, redaksi telah menghilangkan sepatah kata penting yang semestinya tidak boleh dihilangkan, yaitu kata depan "kepada" antara kata "diberikan" dan "Indonesia". Sepatah kata yang di dalam kalimat tidak dapat dihilangkan karena akan mengganggu makna. Menurut Badudu, yang dapat dihilangkan hanyalah kata depan oleh yang terletak di belakang kata kerja berawalan di sekaligus di depan keterangan pelaku.

Namun terlepas dari persoalan di atas, dalam teks sastra, terkadang unsur fiksionalitas membutuhkan kesesatan, atau lebih tepatnya penyimpangan (Segers, 2000:92). Pemakaian bahasa yang menyimpang (atau penyimpangan konstruksi bahasa) merupakan salah satu di antara faktor-faktor yang menghasilkan kerenggangan pada perangkat signifie (petanda), seperti ditunjukkan oleh Sklovskij di awal tahun 1916. Penekanan pada konotasi dalam teks sastra -- dalam kontradiksinya dengan teks-teks ilmiah dan "bahasa biasa" -- dapat pula dipandang sebagai satu bentuk deviasi. Menurut Segers, kesimpulan tampaknya menjamin bahwa norma-norma fiksionalitas dan penyimpangan bahasa sering merupakan dua sisi sebuah uang logam: penyimpangan bahasa sering berperan sebagai indikator fiksionalitas, dan fiksionalitas mungkin membutuhkan penyimpangan.

Penyimpangan bahasa dan pelanggaran norma-norma mungkin mengarahkan pada struktur yang rumit yang memungkinkan keanekaragaman interpretasi. Kendati norma-norma seperti penyimpangan pemakaian bahasa, pelanggaran norma, dan kompleksitas itu ada, tuntutan yang harus dipertahankan ialah bahwa teks sastra seharusnya memiliki koherensi atau kesatuan struktural. Nilai sebuah teks meningkat sesuai dengan kesatuan elemen-elemennya yang spesifik secara struktural (Misalnya, sejauh mungkin novel dikaitkan dengan wacana narator dan karakter, sudut pandang, fabula, materi tematik, dan latar).

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Semiotika Komunikasi
Judul artikel : Kesesatan Bahasa
Penulis : Drs. Alex Sobur, M.Si
Penerbit : PT Remaja Rosdakarya, Bandung 2003
Halaman : 311 -- 314