Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Loading

Identitas Diaspora India dalam Sastra Dunia

Oleh : BI Purwantari/Litbang Kompas)

Tidak hanya berasal dari para penulis India yang bermukim di negerinya, lebih dari satu dekade terakhir, khazanah sastra dunia diperkaya pula oleh penulis kelahiran India maupun berorang tua kelahiran India, yang dibesarkan di negeri-negeri Barat dan kini memilih bermukim di sana.[block:views=similarterms-block_1]

Buku-buku mereka mengetengahkan selain masalah sosial politik, terutama juga pergulatan identitas India diaspora di dunia baru mereka. Salah satu yang sangat dikenal publik dunia adalah Salman Rushdie. Pria kelahiran Bombay (sekarang Mumbai), India, pada 19 Juni 1947 ini sangat populer ketika bukunya yang berjudul Satanic Verses dianggap menghina Islam dan menimbulkan kemarahan Ayatollah Khomeini, pemimpin Iran, hingga mengeluarkan fatwa untuk membunuhnya. Setelah Rushdie menerbitkan Midnight"s Children pada tahun 1981, namanya meroket ke publik sastra dunia. Karya keduanya ini mendapat penghargaan Booker Prize pada tahun 1981 dan memenangkan James Tait Black Prize. Midnight"s Children mengetengahkan sejarah India sejak tahun 1910 hingga saat deklarasi situasi darurat tahun 1976 dari penglihatan dan pendengaran tokoh utamanya, Saleem Sinai, yang lahir pada tengah malam tanggal 15 Agustus 1947.

Midnight"s Children berhasil mendapat "Booker of Bookers" pada tahun 1993, yaitu buku terbaik dari semua buku yang pernah mendapat penghargaan Booker Prize dan menjadi buku pertama yang meraih predikat tersebut dalam 25 tahun sejarahnya. Hingga tahun 2005, Rushdie telah menerbitkan 14 karya dan dianugerahi berbagai penghargaan, termasuk Aristeion Prize for Literature dari Uni Eropa.

Generasi terbaru penulis India yang bermukim di luar India adalah Jhumpa Lahiri. Lahir di London pada tahun 1967, Jhumpa Lahiri dibesarkan di Rhode Island oleh kedua orangtuanya yang berasal dari wilayah Bengali, India. Perempuan yang menyandang tiga gelar master di bidang sastra Inggris, Creative Writing, dan Comparative Studies in Literature ini membukukan karya pertamanya dalam bentuk kumpulan sembilan cerita pendek berjudul Interpreter of Maladies. Diterbitkan tahun 1999, buku ini meraih Pulitzer Prize tahun 2000 untuk kategori fiksi dan telah diterjemahkan ke dalam 29 bahasa serta menjadi buku best-seller di Amerika Serikat maupun di beberapa negeri barat lainnya.

Interpreter of Maladies, buku pertama perempuan yang meraih gelar PhD dalam Renaissance Studies di Boston University ini, menampilkan perjalanan emosional para karakternya menggapai cinta dengan melewati batasan bangsa maupun generasi. Kumpulan cerpennya ini juga terpilih untuk menerima PEN/Hemingway Award dan American Academy of Arts and Letters Addison Metcalf Award.

Perempuan yang kini bermukim di New York bersama suami dan anak laki-lakinya yang berumur setahun ini, telah melahirkan novel pertamanya berjudul Namesake. Novel ini berkisah tentang persoalan identitas yang dihadapi oleh keluarga imigran India di Amerika melalui penggambaran kehidupan dua generasi di dalam keluarga tersebut. Persoalan kaum imigran India di luar negeri menjadi topik menarik yang ditulis oleh Lahiri, baik di dalam buku maupun novel pertamanya, dengan penekanan persoalan dan setting yang bervariasi. Kelebihan Lahiri, seperti terungkap dalam beberapa review terhadap bukunya, adalah kemampuannya menggunakan mata dan suara yang berbeda-beda dalam melihat persoalan kaum imigran.

Fenomena bermunculannya penulis-penulis India yang bermukim di luar India memberi makna khusus bagi perkembangan sastra dunia modern. Karya-karya para penulis India diaspora ini tidak melahirkan sebuah gagasan monolitik, tetapi terus-menerus menyumbang sebuah spektrum identitas maupun sejarah kehidupan dalam sebuah konteks hubungan sosial maupun hubungan antarbangsa. Spektrum ini telah mengubah konsepsi tentang keindiaan yang herhadapan dengan discourse Timur-Barat.

Sumber : Kompas, Sabtu 16 September 2006, Hal 41