Hidup untuk Menulis dan Menulis untuk Hidup

Dua kalimat di atas seolah hanya permainan kata. Selintas keduanya bermakna sama dan mengarah pada satu kata yang oleh sebagian insan akademik sangat ditakuti: menulis! Di negeri ini, menulis memang masih menjadi momok. Beratus ribu, bahkan berjuta mahasiswa gagal menjadi sarjana hanya karena tidak bisa menulis. Deretan doktor dan profesor yang tidak terlalu signifikan antara jumlah dan perannya dalam membangun negeri ini, juga karena tidak bisa menulis. Tapi ironisnya, justru karena ketidakberdayaan orang-orang tersebut, biro skripsi-tesis-disertasi mendapat makan karena "menulis" untuk mereka.

Menulis yang sudah terlanjur ditakuti oleh masyarakat awam -- bahkan sebagian insan akademik. Menulis dianggap hanya bersendikan bakat dan menepikan latihan. Menulis menjadi bagian yang dianggap sebagian orang saja yang mampu, karena merupakan bawaan, padahal menulis hanyalah perkakas; ia bisa tajam dan bisa pula tumpul. "Mengasah" memiliki makna lain "berlatih". Artinya, keterampilan menulis bisa semakin memesona karena senantiasa dilatih dan digeluti dalam proses. Sebaliknya, ia bisa menjadi buruk kualitasnya -- bahkan sama sekali tak bermakna -- karena tidak pernah dicoba apalagi dilatih.

Hidup untuk Menulis

Apabila konsekuensi menulis adalah pelatihan, kalimat "hidup untuk menulis" bermakna proses. Bagi seseorang yang memiliki motivasi "hidup untuk menulis", kalimat ini dapat dimaknai bahwa segenap potensi dan sarana-prasarana yang dimiliki diarahkan bagi pengoptimalan keterampilan menulisnya. Bukan hanya pada saat berpikir, bahkan ketika berjalan, duduk, dan tertidur pun pikirannya diarahkan pada menulis. Ia mengolah hari, jam, menit, dan detik yang dimiliki untuk kepentingannya itu. Ia menabung dan membelanjakan keuangannya untuk sesuatu yang sangat penting bagi hidupnya: menulis.

Singkatnya, kesadaran akan proses akan melahirkan kesadaran akan pengelolaan; melahirkan pemahaman akan hukum prasyarat dan sebab akibat. Sama seperti seorang atlet lompat jauh membutuhkan ancang-ancang cukup jauh untuk melompat sesuai target. Sama seperti petinju yang menginginkan menyelesaikan pertandingan dua batas ronde membutuhkan latihan beratus, bahkan beribu ronde. Demikianlah halnya dengan menulis, penulisnya akan ditolak berkali-kali sebelum diterima di sebuah harian atau majalah ternama, justru karena itu adalah proses latihan. Ia juga menghadapi kekeh tawa mengejek atau senyum sinis, sebelum pada akhirnya semua terkesima dan memuja karya adiluhungnya.

Kita pun mendengar dari penulis-penulis ternama bahwa seluruh waktunya telah habis digunakan untuk membaca, sehingga tidak heran kita sering terperangah mendengar atau membaca pikiran-pikirannya. Itulah sebabnya, tidak jarang kita mendengar penulis-penulis besar yang baru diterima karyanya setelah menulis yang keseratus kalinya. Bahkan, ada pula penulis yang tulisannya baru dipuja justru setelah ia meninggal dunia. Di bagian lain, kita juga mendapat cerita dari penulis kondang betapa bangganya ia yang menimbun buku hingga berkamar-kamar, bahkan bergedung-gedung, karena menyadari bahwa buku menjadi penopangnya dalam menulis. Lalu, dikatakannya buku-buku itu dibeli dari hasil menabung, atau hasil dari menyisihkan kebutuhan yang lain. Buku-buku itu begitu dihargai karena telah memberinya inspirasi dalam menulis.

Masalahnya sekarang, masyarakat terlanjur menempatkan menulis menjadi sebatas mengarang. Hanya pengaranglah yang bisa menulis, karena tidak semua orang berbakat di bidang itu. Akhirnya, masyarakat cenderung menempatkan menulis sebatas beralaskan bakat sehingga menyebabkan sebagian orang menghindari proses menulis. Jarang ada keinginan untuk memulai bergelut dengan bacaan sebagai kesadaran bahwa membaca adalah tahap awal dalam menulis. Membaca berarti tahap awal menulis; membaca adalah tahap awal untuk meniru teknik penulisan seseorang: sang pengarang. Membaca juga memberi inspirasi gaya orisinal kepenulisan yang sedang dirintis.

Sayangnya, yang terjadi pada kebanyakan pembaca justru sebaliknya. Seolah ada jarak kekaguman yang melenakan. Ada penyekat yang mustahil dapat "diteladani" oleh penerus atau pengikutnya yang kini baru bisa membaca yang lambat laun akan menjadi penuilis. Lalu, pembaca akhirnya terlena oleh cerita orang per orang yang melambungkan karya itu ke langit tinggi yang meninggalkan pembaca yang hanya mampu menatap dari jauh dalam kekaguman.

Apabila di kalangan pecinta membaca saja ada sekat penghalang menuju proses menulis, apalagi jarak sebagian masyarakat yang "alergi membaca". Di hadapan mereka terpampang jurang yang menganga apabila dihadapkan pada keharusan menulis. Mereka dipojokkan kondisi kalah sebelum bertanding. Bagi mereka, menulis menjadi nun jauh di sana, tempat dengan kondisi gelap dan berkabut.

Lalu bagaimana andai kelompok "alergi membaca" ini dihadapkan pada keharusan menulis? Biasanya mereka menepikan titian latihan untuk mendapatkan kemampuan menulis, sebab titian itu menakutkan, mengkhawatirkan, dan membuat terengah-engah. Mereka lebih memilih mendapatkan pertolongan dari langit, dari "orang-orang baik" yang memberi pil instan. Orang-orang baik yang memberikan barang jadi dan pemesannya tinggal menyematkan namanya sendiri pada karya itu.

Menggeser paradigma dari menulis sebatas bakat menjadi menulis berdasarkan latihan mempersyaratkan pembiasaan, penghargaan, dan kesadaran sistem. Kurikulum yang lebih mengedepankan kompetensi memungkinkan langkah-langkah konkret tersebut. Hidup untuk menulis adalah kesadaran mengelola waktu dan kesempatan untuk melatih menggunakan potensi berpikir secara runtut dan sistematis, serta kesadaran akan kesempatan bagi pengembangan potensi berpikir dan berekspresi melalui menulis.

Menulis untuk Hidup

Tidak ada kata lain bagi insan yang berani berfalsafah "menulis untuk hidup" selain penghargaan yang setinggi-tingginya. Komunitas yang berada pada strata ini adalah sejumlah orang yang telah melampaui "hidup untuk menulis". Orang yang berani memilih falsafah hidup seperti ini telah menguasai perkakas yang mantap ditambah rasa percaya diri yang tinggi. Dalam perjalanan, perkakas itu harus ditambah pula dengan mental baja dan kesabaran yang tak mengenal ujung. Singkatnya, para penulis dengan semboyan hidup seperti ini adalah sejumlah orang yang bukan hanya cerdas secara intelektual (pintar), tetapi juga cerdas secara emosional (sabar), dan cerdas secara mental (ketahanmalangan).

Betapa tidak, di negeri yang rentan terhadap hukum ini banyak terjadi aral melintang demi memberi penghargaan atas karya intelektual. Peristiwa duplikasi tanpa seizin penulis dan demi keuntungan sepihak merupakan peristiwa biasa dan jarang tertangani hukum secara tuntas.

Bisa jadi ada sikap sinis bahwa falsafah menulis untuk hidup cenderung menyeret penulis pada situasi melacurkan diri pada karya-karya murahan atau karya-karya yang mengabdi pada selera pasar. Andai hal itu ada benarnya, biarlah ia tumbuh dan terseleksi secara alami. Masyarakat pada akhirnya akan tahu mana yang baik bagi dirinya dan mana yang sebaliknya. Pada tahap awal memang sering terjadi tumpah ruah dukungan atas sebuah karya yang mengarah pada eksploitasi seks, sadisme, atau hal lain yang secara etika maupun agama terasa berseberangan. Tetapi lambat laun dukungan masyarakat itu menyusut dan meninggalkan karya ternyata telah membuatnya bosan. Ungkapan "tak lekang oleh zaman" memang menjadi salah satu kriteria sebuah karya yang patut mendapat penghormatan.

Menulis untuk hidup adalah sebuah idaman. Sulit diceritakan kebahagiaan apa yang dirasakan seorang penulis ketika sejumlah besar orang mendapatkan manfaat dari tulisan yang kita buat. Orang terinspirasi untuk berbuat baik, berbuat lebih baik, dan berbuat yang terbaik.

Menulis untuk hidup bisa jadi sebuah ketidaksengajaan atau sesuatu yang terencana. Seorang guru, dosen, atau penulis biasanya memulai dari tahap hidup untuk menulis. Tetapi, kesungguh-sungguhan yang bersanding dengan keberuntungan telah mengantarkan mereka pada kondisi menulis untuk hidup. Mereka bisa menghidupi dan mendapatkan yang diinginkan dengan menulis.

Jadi. siapa yang ingin membeli apa pun dengan hasil menulis, hidupkan dulu "menulis" Anda.

Diambil dan disunting dari:

Judul artikel : Hidup Untuk Menulis Dan Menulis Untuk Hidup
Judul majalah : Matabaca Juni 2005
Penulis artikel : Ukim Komarudin
Halaman : 17 -- 19