Arah Dalam Penulisan Kristiani

Penulis : Drs. Wilson Nadeak

Seorang editor mengeluh, "Sebagian tulisan yang saya terima kesaksian melulu. Sebagian lagi tulisan yang mengkhotbahi. "Payah," katanya bernada murung. "Apakah tidak ada orang Kristen yang dapat membedakan kesaksian, khotbah, dan artikel?"

1. Pengalaman pribadi
Pengalaman pribadi yang unik dan bermanfaat bagi orang lain memang diperlukan oleh umat Kristen. Setiap pembaca majalah Kristen atau tulisan yang bersifat Kristiani yang dimuat di majalah umum sekalipun, pada prinsipnya dihargai orang. Mungkin saja tulisan itu bersifat informatif atau sebuah kesaksian yang menjadi teladan. Setiap pembaca menginginkan tuntunan rohani. Mereka memerlukan pertolongan untuk memecahkan persoalan yang dihadapi mereka. Dalam majalah umum dewasa ini sudah lazim ditemukan ruangan khusus mengenai pengalaman pribadi. Cerita yang memang benar-benar terjadi dituliskan dengan cara yang menarik dan memikat, tetapi tidak fiktif! Editor khusus ruangan itu harus sangat jeli sehingga dapat melihat apakah tulisan yang diterimanya itu ditulis dengan sungguh- sungguh sebagai pengalaman pribadi atau hanya sebuah rekaan belaka. Bila tulisan itu rekaan belaka, maka editornya tidak akan memuatnya di ruangan tersebut. Pengalaman pribadi yang mengesankan yang diinginkannya bukanlah jenis cerita pendek yang bersifat fiktif. Tidak pula kesaksian yang "mengkhotbahi".

Masalah utama yang dihadapi oleh editor yang disebutkan dalam awal tulisan ini ialah penyajian bahan itu! Sebuah kesaksian dapat menjadi tulisan yang bagus bila diolah menurut sistematika tulisan. Mereka yang hendak membagikan pengalamannya, pengharapan yang dimilikinya, hendaknya menuangkan pengalaman itu dalam bentuk tulisan yang teratur, menurut teknik penulisan yang cocok untuk itu. Pesan yang terkandung di dalamnya perlu "dibungkus" dengan kerangka berpikir yang sudah dibakukan. Kerangka berpikir itu dijelmakan dalam tulisan yang memenuhi syarat.

Pengalaman pribadi yang berisi kesaksian tentang Kristus, yang berlandaskan sabda-Nya, memang memiliki bingkai tersendiri, dengan ungkapan yang khas untuk itu. Tetapi bukan berarti cara penulisannya tidak perlu ditata kembali.

2. Penyajian tulisan itu
Secara fisik, tulisan sebaiknya disajikan dalam bentuk ketikan, rapi dan bersih, berjarak dua spasi, dan bagian sisi kiri serta kanan kertas ketikan dikosongkan kurang lebih 1,5 inci. Mengapa sebaiknya disajikan dalam bentuk ketikan? Untuk memudahkan editor membacanya. Dua spasi? Untuk memudahkan pemeriksaan, koreksi, dan catatan yang diperlukan. Pinggir yang dikosongkan? Juga untuk tempat tanda cetak bagi editor. Naskah yang kurang memenuhi syarat yang disebutkan di atas, cenderung mengurangi minat editor untuk membacanya. Ingat, editor adalah manusia biasa yang jemu membaca naskah yang kurang rapi. Sebaliknya, ia senang menerima naskah yang ditulis dengan rapi sekalipun sesungguhnya pandangan pertama ini tidaklah mutlak menentukan diterima tidaknya tulisan itu. Bukankah naskah yang acak- acakan atau jorok cenderung memberikan kesan yang kurang bermutu dan rendah? Penilaian fisik ini penting. Di samping menghemat waktu, juga menghemat tenaga. Tidak semua editor mempunyai sekretaris yang bertugas untuk mengetik kembali naskah yang sudah dikoreksinya.

Setiap tulisan harus mempunyai judul. Judul itu biasanya mencerminkan isi yang dikandung artikel itu. Judul itu harus pendek dan jelas. Judul memberikan gambaran di dalam pikiran orang, sesuatu yang ringan atau berat. Pada umumnya, editor tidak begitu senang menerima naskah yang berisi hal-hal yang berat dan pelik-pelik, kecuali majalah khusus untuk itu, misalnya majalah teknik dan ilmu serta pengetahuan yang ditujukan kepada orang-orang tertentu saja. Artikel yang mengetengahkan hal-hal yang terlalu bersifat umum pun kurang menarik perhatiannya, apalagi artikel yang bersifat bombastis atau muluk-muluk. Oleh karena itu, mempelajari isi suatu majalah adalah amat penting sebelum menulis untuk majalah itu. Janganlah seorang penulis bertolak dari pendapatnya sendiri, jika ia merasa artikel yang ditulisnya bagus, otomatis semua editor akan menerima dan menerbitkannya di majalah mereka. Masing-masing penerbitan memiliki peraturan sendiri. Bahkan ada penerbit yang menyediakan brosur bagaimana menulis untuk majalah mereka. Jika ada penerbit yang demikian, lebih baik mintalah dari mereka agar Anda dapat menyesuaikan tulisan Anda dengan yang dikehendaki mereka. Anda bukan menulis untuk diri sendiri, bukan?

Yesus Kristus memang tidak pernah dikatakan menulis artikel. Perkataan-Nya ditulis para rasul yang digerakkan oleh Roh Kudus. Dari hasil tulisan dan kesaksian para rasul itu, kita dapat membaca pelbagai bentuk ungkapan dan cara menyampaikan firman. Yesus kadang- kadang menggunakan perumpamaan, percakapan, wawancara, bahkan doa untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang ada di sekeliling-Nya. Semua itu disesuaikan-Nya dengan isi kabar itu sendiri. Untuk mengajarkan "kasih" misalnya, Yesus memberikan perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati. Di dalamnya terkandung pelbagai tafsiran, yaitu mana yang lebih baik berkata-kata di dalam bait Allah, memberikan khotbah dengan suara nyaring, atau melakukan tindakan yang berdasarkan kasih? Yesus menuturkan sesuatu tentang hal "berbuat" dan itulah pesan yang tersirat di dalam perumpamaan itu. Editor memerlukan cara seperti itu (tetapi bukan berarti ia mengharapkan supaya penulis artikel menulis artikelnya dalam bentuk perumpamaan, bukan. Maksudnya ialah biarlah artikel itu sendiri memberikan pesannya bukan menggurui).

Sebuah tulisan harus terarah. Ada pokok pembahasan khusus yang dipilih dengan sangat hati-hati. Pokok pembahasan ini dapat dipetik dari kehidupan sehari-hari, atau dipelajari dari buku-buku, melalui penyelidikan, dengan sumber yang jelas. Penyajian harus segar, mencerminkan suatu gagasan yang utuh, positif, dan praktis. Pokok masalah itu harus menarik. Di dalamnya ada suatu kekuatan yang menggerakkan orang, pembacanya, untuk melakukan sesuatu sesuai dengan yang diinginkan penulisnya. Ingat, di sekeliling Anda begitu banyak saingan yang amat menarik yang dapat mengalihkan pikiran pembaca dari tulisan yang bersifat keagamaan. Penyajian sangat memegang peranan penting. Manusia sekarang cepat sekali bosan. Para penyiar televisi bersaing keras untuk merebut hati penonton, kalau acara dari satu saluran kurang menarik, dalam sekejap saja penonton akan pindah ke saluran lain! Begitu pula di dunia penulisan. Kalimat-kalimat permulaan harus menarik, juga bagian isi, dan penutupnya. Tujuan yang jelas akan membuat pembaca betah meneruskan bacaannya. Di dunia ini begitu banyak yang menarik, dan biasanya penulis pemula cenderung memasukkan semua hal yang menarik perhatiannya ke dalam tulisannya, sehingga pembaca menjadi bingung karena tidak dapat melihat dengan jelas arah yang akan ditempuhnya. Dan pembaca pertama dari naskah Anda ialah editor majalah yang Anda kirimi. Jika ia bosan dan tidak menemukan tujuan tulisan Anda, maka ia pun akan mengembalikan tulisan tersebut!

Yang perlu diperhatikan oleh penulis Kristiani ialah dampak tulisan itu sendiri. Apakah penulis tetap pada tujuan yang ditetapkannya semula dan mengembangkannya sampai akhir tulisan itu? Seorang editor menilai sebuah tulisan dengan bertanya kepada dirinya sendiri, "Apakah dampak artikel ini kalau saya muat?" "Apakah pembaca akan diajak berpikir dan memberi respon?" Sebuah tulisan tidak akan dimuat oleh editor hanya karena ia mengenal baik penulisnya. Seorang kawan yang baik lalu menulis, belum tentu hasil tulisannya menjadi baik. Seorang yang memiliki pengalaman kristiani dan kemudian menuliskan pengalamannya yang mengesankan itu, belum tentu menghasilkan sebuah karya yang bermutu tinggi.

Untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan itu, penulis mempunyai alat yang tidak boleh dilupakannya, yang harus disadarinya dengan sungguh-sungguh, yaitu penggunaan kata-kata yang sederhana. Bahasa yang sederhana dengan isi yang mendalam adalah alat yang paling mantap untuk berkomunikasi. Orang sekarang tidak mau lagi diajak membuka kamus setiap kali bertemu dengan kata-kata yang sukar. Mereka akan melewatkan kata itu dan beralih ke halaman berikutnya, atau menutup sama sekali majalah yang sedang dibacanya, lalu beralih ke majalah lain atau kepada kegiatan lain. Kemajuan teknologi sekarang ini membuat kebanyakan orang malas berpikir. Orang tidak perlu berhitung luar kepala karena sudah ada mesin kalkulator. Kalimat yang panjang-panjang dan berbelit-belit hanya melelahkan mata dan membuat pikiran editor kusut, lalu mengembalikan naskah itu. Sekalipun isinya merupakan kesaksian kristiani yang mengesankan! Editor selalu memilih yang terbaik untuk diterbitkannya! Pengalaman yang menarik harus dijalin dengan baik, diberi arah yang jelas diungkapkan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami.

Bahan dikutip dari sumber:
Judul Buku : Bagaimana Menjadi Penulis Artikel Kristiani yang Sukses
Judul Artikel : Arah dalam Penulisan Kristiani
Penulis : Drs. Wilson Nadeak
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 1989
Hal : 33 - 38