Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Kaidah dan Pemakaian Bahasa

Salah Kaprah Pemakaian Kata "Dirgahayu"

Salah kaprah berarti sesuatu yang tidak benar, tetapi dilakukan oleh banyak orang sehingga tampak seolah-olah benar dan biasa. Salah kaprah sering terjadi dalam bahasa komunikasi yang lebih mengutamakan pemahaman komunikatif daripada tata bahasa baku. Pesan memang telah sampai kepada komunikan, meskipun tata bahasa dan makna sebenarnya kacau. selengkapnya... about Salah Kaprah Pemakaian Kata "Dirgahayu"

"Non" sebagai Awalan? Nanti Dulu!

Penulis: Lie Charlie

Nonaktif. Kata ini meruap kala seorang pejabat terkena kasus atau intrik politik. Misalnya kala Kapolri Bimantoro dinonaktifkan oleh Presiden Gus Dur pertengahan tahun 2001. Begitu juga ketika Syahril Sabirin tersandung kasus Bank Bali. Ia diminta nonaktif dari jabatannya. Kasus terbaru tentunya Akbar Tandjung.

Kata tidak selengkapnya... about "Non" sebagai Awalan? Nanti Dulu!

Edisi Publikasi: 
Kolom Publikasi: 

Murahnya Janji

Saya pernah menyimak iklan sebuah klinik transplantasi rambut yang terpasang di koran ini. Klinik itu menawarkan rambut kepada para orang botak dengan slogan: "Bukan janji, tapi pasti!" Di koran ini juga seorang pelanggan mengirim surat pembaca yang isinya mengeluhkan pelayanan salah satu bank nasional. Penawaran kartu kredit yang diterima penulis surat itu dianggap "hanya janji". selengkapnya... about Murahnya Janji

Ampersand (Tanda "&")

Kawan baik saya, Tony Rudyansjah, pada Juni lalu menerbitkan bukunya "Alam, Kebudayaan & Yang Ilahi". Buku itu menelusuri ihwal teori-teori sosial dan budaya dari masa klasik sampai modern. Sebagai perangkat ilmu, berbagai teori itu terus-menerus dikembangkan para ahli sehingga melahirkan turunan, pencabangan, dan pengingkaran terhadap teori induknya. selengkapnya... about Ampersand (Tanda "&")

Bakal dan Calon Lagi

Belum lama ini saya membaca istilah "bakal calon Presiden" di beberapa koran, berhubungan dengan pasar Presiden yang sedang diramaikan di Indonesia. Pertama-tama, kelihatan agak janggal, ganjil, dan bersifat mengada-ada. Akan tetapi, setelah direnungkan beberapa saat, saya berubah pikiran dan memahami istilah ini sebagai salah satu bentuk daya cipta bahasa Indonesia yang baik berguna maupun cukup cerdas. selengkapnya... about Bakal dan Calon Lagi

Pake "kes" Apa "kad"?

Lain hari lain cerita. Istri saya mau mencuci muka di salon kecantikan. Eh, salah: istri mau "facial" di "beauty" salon. Di sampingnya ada yang sedang "treatment", entah itu apa. Saya sendiri tidak ikut karena sibuk dengan buku "Islam Liberal", Zoly Qodir: "Gerakan "civil society" seakan-akan melakukan "take over" karena memang negara benar-benar tidak bisa lagi menjadi "public service"", tulisnya (hlm 16). Aduh, pusing lagi. Meski begitu, saya tidak putus asa dan lantas diberi tahu bahwa "Islam [...] harus lebih mengutamakan "reason", ketimbang "feeling" dan "fear"" (hlm 33). Wah.

Minggu esoknya kami "rental VCD" dan belanja di "shopping centre". Adapun undangan pergi ke Jawa Timur dalam rangka "refreshing". Di Blora ada "grand opening" di swalayan baru.

Kosakata bahasa Inggris

Saya benar-benar tidak berminat dan berniat menulis artikel ini sebelum pergi ke Indonesia beberapa bulan yang lalu. Saya sudah pernah menyinggung penggunaan bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari di Indonesia dalam artikel-artikel lain, dan sudah tidak tertarik membahas masalah ini lagi. Hanya saja, saya cukup terkejut melihat bagaimana beberapa kosakata Inggris, dibiarkan merambat dengan liarnya di tengah-tengah kosakata Indonesia, dan menyadari bahwa penggunaan bahasa Inggris selektif ini sudah meluas secara bermakna dalam waktu singkat satu tahun terakhir.

Sekarang ada-ada saja pembaca, termasuk para "pakar" yang kebakaran jenggot: "Emangnya kenapa kalo kita-kita memakai "English"? Kan sudah mengindonesia, "right"?" Pertanyaan serupa seolah-olah dijawab oleh dirinya sendiri.

Ada beberapa hal tidak mengenakkan yang disebabkan penggunaan kosakata Inggris dalam bahasa Indonesia tersebut. Pertama, bisa terjadi kesalahpahaman yang dikarenakan logat yang kurang jelas. Hasilnya dapat dilihat di atas (kes apa kad). Kedua, terjadi penggunaan yang secara tata bahasa tidak betul, sebab tata bahasa Indonesia dan tata bahasa Inggris tidak bisa dicampur begitu saja. Perhatikan misalnya kalimat "Dia mau "rental VCD"" yang dapat ditafsirkan secara berbeda-beda. Apakah maksudnya "Dia mau menyewa VCD"? Atau "Dia mau membuka tempat penyewaan VCD"? Atau, mungkin "Dia mau menyewakan VCD-nya"? Tidak ada yang tahu sebab kata rental sudah terlepas dari arti bentuk aslinya.

Ketiga, kita tidak bisa yakin semua orang dari semua lapisan masyarakat dapat mengerti kosakata Inggris yang kita sendiri sudah hafal. Dengan demikian, kita tidak bisa yakin pelayan-pelayan di warung Padang yang biasa kita singgahi mengerti kalau kita mau "order" untuk "take away". Keempat, dengan pemakaian beberapa kosakata Inggris terpilih, bisa dikatakan bahasa Indonesia telah dicemari dan dijajah oleh bahasa lain. Sejujurnya, ini sama sekali tidak perlu, sebab bahasa Indonesia sendiri mengenal kosakata lain yang bisa dipakai. Mengapa tidak bisa pakai yang berikut ini: tunai, kartu, minuman selamat datang, pemandangan sungai, pelunasan penginapan, kartu identitas, masyarakat madani, pengambilalihan, pelayanan rakyat, akal, perasaan, ketakutan, pusat perbelanjaan, dan seterusnya?

Bahasa Indonesia sendiri mengenal kosakata lain yang bisa dipakai.


Facebook Twitter WhatsApp Telegram

Mengapa beberapa kosakata Inggris begitu digemari di Nusantara ini? Saya tidak tahu dengan pasti. Tapi sepertinya ada hubungannya dengan citra diri sebagian masyarakat, yang ingin menampilkan diri sebagai insan terdidik serta serba "modern". Ironisnya, justru pendidikanlah yang diharapkan bisa mengubah perkembangan muram ini.

Diambil dari:
Judul buku : 111 Kolom Bahasa Kompas
Judul artikel : Pake Kes apa Kad?
Penulis : Andre Moller
Penerbit : Penerbit Buku Kompas, Jakarta 2006
Halaman : 166-168

selengkapnya... about Pake "kes" Apa "kad"?

AC, VCD, DVD, TV, UII, UGM, HP

Tidak diragukan lagi bahwa singkatan-singkatan seperti AC, VCD, DVD, dan TV sudah menjadi bagian integral dari bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa nusantara lain. Setiap hari, singkatan tersebut kita temui di berbagai konteks atau malah kita gunakan sendiri. Tentu ini sah-sah saja. Orang yang kreatif sekaligus menolak pengaruh bahasa Inggris yang terlalu dahsyat dalam bahasa Indonesia, pasti dapat mengajukan alternatif lain yang lebih menusantara. selengkapnya... about AC, VCD, DVD, TV, UII, UGM, HP

Ragam Tutur dan Kesantunan

Seorang mahasiswa di Semarang yang tidak mau disebut namanya, menanyakan bedanya rasa hormat dan rasa santun. Tingkat tutur atau "speech level" dalam masyarakat tutur Jawa, digunakan untuk menyampaikan rasa hormat ataukah rasa santun? Hadirnya bahasa ragam tutur yang sepertinya sekarang lebih banyak berkembang dan lebih banyak diminati daripada bahasa baku, harus dipahami sebagai fenomena bahasa yang bagaimana? selengkapnya... about Ragam Tutur dan Kesantunan

Ragam Bahasa Baku

Bahasa standar selamanya adalah bahasa tulisan.

Sutan Takdir Alisjahbana selengkapnya... about Ragam Bahasa Baku

Pages

Komentar

Subscribe to Kaidah dan Pemakaian Bahasa