Skip to main content

Tulisan-tulisan yang berisi sharing maupun kesaksian pengalaman para penulis ketika mereka berproses lewat kegiatan menulis.

Panggilan Penulis Kristen

Mintalah orang-orang di sekitar Anda untuk memberikan reaksi spontan terhadap kata-kata "literatur Kristen" dan Anda mungkin akan mendengar mereka menelusuri daftar kata sifat yang meremehkan. Terlepas dari bertambahnya jumlah penulis Kristen yang cakap, reaksi tersebut menunjukkan bahwa kami — pewaris tradisi Chaucer, Milton, dan Donne; penerus Tolstoy, Dostoyevsky, dan Chekov; keturunan literatur G.K. Chesterton dan Dorothy Sayers, dan dari J.R.R. Tolkien dan C.S.

Dia Tetap Memberi yang Terbaik

Pagi hari, 19 Oktober 2004 ... kami sekeluarga benar-benar syok, dikagetkan karena orang yang kami kasihi meninggal dunia. Bukan hanya kami sekeluarga yang kaget dengan kejadian ini, tetapi seluruh kerabat yang kami hubungi, teman-teman, dan semua orang yang mengenal mama, mereka juga kaget. Mereka ada yang kemarin ketemu dengan mama, ada yang janjian selasa sore mau diajak makan-makan dengan mama, ada yang kemarin baru ngobrol-ngobrol dengan mama. Mama sehat-sehat saja ... Tidak ada pesan-pesan atau tanda-tanda sama sekali, benar-benar serasa mimpi.

Saling Berbagi Sesama Penulis

Sejak duduk di sekolah dasar, kita sudah dikenalkan dengan klub belajar (belajar kelompok). Kegiatan yang sangat menyenangkan dan para anggotanya dapat belajar dengan lebih cepat karena bisa saling melengkapi satu sama lain. Begitu pula dalam belajar menulis. Dengan membentuk klub menulis, kita dapat berkumpul bersama untuk menceritakan hasil tulisan dan mengispirasi satu sama lain untuk terus menulis. Bisa juga saling berbagi ilmu dan pengalaman dalam menulis. Jika kita belajar sendiri, wawasan dan pengetahuan kita mungkin tidak seluas saat kita belajar bersama dalam klub menulis, dan kecepatan belajar kita tidak secepat saat kita bergabung di dalam klub menulis.

Kesaksian Grace Suryani

Pertama kali Anda membaca buku tulisan Grace Suryani, yang berjudul The Puzzle of Teenage Life (Penerbit Kairos), dalam hati mungkin Anda akan berpikir, "Ah ... bahasa apaan nih, kacau banget ...." Namun, setelah Anda membaca satu, dua judul, maka Anda akan mulai sadar bahwa inilah Grace, remaja berusia 18 tahun, yang sedang menulis untuk remaja-remaja sebayanya. Nah, barulah Anda akan berkomentar, "Wah ... hebat juga nih anak ...." Akan tetapi, keberhasilan Grace menulis buku bukan tanpa perjuangan atau keberanian. Anda ingin tahu bagaimana ia memulai menulis bukunya dan apa yang memotivasinya untuk menulis? Bacalah pengakuannya berikut ini:

Gambar: Kesaksian

Oi! Hehehe. Duh guys, saya ini bersyukur banget bisa bikin ini buku. Buat saya pribadi, buku ini lebih dari sekadar buku. Ini juga lambang "kebebasan berbicara". Lahir sebagai cewek, masih muda lagi, bikin omongan saya hampir tak terdengar. Setiap kali mau curhat atau mengemukakan pendapat, ada segudang tembok yang menghalangi. En, sekalipun saya bisa "bicara", kadang saya tidak pernah dilihat sebagai seorang pribadi. Ketika saya bicara di sekolah, orang-orang melihat saya sebagai sekretaris sekbid, anak alim .... Ketika saya bicara di gereja, saya dilihat sebagai anaknya bapak itu, keponakannya Pdt. Z, anaknya ibu majelis.

Lama-lama, saya muak. Habis, saya selalu berusaha setuju sekalipun saya tidak setuju. Hidup pakai topeng .... munafik. Ketika sepertinya tidak ada orang yang peduli dengan isi hati saya, tiba-tiba "I met Someone" -- Seseorang yang memberi saya anugerah terindah (kayak lagunya Sheila on 7). Pribadi yang juga memberi saya kemampuan untuk "bicara". Bicara lewat tulisan. En, sejak saat itu, hidup saya berubah ....

En, that Guy enggak cuman kasih saya karunia, tetapi juga tugas yang harus saya kerjakan. Dahulunya, saya pikir aduhh ... dikasih PR segala. Namun, ternyata saya suka banget bikin tugasnya ... habis tugasnya seru sih! Bikin Puzzle. Puzzle kehidupan.

Pengalaman hidup bersama Yesus adalah sumber menulis yang tak pernah kering. (Grace Suryani)


Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

Kehidupan itu sebenarnya puzzle yang gedhe banget ... tiap keputusan yang kita bikin, itu satu potongan puzzle. En, kalau dirangkai, bakal jadi satu keputusan. Jadi puzzle. Masalahnya, apakah puzzle yang kita bikin itu gambarnya bagus atau kagak, itu tergantung dari tiap potongan (baca keputusan) yang kita pilih. Kalau kita pilih potongan yang benar, yah jadinya bagus. Kalau kita pilihnya ngawur, hasilnya ajubile binjali deh!

Tulisan di atas adalah kutipan kata pengantar (cuap-cuap) dari buku The Puzzle of Teenage Life, oleh Grace Suryani. Kami ajurkan Anda membaca buku ini karena selain dapat belajar tentang bagaimana mendapatkan ide-ide menulis, Anda juga akan diajak untuk merenungkan kehidupan sehari-hari dengan Tuhan. Di sinilah, sebenarnya nilai utama dari buku ini. Bagi Grace, pengalaman hidup bersama Yesus adalah sumber menulis yang tak pernah kering. Yesuslah yang telah mengubah hidupnya dan Yesuslah yang menjadi inspirasi bagi tulisannya.

Sumber kesaksian: Grace Suryani

Edisi Publikasi