Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Dunia Penulisan Kristen

Editor Kristen Rindu Melayani

Melayani sesama berarti membimbing, menghargai, dan memenuhi kebutuhan orang lain. Bagi editor, pelayanan adalah cara hidup. Melayani orang lain merupakan aturan main paling penting bagi editor, termasuk bagi editor Kristen. Editor Kristen melayani empat tuan: penerbit, penulis, pembaca, dan Tuhan.

1. Editor Melayani Penerbit selengkapnya... about Editor Kristen Rindu Melayani

Tugas-Tugas Penyunting Kristen

  1. Seorang penyunting percaya sebuah buku yang baik dapat dibuat lebih baik lagi.

  2. Memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya bisa menjadi petunjuk objektif bagi penulis.

  3. Tidak takut mengatakan apa yang ia pikirkan tentang sebuah naskah dengan jujur, sekaligus menjaga perasaan penulis.

  4. Waspada dalam perhatiannya pada setiap kata, setiap kalimat, dan setiap tanda baca di dalam karya penulis.

  5. Menyuarakan karya penulis dengan nada yang lebih simpatik.

  6. Menyesuaikan diri dengan penulis, bukan sebaliknya.

  7. Perlu waktu. Tulisan yang baik membutuhkan waktu, demikian juga menyunting.

  8. Memiliki telinga bagi gaya penulis.

  9. Adalah pembaca yang paling objektif bagi buku yang akan diterbitkan.

  10. Paham bahwa tulisan yang jelas adalah penting bagi pikiran yang jernih.

  11. Mencoba menjadi penulis kedua tanpa mengubah istilah-istilah awal yang digunakan penulis.

  12. Menegaskan keunikan penulis.

  13. Dengan lembut memangkas keangkuhan, penilaian subjektivitas, kekeraskepalaan, maupun "kegaringan" penulis.

  14. Berkata, "Saya menambahkan ini untuk menunjukkan apa yang menurut saya salah, bukannya memaksakan yang menurut saya benar."

  15. Tidak pernah berkata, "Sudah saya bilang!"

Tiga Simbol Natal

Ada tiga simbol yang berarti Natal -- yang benar-benar bermakna Natal.

Yang pertama adalah buaian bayi. Dengan kata-kata yang mudah dipahami oleh manusia, Alkitab menggambarkan Tuhan dalam bentuk manusia dalam sosok seorang bayi kecil! Di sana, di Bethlehem, dalam buaian yang berisi harapan dan impian dunia yang sedang sekarat, tangan kecil dan montok yang mengenggam jerami dalam palungan-Nya itu akan menyembuhkan mata yang buta, telinga yang tuli, dan meredakan keganasan lautan; kaki-kaki kecil itu akan mengantarkan-Nya ke tempat mereka yang sedang sakit dan membutuhkan. Kaki-kaki itu juga yang akan dipaku di kayu salib Kalvari. Palungan di Bethlehem yang terpencil menjadi penghubung yang mengikat dunia yang terhilang kepada Tuhan yang penuh kasih. selengkapnya... about Tiga Simbol Natal

Melayani Dia Melalui Pena

Di tengah-tengah seminar Langkah Pemuda di Tengah Pergolakan Dunia, seorang mahasiswi Sastra Inggris Universitas Nasional Jakarta, yang juga menjadi salah seorang peserta seminar itu, memberiku selembar kertas. Aku terkejut. Aku belum begitu akrab dengan dia. Aku baru mengenalnya dua hari. Ya. Pada saat seminar itu saja. Namanya Inge! selengkapnya... about Melayani Dia Melalui Pena

Literatur Kristen Lebih Penting daripada Bangunan Gedung Gereja

Akhir bulan Juni 1997 yang lalu, Pdt. Peter Wongso diundang oleh Sinode GKKK sebagai pembicara utama Retret Pimpinan Kalam Kudus di Kaliurang, Yogyakarta. Sebelum melanjutkan perjalanan pelayanannya ke manca negara, beliau sempat singgah di SAAT beberapa hari. Dalam persinggahan tersebut redaksi majalah HUT GKKK Semeru Malang ke-30 yang diwakili Pdt. Timotius Witarsa, mewawancarai beliau. Petikannya adalah sebagai berikut:

Red : Apakah makna literatur Kristen bagi Bapak? selengkapnya... about Literatur Kristen Lebih Penting daripada Bangunan Gedung Gereja

Alkitab dan Penulis

Mencari nafkah hanya dari tulisan kristiani tidaklah mungkin untuk saat ini. Tetapi untuk menjadi penulis yang profesional bukanlah suatu hal yang mustahil. Dalam pertemuan-pertemuan penulis Kristen, yang tidak boleh dilupakan ialah bagaimana menyampaikan firman Allah dalam bahasa yang dipahami oleh manusia pada zaman ini. Bagaimana caranya menggunakan alat tulis untuk menghasilkan tulisan yang baik, yang memberikan pedoman hidup bagi umat manusia tanpa memberi kesan menggurui atau mengkhotbahi. Teknik-teknik penulisan umum dan kristiani tidak jauh berbeda. Tetapi penulisan kristiani berangkat dari suatu konsep yang sudah pasti. Sedangkan menulis untuk majalah umum tidak selamanya demikian. Banyak tulisan yang dibuat penulis hanya sekadar untuk menyenangkan hati atau memuaskan intelek, emosi, atau kepentingan lainnya. selengkapnya... about Alkitab dan Penulis

Seandainya Tidak Ada Penulis

Apakah Anda dapat membayangkan apa yang akan terjadi bila tidak ada penulis Alkitab. Anda pun dapat menduga apa yang akan terjadi jika tidak ada catatan tertulis tentang Allah. Percaya secara ngawur mungkin kata yang tepat untuk mengatakannya.

Saya pernah mengadakan survei sederhana ketika menyampaikan ceramah di sebuah sekolah tinggi teologi di Yogyakarta. Survei itu adalah tentang pentingnya pelayanan literatur menurut para mahasiswa. Survei sederhana tersebut menunjukkan hasil yang mengagetkan. Hanya sekitar 20% mahasiswa yang menilai penting pelayanan literatur. Selebihnya, menganggap tidak terlalu penting.

Gambar: Menulis

Data di atas, hendak menunjukkan banyak orang yang kurang berminat dalam area pelayanan tulis-menulis. Mereka berpikir lebih baik melakukan pekerjaan lain daripada menulis. "Menulis adalah pekerjaan membosankan dan menguras energi," kata seorang pendeta dalam suatu pertemuan sinode sebuah gereja. Menurut hamba Tuhan senior tersebut, lebih baik menjadi pengkhotbah keliling daripada menulis. "Lebih baik menjadi penginjil terkenal daripada menulis," imbuh hamba Tuhan lain yang ikut nimbrung.

Survei sederhana dan hasil percakapan di atas membawa inspirasi tersendiri untuk menuliskan artikel di atas. Judul itu merupakan hasil perenungan, sekaligus kegelisahan batin saya. Saya berpikir apa jadinya dunia intelektual bila tidak ada penulis. Apa yang bakal terjadi bila orang menganggap enteng masalah tulis-menulis. Mungkinkah kerohanian orang Kristen akan bertumbuh? Bagaimana menurut Anda?

Dari perenungan itu, minimal ada tiga hal penting yang akan terjadi bila tidak ada penulis.

Bila tidak ada penulis, tidak ada yang mengenal Allah dengan tepat.

Allah tidak hanya menyatakan diri dalam Yesus Kristus, tetapi juga memakai media literatur. Alkitab adalah wahyu Allah, ditulis sekitar empat puluh orang yang bersedia dipakai-Nya. Orang-orang ini dengan kepribadiannya menuliskan kasih dan kemurahan Allah. Pula tentang rencana Allah bagi dunia ini.

Bila Allah dalam sejarah hanya menyatakan diri dalam Yesus Kristus dan tidak ada data tertulis, kemungkinan besar kita hanya beriman kepada Allah "kata orang". Maksudnya, kita hanya memercayai Allah menurut pendapat orang di sekeliling kita. Iman kita dibangun bukan berdasarkan data akurat yang pantas dipercaya, yakni Alkitab. Jika kita percaya kepada Allah menurut kata orang, hal itu sangat berbahaya. Mengapa berbahaya? Karena kita tidak mungkin mengenal Allah dengan tepat dan benar. Namun, sangat berbeda jika Allah menyatakan diri-Nya melalui sebuah data tertulis yang diwahyukan oleh Allah sendiri. Dan, data itu diwariskan dari generasi ke generasi.

Akan tetapi, kita bersyukur karena ada Alkitab, sebuah buku agung sepanjang sejarah manusia. Buku itu memberi informasi lengkap tentang Allah dan karya-Nya. Kita juga bersyukur karena Allah memakai manusia untuk menuliskan tentang diri-Nya, kasih-Nya, dan kemurahan-Nya bagi dunia. Tentu hal ini merupakan kabar gembira bagi kita. Di dalam Alkitab, kita dapat menemukan Allah. Juga dapat memahami maksud-Nya bagi dunia ini dan diri kita.

Anda dapat membayangkan apa yang bakal terjadi jika tidak ada penulis Alkitab. Anda juga dapat menduga apa yang akan terjadi jika tidak ada catatan tertulis tentang Allah. Mungkin satu kata untuk mengatakannya -- ngawur. Orang akan beriman kepada Tuhan secara ngawur. Orang akan melayani Tuhan, juga dengan cara ngawur. Serba ngawur itulah yang terjadi bila tidak ada para penulis Alkitab.

Sesungguhnya, banyak mutiara iman yang hilang dari kekristenan karena tidak ada orang yang menuliskannya. Ada banyak pengalaman indah bersama Tuhan yang hanya diketahui oleh kalangan terbatas. Terbatas karena tidak ada dokumen yang disebarluaskan.

Karena itu, Allah menyampaikan pesan dan perintah-Nya melalui tulisan dan para penulisnya. Kepada Nabi Habakuk, Allah memberi perintah: Tuliskanlah penglihatan itu dan ukirkanlah itu pada loh-loh supaya orang sambil lalu dapat membacanya (Habakuk 2:2). Allah menilai media tulis-menulis sebagai sarana untuk menyatakan diri-Nya.

Bukan hanya Allah yang menilai pentingnya sebuah tulisan, tetapi para tokoh dunia pun mengakui hal ini. Mereka secara jujur mengaku bahwa ada kekuatan yang luar biasa melalui tulisan. Sebagai contoh, tokoh reformasi gereja, Martin Luther berpendapat, "Selain keselamatan dari Tuhan Yesus, maka anugerah terbesar dari Tuhan yang lain adalah mesin cetak." Demikian juga Benyamin Franklin berkata, "Bila saja Anda memberi 26 serdadu, maka saya akan menaklukkan dunia." Saat ditanya, apakah yang dimaksud dengan 26 serdadu, ia menjawab, "Huruf A sampai Z." Yang tidak kalah penting adalah pendapat dari Napoleon Bonaparte yang mengatakan, "Senjata api dan pena adalah kekuatan-kekuatan yang paling dahsyat di dunia. Akan tetapi, kekuatan pena akan bertahan lebih lama dibandingkan dengan senjata api."

Dengan tidak ragu lagi, dapat dikatakan bahwa menulis adalah bagian pelayanan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan umat manusia, termasuk orang Kristen.

Bila tidak ada penulis, tidak ada PENYAMPAI berita keselamatan.

Berita keselamatan adalah berita yang harus diwartakan. Berita itu menegaskan bahwa keselamatan diberikan cuma-cuma bagi mereka yang menerima-Nya. Bagaimana cara menyampaikan berita keselamatan itu? Ada berbagai cara, dan salah satunya adalah melalui tulisan.

Beberapa tahun yang lalu, dalam sebuah seminar pembinaan media Kristen yang pernah saya ikuti, seorang pemakalah mengatakan bahwa literatur Kristen adalah utusan Injil tercetak. Mengapa dikatakan demikian? Karena hasil tulisan, baik berupa majalah, tabloid, buku rohani, maupun traktat, dapat pergi ke mana-mana tanpa dilihat sebagai orang asing. Atau, pula menjadi pengkhotbah estafet yang dapat menyampaikan beritanya dengan sangat rajin.

Bila tidak ada penulis, tidak ada PENYAMPAI berita keselamatan. (Seorang rohaniwan—jurnalis di Yogyakarta)


Facebook Twitter WhatsApp Telegram

Para rohaniwan dapat mengambil cuti pelayanan. Selama itu, ia tidak dapat mewartakan berita keselamatan. Namun, literatur Kristen yang digarap oleh penulis yang mencintai Tuhan dapat menjadi pengkhotbah keliling yang tak kenal cuti pelayanan. Siang malam dapat menyampaikan berita-Nya dengan jujur kepada siapa saja tanpa mengalami noise atau distorsi berita. Bukankah hal ini menunjukkan bahwa melayani melalui pena merupakan bagian dari pelayanan kita? Sungguh suatu pelayanan yang sangat penting.

Seorang pernah berkisah awalnya ia mengenal Tuhan. Orang ini adalah seorang yang melawan Tuhan dan membenci kekristenan. Kisahnya unik, ia mengenal Tuhan melalui sebuah traktat kecil kumal yang dibuang di tempat sampah. Ia mengatakan bahwa traktat itu menghantarnya mengenal Juru Selamat.

Bila tidak ada penulis, mungkinkah orang ini mengenal Tuhan? Tentunya tidak! Allah memakai para penulis sebagai sarana pewarta kasih-Nya.

Bila tidak ada penulis, dunia sepi informasi.

Informasi merupakan kebutuhan manusia yang hidup pada abad ini. Bahkan, abad ini disebut sebagai abad informasi. Karena itu, ada pendapat bahwa yang menguasai masa depan adalah mereka yang menguasai teknologi dan informasi. Saya kira pendapat itu benar. Apa yang terjadi saat manusia sepi informasi? Ketika seseorang sepi informasi, tidak mungkin menjadi orang yang memengaruhi dunia. Sepi informasi menyebabkan seseorang dangkal wawasannya. Sepi informasi menyebabkan dunia tidak mungkin maju dengan pesat.

Dari mana munculnya informasi? Dari mana munculnya berita? Apakah informasi langsung turun dari langit? Apakah berita langsung muncul begitu saja? Tentunya tidak bukan? Berita-informasi harus dicari, diusahakan oleh para penulis. Dan, seandainya para penulis mandek, tidak mau menulis, dapat dipastikan bahwa dunia akan sepi informasi. Sepi informasi akan menyebabkan kebodohan. Dan, kebodohan akan menyebabkan kemiskinan. Kemiskinan akan menyebabkan kesengsaraan. Kesengsaraan menyebabkan tingginya konflik sosial dalam masyarakat.

Demikian halnya dalam dunia kekristenan. Apabila sepi penulis, akibatnya berita-berita yang mencemaskan -- tidak membawa pengharapan mewarnai dunia kita. Sebaliknya, bila banyak orang Kristen meluangkan waktu untuk menulis, kita dapat mewarnai dunia dengan pengharapan abadi. Pengharapan dalam Kristus Tuhan. Apakah Anda menyadarinya? Atau, menganggapnya biasa?

Diambil dari:
Nama situs : E-Bahana
Alamat situs : www.ebahana.com
Judul artikel : Seandainya Tidak Ada Penulis
Penulis : Seorang rohaniwan -- jurnalis di Yogyakarta
Tanggal Akses : 28 Juli 2011

selengkapnya... about Seandainya Tidak Ada Penulis

Mencari dan Mengembangkan Ide-Ide Kristiani

Pemberitaan itulah kekuatan Allah (1 Korintus 1:18). Lakukanlah pekerjaan pemberitaan Injil (2 Timotius 4:5).

  1. Dalam PL

    Siapakah yang Memberitakan?

    • Allah memberitakan kesejahteraan (Kejadian 41:16)
    • Para nabi
    • Raja
    • Hakim-hakim

Dunia Editor

Media cetak dan elektronik di Indonesia semakin berkembang pesat. Pertumbuhan media ini tentu saja membuka peluang lebar-lebar bagi editor/penyunting naskah. Untuk meraih peluang ini, para calon editor tentu saja perlu mempersiapkan diri atau bahkan melatih diri untuk lebih peka terhadap penggunaan bahasa. Apa saja yang perlu kita siapkan untuk menjadi editor? Dalam edisi kali ini, redaksi rindu membekali Sahabat dengan artikel yang memaparkan syarat-syarat menjadi editor. Selain itu, redaksi juga menyajikan rubrik Pojok Bahasa yang berjudul, "Bahasa Pasar di Media Bisa Turunkan Kualitas Bahasa Indonesia". Selamat membaca.

Pimpinan Redaksi e-Penulis,
Truly Almendo Pasaribu
< uly(at)in-christ.net > selengkapnya... about Dunia Editor

Mengapa Bersukacita dan Memuji?

Lukas 1:57-80

Bagi sanak keluarga Zakharia dan Elisabet, jelas karena kelahiran anak bagi pasangan tersebut yang menunjukkan rahmat Tuhan yang besar kepada mereka (ayat 57-58). Namun, alasan mereka tidak hanya itu. Zakharia dan Elisabet punya alasan yang lebih besar lagi. Alasan dari sukacita dan pujian itulah yang telah menyebabkan mereka melakukan dan mengalami hal-hal yang membuat para sanak keluarganya heran (ayat 62), dan banyak orang geger (ayat 65). selengkapnya... about Mengapa Bersukacita dan Memuji?

Pages

Komentar

Subscribe to Dunia Penulisan Kristen