Bahan Belajar Kristen Online dapatkan di:live.sabda.org

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Bang Mula Harahap

Dirangkum oleh: Truly Almendo Pasaribu

Tidak susah menggambarkan ciri-ciri fisik tokoh perbukuan Indonesia ini. Perawakannya tinggi, wajahnya berewokan, rambutnya gondrong, dan beruban. Dari logatnya, Anda bisa langsung menebak asal sukunya, Batak. Banyak orang mengenalnya sebagai pejuang dunia perbukuan, tetapi sebenarnya Bang Mula Harahap adalah seorang penulis, editor, penerjemah, sekaligus pemerhati budaya.

Sejak kecil, Bang Mula, yang bernama lengkap Armyn Mulauli Harahap, sudah terpesona dengan bermacam-macam buku bacaan. Betapa beruntungnya dia bisa mewujudkan kecintaannya ini dalam dunia karier. Dia mulai menulis cerita-cerita untuk majalah anak-anak "Kawanku". Kemudian selama 13 tahun, dia menjadi editor penerbit buku BPK Gunung Mulia. Minatnya terhadap dunia perbukuan mendorongnya untuk mendirikan penerbitan buku yaitu "Komindo Mitra Utama". Bang Mula memahami seluk-beluk distribusi perbukuan. Buku referensi, ilmu pengetahuan, dan sastra merupakan santapan harian Mula Harahap.

Dari tahun 1988 sampai 2006, Mula Harahap aktif menjadi Sekretaris Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI). Saat bertugas menjadi sekretaris IKAPI, gagasannya mendapat perhatian dari para pencinta buku. Salah satunya, Mula Harahap mengkritik ide para penggagas Undang-Undang perbukuan demi kepentingan penerbit. Baginya, undang-undang tersebut hanyalah upaya orang-orang yang tidak memahami dunia penerbitan buku. Menurutnya, peraturan itu membuat dunia penerbitan lesu karena pemerintah ikut campur dalam proyek mereka. Undang-Undang ini juga menyebabkan bubarnya Perhimpunan Masyarakat Gemar Membaca (PMGM).

Setelah masa jabatannya sebagai sekretaris IKAPI berakhir, Mula Harahap tetap terlibat dalam IKAPI. Dia masih memberi perhatiannya kepada Yayasan Adi Karya, yayasan di bawah naungan IKAPI yang memberikan penghargaan kepada buku-buku terbaik. Dia juga terlibat aktif sebagai pengurus YOKOMA, sebuah organisasi di bawah naungan Persatuan Gereja Indonesia (PGI).

Saat bekerja di Gunung Mulia, Mula Harahap menemukan tulang rusuk kariernya atau belahan jiwanya, seorang gadis berdarah Ambon marga Tahapary, yang di kemudian hari melahirkan dua orang anak. Di mata anaknya, Riri Harahap, penulis berambut sebahu itu mendidik dengan cara yang cukup unik dan berbeda dibandingkan orang tua lain. Semasa bersekolah dia tidak pernah dituntut mendapat nilai yang bagus. Riri telah memberinya seorang cucu. Dengan demikian, dalam budaya Batak, Mula Harahap adalah opung yang dihormati dan dianggap sepuh. Akan tetapi, dia lebih memilih dipanggil abang yang mencerminkan semangatnya untuk menulis.

Walaupun telah lama tinggal di pulau Jawa, Bang Mula masih tekun memerhatikan budaya aslinya. Dia sangat prihatin melihat perkembangan sastra Batak saat ini. Menurutnya, bahasa Batak akan hilang. "Bahasa itu seperti hutan tropis, setiap tahun akan ada yang hilang," katanya menganalisis dengan serius. Di samping menerbitkan umpasa (perumpamaan) Batak, diperlukan juga sastra Batak yang bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman, katanya lebih lanjut.

Saat menghadiri undangan acara Taman Bacaan Masyarakat di Solo pada tahun 2010, Bang Mula sudah terlihat sakit-sakitan. Akan tetapi, banyak orang yang tidak menyangka Bang Mula dipanggil ke rumah Bapa pada tanggal 16 September 2010, karena komplikasi maag dan darah tinggi. Dunia penerbitan kehilangan seorang tokoh yang dapat dikatakan sebagai "guru" bagi para penerbit. Salah satu pejuang perbukuan Indonesia itu kini telah menemukan ujung dari perjalanan hidupnya. Semoga warisan semangat juangnya tetap tinggal di hati para pencinta buku dan penulis di Indonesia.

Dirangkum dari:

  1. ________________. Mula Harahap [OBITUARI]. Dalam http://indonesiabuku.com/?p=6893

  2. Kristanto, Purnawan. Bang Mula. Dalam http://www.sabdaspace.org/bang_mula

  3. Indonesia-saram. Mengenang Mula Harahap. Dalam http://www.sabdaspace.org/mengenang_mula_harahap

  4. Suramang, Amang. Dari "Si Kuntjung" ke Gunung Mulia. http://tokohbatak.wordpress.com/2009/06/23/mula-harahap

Komentar