Tokoh yang Menghilang dalam Cerpen

OLEH AGUS NOOR

Belakangan, makin sulit kita menemukan tokoh dalam cerpen. Situasi ini bahkan sudah terasa sejak 15 tahun lalu, kira-kira. Tentu saja, dalam setiap cerpen, selalu ada tokoh, setidaknya ada nama-nama tokoh. Tetapi mereka bukan tokoh-tokoh yang memiliki karakterisasi yang kuat, atau setidaknya seperti yang dinyatakan Goenawan Mohamad, "tokoh yang mampu untuk tersisa dalam kenangan setelah kita selesai membacanya". Tiba-tiba saya kangen sekali dengan tokoh-tokoh semacam Open (Jalan Lain ke Roma, Idrus) Inem (Inem, Pramudya Ananta Toer), Bawuk (Umar Kayam), Orez (Orez, Budi Darma), kakek penjaga surau (Robohnya Surau Kami, AA Navis), Rintrik yang buta (Jantung Tertusuk Panah, Danarto).[block:views=similarterms-block_1]

Karakterisasi tokoh-tokoh itu begitu kuat, unik, hingga terkadang saya yakin bahwa mereka adalah tokoh-tokoh yang sungguh-sungguh hidup dan nyata. Tokoh yang bisa disentuh. Tokoh yang berdarah daging, dengan seluruh denyut kehidupan mereka yang kuat. Tokoh dengan karakterisasi yang unik menarik. Tokoh yang oleh Iwan Simatupang dinyatakan sebagai "variant dari genus manusia".

Sebuah cerita pada dasarnya ialah kisah tentang tokoh, begitu Kuntowijoyo pernah berujar. Elemen cerita seperti latar, alur, konflik, tentu saja tak bisa diabaikan.

Tetapi tragic comedy dalam cerita, akhirnya selalu tentang tokoh. Untuk itulah diperlukan pelukisan yang meyakinkan tentang tokoh dalam sebuah cerita, seperti dinyatakan Edward Jones. Sudah barang tentu, untuk mencapai itu diperlukan ruang penceritaan yang lapang untuk melukiskan karakterisasi. Kuntowijoyo pernah mengatakan itu, di mana ketika ruang penceritaan makin sempit, seperti pada cerpen koran, maka pemerian tokoh pun menjadi terbatas. Barangkali, inilah yang membuat tokoh-tokoh dalam cerpen koran kemudian hadir dengan samar-samar, seolah tak punya sosok. Cerita kemudian seperti memiliki sifat "tipis tokoh", seperti pernah digelisahkan Goenawan Mohamad,

Tentu saja, tipisnya tokoh-atau bahkan menghilangnya tokoh-dalam cerita bukan semata-mata perkara teknis ruang penceritaan semata. Barangkali ia memang menjadi persoalan estetis dan "ideologis" dalam penceritaan, yang dikembangkan banyak penulis. Dan in bisa kita lacak melalui gagasan "antitokoh", antihero, yang mulai terlihat kuat dalam sastra kita sejak tahun "70-an. Dalam cerpen kita, hal itu sangat kentara pada cerpen Iwan Simatupang dan Putu Wijaya. Pada Iwan, konsepsi antitokoh itu tentu saja bisa dirunut sumbernya pada pergulatan pemikiran seputar absurdisme dan eksistensialisme. Di mana tokoh-tokoh hero tak lagi dibutuhkan. Cerita tak lagi membutuhkan para pahlawan. Tindakan heroisme hanya melahirkan tragedi kemanusiaan yang makin memperpuruk eksistensi tokoh itu. Karena itu, yang penting kemudian bukan siapa tokohnya, tetapi apa gagasannya. Tokoh-tokoh Iwan kemudian hadir sebagai tokoh yang getir, aneh, penuh pergulatan eksistensial, tetapi bukan tokoh yang berdarah daging. Darah dan kematian bukan sekadar berkaitan dengan tubuh yang konkret, tetapi lebih menyangkut soal gagasan pikiran.

Konsepsi antitokoh membawa konsekuensi dalam hal penokohan, yakni bagaimana cara tokoh-tokoh itu dihadirkan dalam cerita. Sebagaimana bisa kita lihat dalam cerpen-cerpen Putu Wijaya yang seolah mengabaikan tokoh begitu saja, di mana karakterisasi nyaris menjadi tak penting lagi, sebagaimana diperlihatkan dengan tak pentingnya nama-nama tokoh dalam cerpennya. Tokoh bernama Merdeka, Kribo, Budi, atau Amin bisa muncul dalam banyak cerpen yang berbeda. Tak penting siapa (nama) tokohnya, yang penting adalah pandangannya yang lengkap tentang "suatu subyek" dengan sudut pandang, cara penangkapan dan pengungkapannya yang berbeda, seperti yang ditulis Putu sendiri dalam Cerpen. Konsekuensi dari pilihan "ideologis" penceritaan seperti itu, maka subyek tema menjadi yang utama. Itulah yang digeber habis-habisan oleh Putu, seperti dalam kumpulan cerpennya, Yel. Tokoh terkubur dalam percakapan. Karena dengan percakapan itulah muncul "pekabaran yang dibawanya, daya pukai, daya magic, tamsil, ibarat". Menjadi tidak mustahil bila kemudian nama tokoh pun menjadi tak terlalu penting, hingga Putu sering hanya menyebut tokohnya dengan "seorang perempuan", "wartawan itu", "seorang kawan", "Pak RT", dan semacamnya.

Hal serupa dilakukan Budi Darma yang juga banyak meniadakan nama tokoh, sebagaimana dalam cerpen Laki-laki Setengah Umur, Dua Laki-laki, Tiga Laki-laki Terhormat. Tokoh tak bernama membuat tokoh dalam cerpen itu seperti tak berada di dunia nyata. Ini menjadi strategi literer Budi Darma untuk memasuki dunia "jungkir balik", dunia absurd di mana pertautan logis menjadi tidak penting. Yang menarik, pada Budi, karakterisasi tokoh justru menjadi penting: seolah-olah dengan membawa ke latar dan situasi yang jungkir balik, kita justru bertemu dengan karakter yang unik dan ganjil. Dunia yang ganjil membentuk tokoh yang ganjil. Pada Putu, tak pentingnya nama-identitas tokoh karena yang terutama adalah gagasan. Sementara pada Budi, menghilangkan nama tokoh dilakukan justru sebagai ikhtiar menghadirkan watak: kelicikan, keculasan, berahi. Bukan tubuh daging tokoh yang penting, tetapi wataklah yang lebih utama.

Saya teringat pada tokoh Madame Schlitz dalam cerpen Istriku, Madame Schlitz, dan Sang Raksasa Umar Kayam. Tokoh yang hadir begitu detail ciri-ciri fisiknya, perilakunya. Bahkan kita bisa "mendengar" bagaimana suaranya saat berbicara.

Itulah tokoh paling mengesankan yang pernah ditulis Kayam, menurut saga. Mengesankan karena tokoh itu tidak berpretensi sebagai gambaran tokoh yang mengacu pada tokoh sosiologis semacam Sri Sumarah dan Bawuk, tetapi karena tokoh itu sepenuhnya fiktif, yang terasa nyata hanya karena kepiawaian bercerita. Tokoh yang sepenuhnya main-main, tokoh yang "nonsens" karena memang "apa yang diceritakan Kayam dalam cerpen itu hanya ih hal-hal yang "nonsens" saja", seperti dinyatakan Arief Budiman. Tapi justru di situlah ia sepenuhnya menjadi tokoh fiktif yang unik.

Bermain-main "menciptakan" tokoh seperti itu makin langka dalam cerpen kita. Ketika tokoh-tokoh dalam cerita semakin sosiologis (di mana tokoh hadir sebagai representasi realitas sosial) dan hadir dalam teknik penceritaan yang "realis", membuat kita tak lagi menemukan tokoh unik melalui cara penokohan yang unik. Tidak mengherankan bila kebanyakan tokoh-tokoh dalam cerpen kita kemudian menjadi tipologis, dengan cara penokohan yang bagai sapuan-sapuan garis besar riwayat atau identitas tokoh. Kita kehilangan detail penokohan.

Tapi, barangkali memang tokoh sudah tak terlalu penting dalam cerpen kita, sebagai kelanjutan dari apa yang dilakukan Putu. Ketika tokoh tak terlalu hadir dalam cerita, maka yang lebih menggejala kemudian terra, alur, dan suasana. Cerpen Sepotong Senja untuk Pacarku Seno Gumira Ajidarma adalah contoh cerita yang memesona meski tak ada penggambaran tokoh yang detail. Dalam cerita itu hanya disebut nama seorang gadis bernama Alina yang dikirimi sepotong senja oleh tokoh aku. Bagaimana wajah Alina, apakah berjerawat, berapa usianya, apa pakaian kesukaannya, bagaimana rambut aku, cara berjalannya, tidak menjadi penting. Yang penting adalah suasana dan alur kisah yang penuh kegemparan itu.

Persoalannya, ketika cerpen cenderung ingin menghadirkan diri sebagai gambaran realitas sosial seperti kebanyakan cerpen kita hari ini, hilangnya tokoh justru membuat cerita menjadi tidak meyakinkan. Dan di sinilah paradoks cerpen yang dipenuhi tendensi sosiologis. Pada satu sini ia ingin dianggap sebagai gambaran sosial, tetapi ia tak mampu menghadirkan "tokoh yang lengkap secara sosiologis".

Adakah ini hanya lantaran keterbatasan ruang penceritaan? Ataukah ada kecenderungan estetis yang harus kits telisik lebih cermat lagi? Misalkan, itu adalah gambaran makin tak bisa ditemukanmva genus manusia yang konkret dalam realitas keseharian bangsa ini? Tak ada lagi hero, bahkan antihero yang unik spesifik, karena yang ada adalah watak-watak yang memiliki kecenderungan yang seragam, mirip para penyiar radio yang dari Sabang sampai Merauke sama dan standar cara berbicaranya. Itulah gambaran "tokoh reproduktif", tokoh yang seakan-akan diproduksi secara massal dan muncul dalam banyak cerita yang berbeda tetapi sama karakternya.

Di sini saya langsung teringat Alina dan Sukab, yang sering muncul dalam hanyak cerpen Seno Gumira Ajidarma. Juga tokoh Alit, yang nyaris selalu ada dalam cerpen AS Laksana. Apakah yang digagas oleh dua penulis itu, dengan menghadirkan tokoh bernama sama dalam cerpen-cerpen mereka? Bahwa tokoh tak terlalu penting dipermasalahkan?

Dalam cerpen Seno, Alina dan Sukab kadang terasa tak penting sosoknya, karena itu tak terlalu detail penokohannya. Bahkan, Sukab kerap muncul dengan identitas yang berbeda. Begitu pun Alit, yang hadir seakan-akan hanya sebuah kesan, seakan tokoh yang hanya ada dalam pikiran, yang gambarannya serupa ingatan dan kenangan.

Apakah tokoh-tokoh itu dihadirkan untuk mengingatkan betapa kini tokoh dalam kebanyakan cerpen kita memang tiada lain hanyalah bayangan yang samar-samar? Kita seperti tak pernah menemukan manusia!

AGUS NOOR
Prosais

Sumber : Kompas, Minggu, 24 September 2006, Hal 28