Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Loading

Teater sebagai Media Alternatif Khotbah

Teater Kristen

Saya tak ingin lebih jauh membongkar masalah keprihatinan tentang iman Kristen pada saat ini. Sampai saat ini, bila dibandingkan dengan seni suara atau musik, teater di gereja masih belum dimengerti akan keberadaannya. Padahal, sebagai sarana pelayanan lewat media drama, ia tak kalah efektif bila dibandingkan dengan jenis seni yang lain. Persoalannya, mengapa teater atau seni drama belum diminati di gereja?

Ketika saya "turun gunung" dari lokakarya teater rakyat di padepokan bengkel Teater Rendra di Desa Cipayung, Depok, pada tahun 1995, yang diadakan oleh Yayasan Komunikasi Masyarakat (Yakoma PGI). Kami memperkenalkan teater kepada majelis dan jemaat gereja sebagai media alternatif yang sangat komunikatif di tengah liturgi yang monolog.

Di bawah bendera "Dapur Teater PRPO", kami mementaskan sebuah pementasan dengan judul "dramatisasi puisi – Nyanyian Pujian Maria", naskah yang saya buat sendiri dengan dekorasi yang sederhana. Di depan level rendah ditutupi oleh kain berwarna merah dan di belakang dua kursi yang memanjang diselimuti kain hitam. Pada komposisi background tengah, saya sengaja menaruh salib dari kayu yang berdiri miring ke kanan sebagai simbol bahwa penderitaan Kristus tak kunjung usai atas dosa kita.

Ketika pentas teater berlangsung, banyak orang tertawa, terharu, dan ada pula yang tersenyum kecut karena menyentil sebuah perilaku. Kritik tajam terhadap kehidupan kristiani dalam sebuah lakon pementasan teater awalnya tak semua majelis dan jemaat menyukai media ini. Barangkali, hal ini menjawab pertanyaan saya mengapa teater atau seni drama belum diminati di gereja.

Dalam proses perjalanan teater di gereja, sebuah pementasan drama tak ubahnya firman Tuhan yang berkhotbah seperti pedang yang bermata dua. Ia tidak lagi membuat jemaat tertidur, tetapi berjaga–jaga untuk melakukan refleksi atas segala perbuatan yang kita perbuat dalam kehidupan hari lepas hari, selaku pelajar, karyawan, bahkan pengangguran. Kekuatan seni teater ini makin lama makin kental di jemaat kami.

Di setiap acara Natal, Paskah, dan ulang tahun gereja, kami hadirkan teater yang terasa lebih kontekstual pada situasi tema yang tengah terjadi, mulai dari persoalan bangsa sampai persoalan umat kristiani sendiri. Kami beruntung waktu itu dapur teater kami didampingi oleh seorang dramawan senior tahun 73-an -- Arthur John Horoni. Dan, seorang pendeta yang "unik", Pdt. Glorius Bawengan, yang piawai dalam memuncakkan khotbah "ending"-nya dalam setiap pementasan drama kami.

Teater sebagai Alat Komunikasi

Pada masa keaktifan saya tahun 1995 sampai tahun 2000 dalam memberikan latihan dasar teater dan penyutradaraan pementasan yang pernah kami pentaskan di Wisma Pelaut, balai rakyat PGRI Depok, perusahaan besar seperti ICI, Jiwasraya, selaku pendeta muda yang mewartakan Kabar Baik melalui teater tentunya kami menyadari bahwa pesan yang baik tanpa pengomunikasian yang menarik, maka akan membosankan. Tuntutan dasar–dasar seni teater, olah vokal, olah tubuh, mencipta komposisi, ekspresi visual, improvisasi sampai pada analisis sosial ke lokasi sekitar untuk pembuatan suatu naskah terus kami gumuli. Dalam seni teater, setiap pemain dituntut untuk menjiwai dan memerankan karakter dan laku tokoh–tokohnya dengan baik. Usaha untuk mencapai hal tersebut biasanya membutuhkan latihan yang serius. Bagi mereka yang baru mengenal latihan dasar teater akan terkesan "aneh", "lucu". Loh ... latihannya kok seperti "orang gila", demikian celetuk yang muncul.

Mempelajari seni teater yang terpenting bukan saja keinginan pemain menjadi seorang aktor sinetron besar seperti mas Adi Kurdi misalnya, tetapi melatih pengorganisasian (baca: teater rakyat). Membentuk sikap kerja sama dan kesetiakawanan dengan melibatkan diri kita dalam seluruh proses kelompok melalui kerja kolektif, interaksi, memberi, dan menerima kritik.

Adanya kesempatan untuk menggali talenta dan menunjukkan potensi diri di lingkungan gereja dan masyarakat. Dalam proses latihan itu, latihan dasar dalam bentuk permainan rakyat merupakan pembebasan diri dari sebuah sistem yang mengungkung dan menindas. Saat ini, kita akan banyak menjumpai permainan teater rakyat digunakan oleh praktisi SDM dalam perusahaan–perusahaan besar, dalam acara "outbound", yaitu membentuk "team building". Untuk mengobati karyawannya yang mulai jenuh, suntuk, dan mulai tak bergairah. Ibaratnya, men-charge kembali batu baterai.

Kesepakatan dari seorang pemain teater Kristen (baca: orang–orang yang berniat terjun dalam pelayanan teater), ia bukan pihak yang dikuasai lakon, tetapi sebaliknya. Artinya, bahwa dalam memerankan apa saja, seorang pemain teater Kristen tidak perlu khawatir, misalnya menjadi jahat karena memerankan Yudas Iskariot. Akan tetapi, mungkin saja ia menjadi jahat karena masih dikuasai oleh lakon. Berarti, di sini perlu kesadaran pribadi. Bahwa aku memerankan tokoh yang jahat ini karena aku mendukung suatu pesan yang baik, yang ingin dibagikan lewat pementasan sebuah drama. Motivasi yang memang harus lahir dan hidup bagi seorang pemain teater Kristen adalah hanya tertuju bagi kemuliaan Tuhan.

Akan tetapi, akan menjadi persoalan baru jika teater Kristen dijadikan sebagai bentuk seni panggung. Tak ubahnya pendeta terkenal yang naik mimbar dan menjadi larut ke dalam penonjolan kesalehan pribadi, lupa untuk siapa? Dan, yang paling celaka, timbul krisis kesadaran misi sampai akhirnya sang "aku" yang bertakhta dan bukan Kristus. Di sinilah, doa menjadi kekuatan agar pelayanan lewat teater dimurnikan oleh Tuhan.

Diambil dari:

Nama situs : Rawapada
Alamat URL : https://rawapada.wordpress.com/2009/03/13/teater-media-alternatif-khotbah/
Judul asli artikel : Teater: Media Alternatif Khotbah
Penulis artikel : Pambudi Nugroho
Tanggal akses : 10 Februari 2016