Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Loading

Remy Silado

Diringkas oleh: Berlin B.

Remy Silado adalah seniman serba bisa yang dikenal dengan banyak nama pena: Dova Zila, Alif Danya Munsyi, Juliana C. Panda, Jubal Anak Perang Imanuel. Nama aslinya adalah Yapi Panda Abdiel Tambayong. Selain sebagai penulis, pria kelahiran Makassar, 12 Juli 1945 ini, juga dikenal sebagai musisi, dramawan, bahkan pelukis.

Nama pena Remy Silado diambil dari chord pertama lirik lagu "All My Loving" milik The Beatles: 2-3-7-6-1. Salah satu interpretasi nama ini adalah konon, nama ini dibuat berdasarkan pengalaman pada tanggal 23 Juli 1961, ia pertama kali mencium seorang perempuan. Namun, Remy sendiri mengaku membuatnya secara asal-asalan. Angka itu kemudian dipakai pula untuk kelompok teater yang ia bentuk di Bandung: Dapur Teater 23761.

Kecintaan Remy pada seni telah ada sejak ia masih duduk di sekolah dasar. Ketika itu, ia sudah senang bermain drama dan membaca. Buku-buku bacaan yang dibacanya pun merentang dari dongeng atau cerita anak-anak, buku teologia (sejak kelas 5 SD), buku-buku berbahasa Inggris, dan buku-buku sejarah. Hampir semua tokoh sejarah ia kagumi. Namun, pada masa kecilnya, Remy tidak termasuk anak yang betah sekolah. Dia sering membolos.

Remy melewati masa kecil dan remajanya di kota Semarang dan Solo. Ia memulai kariernya sebagai penulis dari usia 18 tahun. Ia menulis kritik, puisi, cerpen, dan novel. Pada tahun 1965, ia memulai karier sebagai wartawan majalah Tempo Semarang dan redaksi majalah Aktuil (1971). Selain menjadi jurnalis, ia juga aktif mengajar di Akademi Sinematografi Bandung sejak tahun 1971 untuk mata kuliah estetika dan dramaturgi. Lebih dari 50 novel, 20 di antaranya novel anak-anak dan 30-an novel keluarga telah dihasilkannya.

Pada dekade 70'an, ia muncul dengan puisi mbelingnya, yakni puisi yang sifatnya memprotes, tetapi melalui pengungkapan yang sederhana, lucu, dan penuh sindiran. Gaya puisi ini dianggap sebagai pembangkangan terhadap puisi mapan, yang berbobot, dan penuh pesan, sekaligus sebuah gebrakan dalam bidang sastra. Gebrakan puisi mbeling itu ia lancarkan melalui majalah Aktuil, tempat ia bekerja. Kumpulan puisi mbelingnya kemudian dibukukan ke dalam buku puisi berjudul "Puisi Mbeling". Buku itu memuat 143 puisi eksklusif Remy dari tahun 70-an.

Gebrakan Remy tak berhenti pada puisi mbelingnya saja. Kumpulan puisinya yang berjudul Kerygma dan Martyria ini juga berhasil mencuri perhatian publik. Berkat buku puisinya itu, ia berhasil meraih penghargaan dari MURI sebagai pengarang buku puisi tertebal, 1.056 halaman dan berisi 1.000 puisi.

Karya sastra Remy sering dinilai unik dan istimewa karena penggunaan kosakata Indonesia lama yang sudah jarang digunakan, seperti pada salah satu karyanya yang berjudul "Kerudung Merah Kirmizi". Dalam novel itu akan ditemui kata-kata yang terbilang asing di telinga, misalnya prayojana, tenahak, bernudub, gancang-gancang, slilit, dan sebagainya. Namun, kekayaan kosakata ini tidak didapat dengan cara mudah karena dia harus banyak membaca sejarah, buku, dan kamus. "Kerudung Merah Kirmizi" berhasil mengantarkannya memenangkan penghargaan prestisius di bidang sastra, yakni Khatulistiwa Literary Award tahun 2002.

Mantan Ketua Teater Yayasan Pusat Kebudayaan Bandung ini juga terkenal karena sikap beraninya menghadapi pandangan umum melalui pertunjukan-pertunjukan drama yang dipimpinnya. Ia misalnya sempat membuat geger karena menggelar pementasan opera di Senayan berjudul "Jesus Christ Superstar". Ketika itu, tokoh Yesus diperankan seorang putra Papua dari kelompok pemusik Black Brother.

Remy banyak melahirkan karya yang tema dan latar budayanya masih jarang disentuh. Mulai dari novel yang mengangkat budaya Tionghoa seperti Ca Bau Kan, Siau Ling dan Sam Pho Kong, Parijs van Java yang mengisahkan kehidupan zaman kolonial Belanda di Bandung, hingga budaya Negeri Sakura pada novel "Kembang Jepun" yang bercerita tentang rumah pelacuran di Surabaya yang dibangun oleh orang Jepang.

Perkembangan dunia sastra dewasa ini yang ditandai dengan kemunculan sejumlah nama penulis perempuan juga mendapat apresiasi positif dari Remy. Menurut pria yang menguasai bahasa Mandarin, Jepang, Arab, Yunani, dan Belanda ini, kesadaran mengembangkan sastra harus ditumbuhkan melalui sekolah-sekolah, seperti yang dilakukan oleh Ketua Lembaga Pendidikan dan Kesenian Jakarta (1973 -- 1977), Taufiq Ismail, melalui lembaga Horison yang membawa kegiatan sastra ke sekolah-sekolah di berbagai kota.

Dari bidang seni musik, Remy juga terkenal lewat lagu-lagunya yang beraliran folk, rock, country, dan dixie yang memang berbeda dengan musik pop Indonesia umumnya. Ia telah menghasilkan 13 album kaset yang tidak semuanya ia nyanyikan sendiri. Ia juga menciptakan sendiri lagu-lagu untuk drama musikalnya.

Di luar kegiatan penulisan kreatif, ia juga kerap diundang berceramah teologi. Secara khusus, ia menekuni teologi kontekstual dan teologi apologetik. Bakat seninya semakin lengkap dengan kemampuannya berakting. Sederet judul film dan sinetron juga telah dibintangi Remy.

Diringkas dari:

Nama situs : Ensiklopedi Tokoh Indonesia
Alamat URL : http://www.tokohindonesia.com/biografi/article/286-direktori/2369-tokoh-banyak-rupa
Judul asli artikel : Tokoh Banyak Rupa
Penulis artikel : e-ti/Muli
Tanggal akses : 29 Juli 2015