Proses Penyerapan Bahasa Asing ke Dalam Bahasa Indonesia

Diringkas oleh: Santi T.

Proses Penyerapan Bahasa Asing ke dalam Bahasa Indonesia

Proses penyerapan bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia dapat dipertimbangkan jika salah satu syarat di bawah ini terpenuhi, yaitu:

  1. Istilah serapan yang dipilih cocok konotasinya.
  2. Istilah yang dipilih lebih singkat dibandingkan dengan terjemahan Indonesianya.
  3. Istilah serapan yang dipilih dapat mempermudah tercapainya kesepakatan jika istilah Indonesia terlalu banyak sinonimnya.

Kata serapan masuk ke dalam bahasa Indonesia dengan empat cara:

  1. Adopsi
    Pemakai bahasa mengambil bentuk dan makna kata asing itu secara keseluruhan. Contoh: supermarket, plaza, mall.
  2. Adaptasi
    Pemakai bahasa hanya mengambil makna kata asing itu, sedangkan ejaan atau penulisannya disesuaikan dengan ejaan bahasa Indonesia. Contoh: "Pluralization" menjadi "pluralisasi".
  3. Penerjemahan
    Pemakai bahasa mengambil konsep yang terkandung dalam bahasa asing itu, lalu kata tersebut dicari padanannya dalam bahasa Indonesia. Contohnya: "Try out" menjadi "uji coba".
  4. Kreasi
    Pemakai bahasa hanya mengambil konsep dasar yang ada dalam bahasa Indonesia. Cara ini mirip dengan cara penerjemahan, tetapi tidak menuntut bentuk fisik yang mirip seperti cara penerjemahan.
    Misal, kata dalam bahasa aslinya ditulis dalam dua atau tiga kata, sedangkan dalam bahasa Indonesianya hanya ditulis satu kata. Contoh: "Spare parts" menjadi "suku cadang".

Kata Serapan sebagai Bagian Perkembangan Bahasa Indonesia

Kata serapan lumrah terjadi antarbahasa. Proses serap-menyerap kata terjadi setiap kali ada kontak bahasa melalui pemakainya. Bunyi bahasa dan kosakata merupakan unsur bahasa yang bersifat terbuka/mudah menerima pengaruh sehingga dalam kontak bahasa proses serap-menyerap unsur asing akan terjadi. Hal ini terjadi bisa dikarenakan adanya kebutuhan dan kemampuan seseorang yang kurang memahami bahasa sendiri. Dalam proses penyerapan bahasa, pasti akan timbul perubahan-perubahan. Sebab, tidak ada proses penyerapan yang terjadi secara utuh. Proses penyerapan terjadi dengan beberapa penyesuaian, baik dalam ejaan antarbahasa maupun ucapan.

Dalam hal kosakata, bahasa Indonesia telah banyak menyerap unsur-unsur asing. Beberapa kosakata bahasa Indonesia juga dipengaruhi oleh bahasa asing, seperti bahasa Belanda, bahasa Arab, bahasa Inggris, dan bahasa Sanskerta. Unsur-unsur bahasa asing ini masuk ke Indonesia ketika bangsa Indonesia mengalami kontak budaya dengan bangsa asing. Unsur-unsur asing telah menambah sejumlah besar kata ke dalam bahasa Indonesia. Dengan adanya perkembangan bahasa ini, maka muncullah masalah-masalah kebahasaan. Misalnya, adanya kosakata yang diserap secara utuh dan dengan penyesuaian-penyesuaian, yang ternyata tidak lepas dari permasalahan analogi dan anomali bahasa.

Perspektif Analogi dan Anomali Kata Serapan dalam Bahasa Indonesia

1. Perspektif Analogi

Analogi adalah keteraturan bahasa. Satuan bahasa dikatakan analogis bila satuan tersebut sesuai dengan konvensi-konvensi yang berlaku. Perubahan/penyesuaian yang terjadi dalam kata serapan dapat diketahui dengan membandingkan kata-kata sebelum masuk ke dalam bahasa Indonesia dan setelah masuk ke dalam bahasa Indonesia. Akan tetapi, kata serapan yang dikaitkan dengan analogi bahasa dilakukan dengan membandingkan unsur-unsur intern bahasa penerima pengaruh itu sendiri. Artinya, untuk mengetahui bahwa kata tersebut benar-benar kata serapan, maka perlu dilihat aslinya tanpa harus mengetahui proses perubahan/penyesuaian. Hal yang perlu diingat adalah bagaimana keadaan kata tersebut setelah masuk ke dalam bahasa Indonesia -- sistem fonologi, sistem ejaan, dan struktur bahasa.

1.1 Analogi dalam Sistem Fonologi

Banyak kata serapan yang sesuai dengan sistem dalam bahasa Indonesia, baik melalui proses penyesuaian atau tanpa proses penyesuaian. Contoh:
Aksi - action (Inggris)
Derajat - darrajat (Arab)

Jika dikaitkan dengan kenyataan historis, fonem /kh/ dan /sy/ diakui sebagai fonem lazim dalam sistem fonologi bahasa Indonesia (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1994:15). Namun, bila diselidiki lebih teliti secara historis, kedua fonem ini bukan fonem asli Indonesia. Semua kata yang menggunakan fonem /kh/ dan /sy/ masih bisa dilacak aslinya berasal dari bahasa Arab.

Jika fonem /kh/ dan /sy/ bukan asli Indonesia, maka pada awal munculnya dalam bahasa Indonesia bisa dianggap sebagai gejala penyimpangan/anomalis. Namun, setelah berlangsung lama, disertai frekuensi penggunaannya yang tinggi, maka dianggap sebagai gejala yang analogis. Fonem-fonem lain yang merupakan fonem serapan adalah /f/, /q/, /v/, dan /x/.

1.2 Analogi dalam Sistem Ejaan

Sistem ejaan berhubungan dengan pembakuan. Pembakuan didasarkan pada Ejaan Yang Disempurnakan. Ada pembahasan khusus tentang penulisan unsur serapan (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1994:38). Menurut taraf integrasinya, unsur pinjaman ke dalam bahasa lndonesia dibagi menjadi (1) unsur pinjaman yang belum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa Indonesia. Contoh: reshuffle. (2) Unsur pinjaman yang pengucapan dan penulisannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia -- merupakan analogi bahasa. Contoh: Sentral - central.

2. Perspektif Anomali

Anomali adalah penyimpangan/ketidakteraturan bahasa. Satuan bahasa dikatakan anomalis bila tidak sesuai/menyimpang dengan konvensi-konvensi yang berlaku. Untuk menentukan anomali bahasa pada kata-kata serapan dalam bahasa Indonesia, kita bisa menggunakan cara memperbandingkan unsur intern dari bahasa penerima pengaruh, suatu kata yang tampak sebagai kata serapan dibandingkan atau dilihat dengan kaidah yang berlaku dalam bahasa Indonesia. Apabila kata tersebut tidak memiliki kesesuaian dengan kaidah yang berlaku, maka kata tersebut termasuk anomalis. Kata-kata yang anomalis bisa dalam bentuk fonologi, ejaan, ataupun struktur.

2.1 Anomali dalam Sistem Fonologi

Munculnya anomali dalam fonologi terjadi karena adanya kata asing yang diserap secara utuh ke dalam bahasa Indonesia, tanpa mengalami perubahan penulisan dan bisa dibaca seperti aslinya. Contoh: Export asalnya export; Exodus asalnya exodus.

2.2 Anomali dalam Sistem Ejaan

Semua kata asing yang secara utuh diserap ke dalam bahasa Indonesia, tanpa melalui penyesuaian dengan kaidah di dalam penulisan. Contoh: Bank - bank (Inggris); jum'at - jum'at (Arab).

Selain itu, terdapat pula kata-kata asing yang diserap ke dalam bahasa Indonesia dan ditulis sebagaimana aslinya. Jika termasuk dalam gejala anomalis, kata-kata tersebut tidak menyimpang dari kaidah dalam bahasa Indonesia. Contoh: era - era (Inggris); formal - formal (Inggris).

2.3 Anomali dalam Struktur

Struktur yang dimaksud adalah struktur kata. Kata bisa terdiri dari satu morfem, bisa juga tersusun dari dua morfem atau lebih.

Kata-kata asing yang diserap ke dalam bahasa Indonesia bisa terdiri dari satu morfem, dua morfem atau lebih. Misalnya: federalisme - federalism (Inggris); bilingual - bilingual (Inggris); eksploitasi - exploitation (Inggris).

Proses penyerapan untuk kata-kata tersebut dilakukan secara utuh sebagai satu satuan. Contohnya, kata "Federalisme" tidak diserap secara terpisah yaitu "Federal" dan "isme".

Kata serapan dari bahasa Inggris yang memiliki akhiran "tion", diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi berakhiran "si" karena mengalami penyesuaian. Ternyata hal ini memunculkan masalah kebahasaan, yaitu munculnya akhiran "sasi" yang melekat pada kata-kata yang tidak berasal dari bahasa Inggris, seperti: islamisasi - islam + sasi; kristenisasi - kristen + sasi

Dalam linguistik, proses pembentukan ini disebut "anologi". Istilah anologis wajar digunakan karena menggunakan bentuk yang sesuai dengan bentuk yang telah ada. Maksudnya, penggunaan struktur neonisasi didasarkan pada kata "mekanisasi" dan sejenisnya yang telah ada.

Akhiran "sasi" dalam bahasa Indonesia termasuk gejala anomali bahasa. Mengapa? Karena jika kita bandingkan dengan kaidah gramatikal, khususnya berkaitan dengan struktur morfologi kata, akhiran (sasi) di dalam bahasa Indonesia tidak ada. Hal ini berpotensi memunculkan permasalahan baru, yaitu masalah pengakuan dari para pakar yang memiliki legalitas di dalam bahasa. Akhiran (sasi) merupakan gejala anomali apabila akhiran "sasi" dianggap tidak resmi dalam bahasa Indonesia. Namun, jika akhiran "sasi" bisa diterima sebagai akhiran dalam bahasa Indonesia, maka ada perubahan dari anomali menjadi anologi. Proses penyerapan seperti ini juga terjadi pada bahasa Arab. Contoh: insani - insani; duniawi - dunyawi.

Diringkas dari:

Nama situs : Adinda Perindu Surga
Alamat URL : http://arnisardianti.blogspot.com/2012/12/proses-penyerapan-bhs-asing-ke-dalam.html
Penulis artikel : Adinda Perindu Surga
Tanggal akses : 26 Maret 2015