Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Loading

Panggilan Para Penulis Kristen

Diringkas oleh: Santi T.

Ketika kita bertanya kepada orang-orang di sekitar kita mengenai "literatur Kristen", kita akan cenderung mendapatkan jawaban yang janggal dan terbata-bata mengucapkan daftar kata sifat yang meremehkan.

Meski penulis Kristen yang andal bertambah, respons tersebut menunjukkan bahwa kita, pewaris tradisi Chaucer, Milton, dan Donne; penerus Tolstoy, Dostoyevsky, dan Chekov; keturunan literatur dari G.K. Chesterton dan Dorothy Sayers, J.R.R. Tolkien dan C.S. Lewis, Flannery O'Connor dan Walker Percy, saat ini dipandang sebagai keberadaan yang tidak berkaitan dengan dunia sastra.

Semua nama di atas adalah para penulis besar karena iman Kristen mereka. Mereka sangat menghargai kebaikan yang melekat pada ciptaan Allah, mengetahui konsekuensi dari kejatuhan manusia, menikmati harapan dari kebangkitan Kristus, dan siap untuk menyambut hari penebusan-Nya atas seluruh dunia. Mereka bisa mengombinasikan bakat dengan dorongan kuat untuk bercerita, dan bisa membuat dunia yang tampaknya sia-sia ini menjadi berarti. Karya mereka bisa memberi signifikansi kekal pada hal-hal duniawi dan memberi harapan dengan tidak pernah mengingkari kebenaran hidup yang kejam dan sulit ini -- akibat dosa. Dengan demikian, karya mereka sangat dihargai oleh budaya sastra kita.

Sebagai contoh, Dorothy Sayers mengambil sedikit unsur dari "novel detektif" dan mengubahnya untuk menggambarkan konflik antara dosa dan kebajikan Kristen. Donald Williams, dalam esainya "Christian Poetics, Past and Present", menjelaskan bagaimana penyair bergumul dengan ketegangan antara iman Kristen dan warisan Teutonik. Selain itu, dalam "The Divine Comedy", ia menciptakan gambaran-gambaran konkret yang secara alegoris menerangkan doktrin-doktrin Kristen.

Memahami Kehidupan Melalui Pokok Misteri Kristen

Flannery O'Connor menegaskan bahwa orang Kristen harus menulis untuk membuktikan kebenaran iman. Penulis harus belajar rendah hati dalam menghadapi apa pun. Seorang penulis Kristen harus bisa menciptakan tokoh, tindakan dan dialog, dan menyusun tempat yang mirip seperti tempat-tempat yang kita tahu. Bukan malah mengembangkan teori abstrak atau menyamarkan esai. Ia mengeluh bahwa penulis Kristen cenderung peduli dengan "ide-ide dan emosi yang tidak manusiawi". O'Connor menjelaskan bahwa kita harus memandang kehidupan dari "sudut pandang pokok misteri Kristen, yaitu bahwa karena semua kengeriannya, maka Allah menganggapnya layak untuk mati baginya". Ia mengetahui hal ini ketika ia memahami dan menerapkannya -- visi penulis diperluas. Itu adalah penyelidikan yang terinspirasi. Artinya, tidak ada yang terlarang, bahwa segala sesuatu -- terlepas dari betapa pun biasa/umumnya -- adalah penting.

O'Connor adalah seorang Kristen. Ia peduli akan panggilannya, ia peduli terhadap kualitas. Ketika ia diberi tahu bahwa umat Katolik yang baik tidak bisa menjadi seniman yang baik karena mereka bertanggung jawab untuk memberitakan Injil, ia menjawab bahwa "Karena saya seorang Katolik, maka saya tidak boleh menjadi kurang dari seorang seniman".

Sebuah Imajinasi Diangkat Tinggi oleh Injil

Banyak orang menyukai fantasi dari karya C.S. Lewis dan O'Connor. Dalam biografi "Jack: A Life of C.S. Lewis", George Sayer mengatakan bahwa Lewis memiliki momen berharga ketika ia menyadari pencampuran hal supranatural dalam dunia kerja yang biasa. Momen-momen berharga ini ia tuangkan dalam ceritanya sehingga memberikan "sebuah rasa yang lain" bagi pembaca, misalnya "The Chronicles of Narnia", salah satu dongeng karya Lewis. Saat menulis dongeng ini, Lewis tidak memiliki agenda teologis atau motif penginjilan. Ia hanya menulis cerita yang menyenangkan. Namun, pembaca memiliki pandangan yang berbeda terhadap cerita ini. Bede Griffiths, seorang biarawan (almarhum), pernah berkata, "Sosok Aslan memberi tahu kita lebih banyak tentang bagaimana Lewis memahami sifat Allah dari apa pun yang pernah ia tulis. Ia memiliki semua kekuatan tersembunyi dari keagungan dan kedahsyatan yang Lewis kaitkan dengan Allah, tetapi juga semua kemuliaan dan kelembutan, dan bahkan humor yang ia percaya dimiliki oleh-Nya sehingga anak-anak bisa berlari menghampiri-Nya dan tangan mereka merangkul-Nya serta mencium-Nya. Tidak ada 'imajinasi gelap' atau ketakutan Iblis dan neraka dalam hal ini." Ia tidak menyelundupkan teologi Kristen ke dalam pikiran pembaca muda. Hal itu merembes masuk begitu saja.

Cerita "The Chronicles of Narnia" (1950 -- 1956) merupakan produk dari pikiran yang mendalami Kitab Suci dan buah dari imajinasi yang diangkat tinggi dengan ajaran kristiani. Lewis dan temannya J.R.R. Tolkien, penulis "Lord of the Rings", telah membuat jutaan orang terpesona dengan cerita-cerita yang penuh keajaiban dan mendalam dari Alkitab.

Seni yang Dibentuk di Dalam Pemikiran Kristen Adalah Berbeda

Pada tahun 1974, di Art and Scholasticism, Jacques Maritain, filsuf Katolik, mengatakan, "seni Kristen didefinisikan oleh orang yang ada di dalamnya dan oleh semangat dari mana itu muncul". Jika Anda ingin membuat seni Kristen, cukuplah menjadi seorang Kristen dan "... buatlah karya yang indah". Seni yang dibentuk dalam pikiran Kristen berbeda dengan seni yang tidak dibentuk dalam pikiran Kristen.

Marilynne Robinson: Hanya Ada Rasa Hormat untuk Seorang Penulis Besar

Setiap penulis besar Kristen abad lalu, seperti O'Connor, Percy, Graham Greene, dan Wendell Berry, mereka berbakat dan memiliki suara yang berpengaruh dalam budaya yang lebih luas. Berry, di pertengahan tahun tujuh puluhan, masih menulis dan berbicara tentang isu-isu lingkungan dan pertanian. John Grisham, Jan Karon, Bret Lott, dan Marilynne Robinson juga melakukannya. Ketika Robinson berbicara tentang iman dan panggilan melalui karyanya, ia menggemakan suara mereka yang telah ada sebelum dia. Dalam sebuah diskusi dengan Katherine Lanpher, pewawancara Barnes & Noble, ia mengatakan bahwa ada (arus bawah) teologis untuk semua yang saya tulis. "Saya tidak pernah mendapati mereka tidak sesuai ...." Sembari teringat akan O'Connor dan Percy, ia berkata, "Bagi saya, pola pikir agama menciptakan kebiasaan penyelidikan yang relatif saksama terhadap hampir segala sesuatu .... Semuanya memiliki makna religius." Dari Robinson, di seluruh percakapan, tidak ada satu suku kata defensif; tidak ada kecanggungan, tidak perlu menghindar dari apa pun yang ia percaya. Dan, dari Lanpher, hanya ada rasa hormat bagi seorang penulis besar.

Lebih dari 1.600 tahun yang lalu, Agustinus berpendapat bahwa orang Kristen tidak hanya memiliki hak untuk menggunakan "seni retorika", tetapi juga memiliki kewajiban untuk itu. Meskipun kadang-kadang skeptis dengan sastra, ia mengakui bahwa orang Kristen, jika mereka meninggalkan bidang tersebut, itu berarti membiarkannya terbuka untuk "orang-orang yang menguraikan dusta". (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dan diringkas dari:

Nama situs : CBN
Alamat URL : http://www1.cbn.com/biblestudy/the-calling-of-christian-writers
Judul asli artikel : The Calling of Christian Writers
Penulis artikel : Richard Doster
Tanggal akses : 9 Mei 2016