Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Loading

Panggilan Kudus Menulis: Apakah Anda Dipanggil untuk Menulis?

Bagaimana Anda tahu jika Anda benar-benar telah dipanggil oleh Allah untuk menulis? Izinkan saya menyodorkan tiga tanda yang menandai kehidupan dari seseorang yang memiliki panggilan ini:

1. Orang yang memiliki pengetahuan telah menegaskan karunia dan kemampuan kita.

Kita biasanya menyadari karunia rohani kita karena orang percaya lainnya telah menegaskan karunia yang ada di dalam diri kita. Saya tidak mengatakan bahwa menulis adalah mutlak merupakan karunia rohani, tetapi jika kita memiliki karunia rohani mengajar atau penginjilan atau membantu orang lain melalui tulisan kita, orang-orang percaya lainnya akan sering mengatakan bahwa mereka melihat karunia tersebut di dalam kita. Kita juga akan menerima penegasan akan kemampuan menulis kita dari instruktur penulis, sesama penulis, pembaca, editor yang menghargai pekerjaan kita, dan sebagainya.

2. Kita memiliki kebutuhan yang tak terpadamkan untuk menulis.

Kita tidak bisa menahan diri dari menulis. Kita harus menulis. Ketika kita tidak sedang menulis, kita berpikir tentang menulis dan berharap kita sedang menulis. Ini tidak berarti kita selalu merasa terinspirasi dan siap untuk menulis. Namun, orang yang merasa terpanggil untuk menulis ingin menulis bahkan selama serangan blok penulis. Bahkan, saat-saat ketika kita tidak dapat menulis, menjadi waktu yang penuh penderitaan dan kesusahan spiritual bagi mereka yang benar-benar terpanggil untuk menulis.

3. Kita memandang kegiatan menulis sebagai bentuk ketaatan kepada Allah.

Kita tidak menulis dari keinginan untuk kekayaan atau ketenaran atau untuk memuaskan ego kita sendiri. Kita menulis untuk melayani-Nya. Dan, jika kita tidak menulis, kita akan merasa kita tidak menaati-Nya.

Novelis Kristen dan agen sastra Terry Burns mengatakannya seperti ini: "Allahlah yang memulai jika kita benar-benar dipanggil untuk menulis. Jika Dia melakukannya, menulis menjadi sebuah penugasan -- sebuah kewajiban -- dan kita harus menyadari bahwa Tuhan selalu menyelesaikan apa yang telah dimulai-Nya."

Penulis yang dipanggil untuk menulis akan merasa puas dengan hanya melakukan atau mengerjakan yang terbaik, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah. Karier penulis ada di tangan Tuhan. Angka penjualan berada di tangan Tuhan. Peringkat di Amazon.com berada di tangan Tuhan. Penghargaan ada di tangan Tuhan.

Di atas semua itu, penulis yang dipanggil untuk menulis tidak membandingkan dirinya dengan satu pun penulis lain. Ingat dalam bagaimana, pada ayat penutup Injil Yohanes, Petrus menunjuk Yohanes dan berkata, "Ketika melihat dia, Petrus bertanya kepada Yesus, 'Tuhan, bagaimana dengan dia?' Yesus menjawab, "... itu bukan urusanmu. Tetapi kamu, ikutlah Aku!" (lihat Yohanes 21:21-22, AYT).

Jika Anda memandang menulis sebagai panggilan kudus, hidup Anda akan ditandai dengan dua kualitas: antusiasme dan inspirasi. Kata benda Inggris untuk antusiasme berasal dari Entheos, yaitu kata sifat Yunani yang berarti "Di dalam Tuhan" (dari en, "dalam", dan theos, "Tuhan"). Ketika Anda dipanggil oleh Allah untuk menulis, Anda memiliki perasaan bahwa Allah hidup dan bekerja melalui Anda, dan setiap tindakan kreatif yang Anda lakukan adalah peniruan penuh kasih dari sifat dan kegiatan Allah Sang Pencipta.

Kata "inspirasi" juga mengandung implikasi spiritual yang kuat. Kata ini berasal dari kata Latin "inspirare", yang berarti "untuk bernapas dalam, atau mengisi dengan napas atau roh" (dari dalam, "menjadi", dan spirare, "bernapas"). Kita mendapatkan kata Inggris dari "roh" (spirit - Red.) (atau Roh, sebagai nama yang tepat untuk Roh Kudus Allah) dari kata Latin "spirare", karena orang-orang dahulu percaya bahwa napas adalah roh seseorang; ketika napas pergi pada saat kematian, roh pun pergi.

Terinspirasi berarti hidup sepenuhnya. Sebagai seorang novelis Kristen, Carol Gift Page suatu kali pernah berkata (memparafrasekan atlet dan misionaris Eric Liddel), "Ketika saya menulis, saya merasakan kesenangan Allah." Ini tidak berarti Anda harus berharap untuk terus merasa terinspirasi dan antusias. Perasaan berjalan naik dan turun, tetapi panggilan dari Allah tetap selamanya. Ketika perasaan berkurang, percayalah pada panggilan Anda. Percayalah pada Satu Pribadi yang selalu menyelesaikan apa yang telah dimulai-Nya.

Agen sastra Kristen, Rachelle Gardner, dari Book and Such Literary Agency bercerita tentang pertemuan dengan seorang teman penulis saat makan siang. Teman Gardner sedang melalui perjuangan yang sulit dalam karier menulisnya. Dia berkata, "Saya mulai mempertanyakan apakah ini benar-benar panggilan saya. Dalam beberapa saat ini, menulis tidak terlalu menyenangkan."

"Hmm," kata Gardner. "Apakah pernikahan Anda menyenangkan setiap hari?"

Penulis itu harus mengakui ada saat-saat pernikahannya tidak menyenangkan.

"Ketika itu tidak menyenangkan, apakah Anda mempertanyakan pernikahan? Apakah Anda mempertimbangkan perceraian?"

Penulis itu memutar bola matanya. "Tentu saja tidak."

"Setiap kali Anda mengalami suatu pertengkaran, seluruh pernikahan tidak menjadi berantakan. Dan, setiap kali Anda memiliki hari menulis yang buruk, Anda tidak harus mempertanyakan panggilan Anda."

Namun, si penulis itu membalas, "Tidakkah Tuhan memberi kita semangat untuk panggilan kita?"

Gardner berkata, "Apakah Anda merasa bergairah kepada suami Anda setiap hari?"

Penulis itu pun mengerti maksudnya.

"Anda dipanggil untuk menjadi penulis," Rachelle Gardner menyimpulkan, "adalah hal yang lebih besar dari perasaan yang berubah sesuai dengan pergerakan angin. Setelah Anda memutuskan bahwa itu adalah hal yang seharusnya Anda lakukan, Anda harus menghindar dari menggunakan setiap hambatan sebagai alasan untuk mempertanyakan hal itu. Sebaliknya, lihatlah apakah panggilan Anda mendapat penguatan/penegasan."[1]

Jika Allah memanggil Anda untuk menulis, menulislah. Patuhi panggilan Anda! Bersukacitalah dalam kekekalan dari pekerjaan penting yang telah Allah berikan untuk Anda lakukan.

Anda diberkati dengan sebuah tujuan. Anda memiliki panggilan kudus. Anda seorang penulis. (t/N. Risanti)

1. Rachelle Gardner, "Called to Write", RachelleGardner.com, November 28, 2011, http://www.rachellegardner.com/2011/11/called-to-write/. Beberapa dialog telah diringkas atau diparafrasekan dari blog aslinya.

Diterjemahkan dari:

Nama situs : Inspire Christian Writers
Alamat URL : http://www.inspirewriters.com/the-holy-call-of-writing-are-you-called-to-write/
Judul asli artikel : The Holy Call of Writing: Are You Called to Write?
Penulis artikel : Jim Denney
Tanggal akses : 14 Juli 2016