Nasionalisasi Singkatan

Akhirnya, semak hati (bingung, -red.) [saya] menjumpai dan membaca naskah dengan judul bermuatan singkatan asing seperti "CPO", "CSR", dan "MDGs" kiriman penulis artikel untuk diterbitkan di koran. Inilah bukti bahwa dengan satu gerak globalisasi, bahasa Indonesia bertarung dengan bahasa Inggris. Bertarung bukan dalam medan bahasa, melainkan dalam modal, perbankan, perdagangan, komunikasi, komputer, perdapuran, dan lain-lain. Di situ, bahasa dipertaruhkan.

Singkatan-singkatan itu masuk ke segenap relung perbincangan dengan kecepatan tsunami di Aceh. Para ahli kita terhanyut oleh kemalasan menunaikan semacam nasionalisasi demi kejernihan makna bawaannya ke dalam bahasa sendiri, bahkan untuk ranah keahlian masing-masing.

Harus diakui, percumalah mengindonesiakan "ATM" dan "SMS". Kedua makhluk dari lingkup perbankan dan komunikasi ini telah menyebar dengan laju tak terbendung dari Glodok hingga pelosok, dari rangkaya sampai paria, dari yang ningrat ke yang melarat. Dua-duanya menjadi generik dalam beragam bahasa anak segala bangsa. Semujur "WC" pendahulunya, "ATM" dan "SMS" langsung dilantik sebagai lema dalam kamus ekabahasa Inggris mutakhir. Tak banyak singkatan mendapat kehormatan diperlakukan sebagai kata.

Akan tetapi, apa perlunya mempertahankan "CPO", "CSR", "MDGs", dan seterusnya dalam teks Indonesia? Bertambahkah wibawa secarik tulisan hanya dengan gincu semacam itu?

Hampir semua penulis artikel yang mengaku sebagai doktor pertanian melumuri naskahnya dengan "CPO" ketika membahas kelapa sawit. Bayangkan, minyak sawit mentah yang tersua di kilang-kilang seantero dunia sebagian besar berpaspor Indonesia, tetapi di tangan sarjana pertanian kita selalu ditulis sebagai "crude palm oil" -— digenapi dengan singkatan "CPO" -- bukan "minyak sawit mentah" atau "MSM". "Crude palm oil" bukanlah rangkaian kata pembentuk idiom. Tak sulit mengalihkan kata demi kata Inggris itu ke dalam kata demi kata Indonesia. Kamus Inggris-Indonesia John M. Echols dan Hassan Shadily memadankan "crude oil" dengan "minyak mentah", "palm oil" dengan "minyak sawit".

Asal tahu saja, "CPO" tidak serta-merta "crude palm oil". The Free Dictionary (FARLEX) mendaftarkan paling tidak 71 singkatan "CPO" yang dikenal setakat ini: Chief Petty Officer, certified pre-owned, compulsory purchase order, civilian personnel online, Central Police Office, cost per output, dan seterusnya. "CPO" bukan singkatan sakral yang tak boleh dialihkan ke bahasa lain.

Istilah "corporate social responsibility" mulai dikenal pada akhir 1960-an ketika perusahaan multinasional bertumbuh di negara-negara maju, tetapi baru menyerbu teks-teks berbahasa Indonesia sebagai "CSR" sejak 2004. Di harian ini (KOMPAS, -red.), sang pemulanya adalah seorang ekonom pada artikelnya dalam edisi 21 Agustus 2004: "Bagi bisnis modern, isu tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR) adalah bagian amat penting yang tidak boleh diabaikan. Hampir di seluruh laporan tahunan (annual report) perusahaan-perusahaan besar, program CSR selalu terpampang rapi dan mengesankan."

Sulitkah mengganti "CSR" dengan TJSP, MDGs dengan SPM, dan seterusnya? Tak usah berharap ekonom dan fisikawan kita dianugerahi Nobel.

Dengan menggarap nasionalisasi istilah untuk bidang masing-masing, ilmuwan kita sebetulnya menimbun harta tak ternilai dalam usaha mengungkapkan gagasan dan konsep pengetahuan ke dalam bahasa persatuan ini.

Diambil dan disunting dari:

Nama situs : Rubrik Bahasa
Alamat URL : http://rubrikbahasa.wordpress.com
Penulis : Salomo Simanungkalit
Tanggal akses : 7 November 2013