Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Nathaniel Hawthorne

Nathaniel Hawthorne

Keturunan sebuah keluarga New England yang telah lama menetap di Massachusetts sejak 1630, Nathaniel Hawthorne lahir di Salem, Massachusetts. Buku pertamanya, Fanshawe (1828), merupakan cerita roman yang dibuat berdasarkan tahun-tahun hidupnya di Bowdoin College. Cerita pendeknya dikumpulkan dan diterbitkan dalam Twice-Told Tales (1837), hanya setelah Horatio Bridge menjamin bahwa penerbit tidak akan kehilangan uang dengan menerbitkan volumenya. Buku-buku tersebut hanya menarik sedikit perhatian.

Pada 1852, kumpulan cerita berjudul The Snow Image dan narasi sepanjang buku The Blithedale Romance diterbitkan, yang kemudian diperdagangkan dalam format fiksi.

Gambar: Nathaniel

Kenangan dan kesan Hawthorne mengenai Brook Farm

Pada tahun yang sama, dia menulis satu kampanye biografi tentang mantan koleganya di perguruan tinggi, Franklin Pierce. Ketika Pierce terpilih sebagai presiden, dia menunjuk Hawthorne menjadi konsul di Liverpool (1853 -- 1857). Antara tahun 1857 dan 1860, sang penulis beserta keluarganya menempuh perjalanan di Italia dan akhirnya menetap di Inggris. Perjalanannya di Italia menjadi pelengkap detail cerita yang ditulis dalam The Marble Faun (1860). Pada tahun ini, novel tersebut diterbitkan. Hawthorne dan keluarganya kembali ke The Wayside di Concord. Hawthorne meninggal di Plymouth, New Hampshire, dalam suatu perjalanan dengan mantan Presiden Pierce.

Dalam kisah dan novel karya Hawthorne, nilai pentingnya adalah tema dan teknik. Sering kali, satu tema yang ditekankan adalah ketidakinginan tentang isolasi masing-masing individu dari pengikutnya. Tema ini, seperti halnya tema-tema lain, didasarkan pada keyakinan yang diperoleh dari pengalaman Hawthorne sendiri. Minat Hawthorne lainnya yang tergolong penting dalam fiksinya adalah sifat-sifat dosa dan pertobatan.

Selama periode ketika banyak intelektual New England merupakan kaum Unitarian atau Transcendentalist, Hawthorne cenderung menemukan kebenaran dalam keyakinan yang banyak ditolak pada zamannya; yakni keyakinan dari nenek moyangnya yang tergolong kaum Puritan. Meskipun tidak secara resmi beralih ke Calvinisme, penulis ini, Prof. Herbert W. Scheneider, memberi komentar dalam The Puritan Mind, "Dengan melihat kebenaran empiris di belakang simbol Calvinis, ia menemukan apa yang dinyatakan Puritan, tetapi jarang dipraktikkan, yakni semangat kealiman, kerendahan hati, dan tragedi di wajah jalan Tuhan yang tidak terduga." Karena itu, dalam The Minister's Black Veil, Young Goodman Brown, dan kisah lain, Hawthorne menceritakan kebejatan umat manusia yang bersifat universal. Dalam The Scarlet Letter, diceritakan tentang kebutuhan orang berdosa akan penebusan dosa dan penyesalan; dalam The Marble Faun, dibahas tentang asal usul dosa; dan dalam narasi lain, tentang aspek dosa dan penebusannya.

Dalam pengembangan temanya, Hawthorne menumbuhkan suatu teknik yang unik. Sebagai anak laki-laki, ia telah berkenalan dengan tulisan dari sebagian besar kaum allegorists (orang yang menggunakan kiasan) yang agung. Berdasarkan metodenya tentang usul yang berasal dari pembacanya, ia meletakkan kisahnya, seperti yang ia katakan, "Dalam sebuah wilayah netral, di suatu tempat di antara dunia nyata dan negeri dongeng, tempat Yang Nyata dan Yang Khayal mungkin bertemu dan masing-masing mengilhami dirinya sendiri satu sama lain."

Diambil dari:
Judul buku : Pustaka Pintar 100 Penulis yang Membentuk Sejarah Dunia
Editor : Karyani
Penerbit : Progres, Jakarta 2005
Halaman : 85 -- 87