Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Loading

Menulis Natal untuk Era Digital

Ditulis oleh: Berlin B.

Saat Natal menjelang, kita seolah merasakan suasana damai yang sedang mendekat. Untuk menyambutnya, kita merencanakan atau mengharapkan suatu pengalaman baru selama Natal. Hal itu mungkin berupa pertemuan dengan keluarga besar, melakukan retret keluarga, berbagi sukacita bersama para pemulung, menceritakan kisah-kisah Natal kepada anak-anak jalanan, dsb.. Banyak hal bisa kita kerjakan untuk merayakan dan memaknai Natal dalam hidup kita. Bagaimana dengan seorang penulis?

Entah apa ungkapan yang lebih tepat, tetapi seorang penulis seolah dikaruniai kemampuan khusus untuk melihat hal-hal secara berbeda dan dari berbagai sudut pandang. Itulah bekal yang memampukannya mengubah hal atau peristiwa sederhana menjadi sebuah mahakarya. Momen semeriah dan sekhidmat Natal tentu juga tidak akan luput dari pengamatan seorang penulis. Bagi seorang penulis, ini merupakan momen saat sumur ide membual tanpa perlu menimbanya. Yang menjadi masalah adalah bagaimana penulis akan mengemas setiap ide yang muncul sebelum, selama, dan sesudah Natal. Selama ini, kita mungkin mengabadikan cerita, pengalaman, dan pelajaran Natal dengan menulisnya dalam bentuk renungan pribadi, cerita pendek, atau naskah drama untuk dimainkan di gereja masing-masing. Bagaimana jika penulis menambahnya dengan cara-cara baru? Mungkin beberapa ide berikut ini dapat menginspirasi para penulis untuk memaksimalkan karyanya.

Dalam perkembangan teknologi yang semakin pesat, opsi distribusi dan format karya para penulis pun semakin diperluas. Saat ini, teknologi memungkinkan kita untuk mendistribusikan karya bukan hanya di gereja lokal atau penerbit Kristen, melainkan juga di situs/blog pribadi, di media sosial, YouTube, Slideshare, dan sebagainya. Pada satu sisi, ini berarti jangkauan penikmat karya tulisan kita akan semakin luas. Karya kita tidak hanya dinikmati oleh orang-orang yang kita kenal saja, tetapi juga mereka yang bahkan kita belum pernah bertemu atau mengenalnya. Namun, pada sisi lain, itu juga berarti bahwa penulis zaman ini paling tidak harus bersedia memikirkan cara mengemas karya mereka dalam format-format yang lain. Ini akan menuntut penulis, terutama mereka yang masuk ke dalam kategori kaum "digital immigrant" (orang-orang yang lahir sebelum tahun 2000 -- lawan dari digital native), untuk mempelajari hal-hal baru yang berkaitan dengan teknologi saat ini.

Seperti diketahui, era "classic writing" sepertinya telah digeser oleh era "digital writing". Classic writing identik dengan tumpahan ide/informasi dalam format teks yang panjang, yang ditulis oleh seseorang yang memiliki kemampuan kebahasaan yang baik. Sementara itu, digital writing merupakan tumpahan ide/informasi yang singkat dalam berbagai format: teks dan multimedia seperti gambar, video, dan audio. Karena itu, era digital writing tidak "dikuasai" oleh mereka yang memiliki kemampuan bahasa yang baik saja. Mungkin bisa dikatakan semua orang bisa menjadi penulis pada era ini. Lihat saja bagaimana remaja sekarang memasang status mereka di media sosial hampir setiap hari. Itu merupakan ide atau informasi yang mereka sampaikan dalam satu atau dua kalimat/paragraf. Suka tidak suka, itu merupakan gaya baru dalam menyampaikan informasi pada zaman ini. Beberapa penulis mungkin enggan untuk meninggalkan zona nyaman mereka untuk membaur ke era kepenulisan yang baru ini, tetapi biasanya, penulis yang tetap lestari adalah penulis yang beradaptasi.

Kembali ke semangat menyambut Natal tadi. Saat ini, Anda mungkin telah mengantongi sejumlah gagasan untuk menyambut Natal. Sebelum menerapkan gagasan tersebut, mungkin Anda perlu melihatnya kembali apakah (satu) gagasan tersebut dapat dikemas dalam berbagai bentuk (format) sehingga dapat dimanfaatkan oleh lebih banyak orang. Misalnya, Anda ingin menulis naskah drama Natal. Ada berbagai format yang bisa Anda manfaatkan, antara lain:

1. Video

Selain menulis naskahnya, Anda bisa membuat rekaman videonya untuk dipasang di situs seperti YouTube. Karya Anda tidak hanya akan dinikmati oleh banyak orang, tetapi juga akan mendapatkan respons dari mereka. Hal ini akan bermanfaat untuk perbaikan karya-karya Anda selanjutnya.

2. Audio

Anda bisa membaca naskah dan merekamnya sehingga menjadi audio untuk ditawarkan ke radio-radio Kristen, atau dikompilasi dengan cerita audio Natal lainnya ke dalam satu CD dan dibagikan ke teman-teman atau gereja-gereja.

3. Video Slideshow

Anda bisa meringkas tulisan Anda dan membuatnya sebagai alat bantu cerita ke anak-anak sekolah minggu, atau untuk diunggah dalam format video slideshow. Sebagian orang tidak menyukai teks yang panjang. Mereka lebih senang mendapatkan poin-poin ringkas yang lebih mudah diingat, dan biasanya cerita yang disertai dengan visualisasi akan lebih diingat seseorang.

4. Blog/Situs/Media Sosial/Aplikasi Seluler

Kalau Anda hanya berencana merayakan Natal bersama keluarga di rumah, Anda bisa merangkum yang Anda lakukan bersama keluarga dan membagikan pelajarannya di blog/situs pribadi Anda, memasangnya di media sosial Anda, mengirimkannya ke grup-grup aplikasi semacam WhatApps, Line, BBM, dsb., atau mengirimkannya via email ke teman-teman Anda. Bahkan, Anda dapat membuat video inspiratif singkat dari pelajaran tersebut dan mengunggahnya di situs-situs sosial media.

Pada intinya, ide apa pun yang telah Anda miliki, upayakanlah itu untuk dapat dikemas dalam berbagai format. Dengan kata lain, Anda menciptakan karya sekali, tetapi mendistribusikannya ke mana pun (create once, distribute everywhere). Dengan mengemasnya dalam berbagai format, "bingkisan Natal" Anda akan lebih dapat dinikmati oleh semua kalangan usia.

Jika kita mengemas karya dalam berbagai format, sisi positif lain yang bisa kita sumbangkan adalah kita berkontribusi dalam memenuhi dunia maya dengan bahan-bahan bernilai kekristenan. Saat ini, tempat baru yang paling banyak menerima pengunjung adalah "dunia maya". Tengok saja apa yang dilakukan anak-anak sekolah saat mendapat tugas dari sekolah. Mereka berselancar di internet untuk mendapatkan informasi yang berkaitan dengan tugas mereka. Apa yang dilakukan orang saat bercengkerama di warung, saat bepergian dengan angkutan umum, saat waktu senggang di rumah, bahkan saat mendengarkan khotbah di gereja? Mereka asyik menggunakan gawai untuk mengeksplorasi dunia maya. Kita tidak pernah tahu kapan atau bagaimana mereka yang berselancar di dunia maya itu akan menemukan bahan-bahan kekristenan yang sebenarnya mereka butuhkan meskipun mereka tidak berniat mencarinya. Beberapa orang mengatakan itu sebagai kebetulan, tetapi orang Kristen menyakini bahwa itu rencana Tuhan. Jika dunia maya itu kita penuhi dengan bahan-bahan yang bernilai kristiani, peluang untuk mereka yang belum mengenal Tuhan untuk mendapatkan sarana pengenalan kepada Tuhan semakin besar. Mari menulis untuk mengenalkan dan memuliakan Tuhan.

Sumber bacaan:
Yayasan Lembaga SABDA. 2015. "Berekspresi di Era Digital Final".
Dalam http://www.slideshare.net/sabda/berekspresi-di-era-digital-final