Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PELITAKU

Loading

Menulis Adaptasi

Oleh: Yudo

Kita tentu pernah mendengar istilah "adaptasi". Secara umum, adaptasi didefinisikan sebagai proses penyesuaian terhadap suatu lingkungan yang baru. Namun, tak hanya dalam bidang biologi, istilah adaptasi juga sering dipakai dalam bidang literatur.

Apa itu adaptasi literatur?

Dalam dunia literatur, adaptasi sering kali dimengerti sebagai suatu proses "penerjemahan" suatu karya literatur ke dalam media yang berbeda, seperti drama atau film. Akan tetapi, tak menutup kemungkinan bahwa adaptasi juga dapat dilakukan ke dalam media yang sama, seperti dari novel ke novel. Meskipun novel adalah karya literatur yang paling sering diadaptasi, bentuk-bentuk literatur lain seperti puisi, autobiografi, jurnal, buku harian, maupun catatan sejarah juga dapat menjadi karya yang menjadi sumber bagi sebuah adaptasi.

Sejak kapan teknik ini digunakan?

Teknik adaptasi bukanlah hal yang baru dalam sejarah literatur. Teknik ini bahkan digunakan oleh penulis legendaris seperti William Shakespeare untuk menulis beberapa karyanya yang terkenal. Misalnya saja "Romeo and Juliet", kisah tragis tentang cinta terlarang yang ditulis oleh Shakespeare kira-kira tahun 1595 itu diadaptasi dari salah satu novela karya seorang penulis Italia bernama Matteo Bandello. Tak hanya itu, "Romeo and Juliet" ternyata juga memuat ide-ide yang terdapat pada puisi yang ditulis oleh Publius Ovidius Naso (lebih dikenal sebagai Ovid), seorang penyair Roma yang hidup pada tahun 43 sM -- 18 M.

Seberapa jauh sebuah karya dapat disebut sebagai adaptasi?

Secara umum, sebuah karya adaptasi dinilai berdasarkan skala kesetiaannya terhadap karya sumber; mulai dari adaptasi yang setia hingga adaptasi bebas (loose adaptation). Adaptasi yang setia biasanya berusaha menerjemahkan sebagian besar ide, inti kisah, tokoh, dan nuansa yang dibangun oleh pencipta karya sumber. Sebaliknya, adaptasi bebas hanya mengambil ide utama dari karya sumber, sedangkan detail-detailnya tidak menjadi perhatian utama.

Pernah menonton "The Hobbit"? Film layar lebar yang disutradarai Peter Jackson itu dapat dinilai sebagai sebuah film adaptasi yang cukup setia terhadap karya sumbernya karena sang sutradara dan penulis naskahnya mempertahankan tak hanya ide utama, tetapi juga penamaan tokoh-tokoh, latar belakang, dan banyak lagi detail kecil lainnya. Namun, bagi mereka yang pernah membaca prekuel "The Lord of the Rings" ini tentu dapat menunjukkan adanya perbedaan-perbedaan dengan yang ada di novelnya. Misalnya saja, kemunculan Frodo di awal film dan munculnya Radagast, si Penyihir Coklat, yang bertemu bahkan berinteraksi dengan kelompok tokoh utama, hal-hal itu sama sekali tidak terdapat dalam novelnya. Perbedaan-perbedaan itu bisa jadi karena interpretasi sang sutradara dan penulis naskahnya terhadap karya sumber, tetapi juga karena struktur novel dan film yang berbeda sehingga harus terjadi penyesuaian di sana-sini agar karya adaptasi itu bisa memberikan efek yang diinginkan oleh pembuatnya.

Contoh adaptasi bebas/"loose adaptation" bisa kita temukan dalam film animasi "The Lion King". Film animasi yang bercerita tentang petualangan singa kecil bernama Simba itu ternyata mengadaptasi drama "Hamlet" karya Shakespeare. Inti kisah "Hamlet" yang menceritakan tentang perjuangan sang pangeran Denmark yang menuntut balas atas kudeta yang dilakukan pamannya sendiri itu, ditiru dan disesuaikan oleh Disney sehingga layak dikonsumsi oleh target penontonnya. Akhir, kisahnya pun sangat berbeda. Dalam "Hamlet", sang tokoh utama dan kekasihnya tewas walaupun usahanya untuk menggulingkan pemerintahan pamannya tercapai. Namun, dalam "The Lion King", Simba justru hidup, bersatu dengan kekasihnya, dan menjadi raja yang arif menggantikan pemerintahan Scar, pamannya yang kejam.

Apa kriteria karya adaptasi yang baik?

Sebelum memberi kriteria adaptasi yang baik, kita harus benar-benar memahami bahwa dalam proses mengadaptasi suatu karya, bukan berarti menyalinnya. Dalam proses adaptasi, imajinasi dan ide-ide orisinal orang yang mengadaptasi juga ikut berperan. Itu juga berarti tidak menelan mentah-mentah ide orang lain dan kisahnya, tetapi berusaha untuk mengolah ide itu menjadi suatu karya yang segar.

Kesetiaan terhadap karya sumber tidak melulu menjadi standar untuk dapat menilai baik/buruk sebuah karya adaptasi. Jika adaptasi suatu karya harus benar-benar setia, ada banyak aspek yang akan terlihat dipaksakan dalam media yang lain. Sekali lagi, struktur karya adaptasi dan karya sumbernya bisa saja sangat berbeda (seperti film dan novel) karena itu membutuhkan penyesuaian dalam berbagai hal. Sebuah karya adaptasi dapat juga dinilai dari upaya pembuatnya untuk berimprovisasi dan mengembangkan kemungkinan-kemungkinan yang hanya terlihat sedikit atau sekilas saja dalam karya sumbernya. Intinya, selama ide utama dari karya sumber juga menjadi ide utama dalam karya adaptasi, karya adaptasi itu masih bisa diterima.

Bagaimana etika adaptasi yang benar?

Kita juga harus bisa membedakan antara membuat adaptasi dan menulis kisah yang terinspirasi dari suatu sumber atau bahan. Dalam adaptasi, setidaknya kita harus mencantumkan bahwa karya kita adalah sebuah upaya adaptasi dari suatu karya orang lain. Berbeda dengan kisah yang terinspirasi dari karya atau peristiwa nyata, membuat adaptasi berarti kita menulis berdasarkan karya dan ide orang lain. Dalam skala kecil, seperti untuk menulis di majalah dinding, kita bisa saja lolos (walau tetap saja ada konsekuensi moral jika ketahuan). Namun, jangan sekali-kali menerbitkan karya adaptasi tanpa mencantumkan karya sumber yang kita pakai sebab cepat atau lambat, pasti akan ada orang yang menyadarinya dan membuat tuntutan atas tindakan kita yang tidak bertanggung jawab itu.

Sumber bacaan:

  1. Akin, Jimmy. 2009. "What is a Good Adaptation?". Dalam http://jimmyakin.com/2009/03/what-is-a-good-adaptation.html

  2. Writing Studio, The. 2012. "The Art of Adaptation: To adapt or not to adapt". Dalam http://www.writingstudio.co.za/page62.html

  3. Munso, Dany. 2013. "Adapt to Survive: Writers and adaptations". Dalam http://www.moviescopemag.com/24-fps/adapt-to-survive/